Thursday, 15 December 2016

Kekerasan Simbolik

Menurut Bordieu, hirarki sosial saat ini dan ketidaksetaraan sosial, juga suffering yang dialami masyarakat, diciptakan dan dipertahankan melalui bentuk dominasi simbolik daripada tekanan fisik. Dominasi-dominasi itulah yang kemudian disebut Kekerasan Simbolik. Gagasan tentang kekerasan simbolik tidak bisa lepas dari bahasa. Bordieu melihat bahwa bahasa adalah sebuah instrumen kekuasaan dan perbuatan seperti fungsinya sebagai alat komunikasi. Bahasa itu sendiri adalah bentuk dominasi. Analisis Bordieu tentang masyarakat berfokus pada proses klasifikasi dan dominasi. Dia berpendapat bahwa kategorisasi membuat dan mengatur kehidupan, bahkan mengatur orang dengannya. Hirarki dan dan sistem dominasi kemudian direproduksi terhadap sejauh mana para dominan dan yang didominasi meyakini sistem tersebut untuk disahkan dan kemudian berfikir dan bertindak sesuai dengan jalur masing-masing selama masih dalam konteks sistem itu sendiri.



 Kekerasan simbolis dalam beberapa hal lebih halus daripada kekerasan fisik, tetapi kedua-duanya memiliki efek yang sama; suffering. Pada dasarnya, suffering ini terkadang tidak disadari oleh masyarakat, dan dalam konteks ini, kekerasan simbolis menjadi lebih efektif (dan dalam beberapa kasus) lebih brutal, maksudnya dalam hal terjadinya tekanan (Bordieu and Eagleton 1992e:115). Suffering dalam Masyarakat Aljazair menjelaskan Bordieu sebagai seorang akademisi dan intelektual “agen provokator”. Grenfell (2004b: 15-16) menjelaskan bahwa proyek akademik Bordieu –dari filsafat kepada antropologi dan khususnya sosiologi – dijelaskan melalui pengalamannya dalam observasi langsung di Aljazair. Ia menyaksikan terror dan suffering yang dialami Aljazair ketika dijajah masyarakat Prancis. Bordieu mengobservasi petani zaman dahulu yang dicabut hak miliknya oleh penjajah. Dalam hal ini, Bordieu fokus bukan pada kekerasan fisik yang terjadi selama masa kolonial, tetapi pada dominasi yang memaksa para terjajah mengadopsi hukum para penjajah. Suffering yang Bordieu saksikan diakibatkan oleh ketidakterhubungan antara struktur habitus dalam masyarakat yang lebih tradisional dan yang terkandung dalam struktur sistem ekonomi kapital. Kekerasan simbolik dalam pendidikan menurut Bordieu, hanyalah alat untuk mempertahankan eksistensi kelas dominan. Sekolah pada dasarnya hanya menjalankan proses reproduksi budaya (cultural reproduction), sebuah mekanisme sekolah, dalam hubungannya dengan institusi yang lain untuk membantu mempertahankan ketidaksetaraan ekonomi antar-generasi Bordiue melihat kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan berdasarkan adanya perubahan yang dramatis dalam pendidikan sekolah dasar dan menengah di Prancis setelah Perang Dunia II terjadi di mana adanya perubahan aturan sistem demokrasi sehingga anak-anak dari kelas bawah dan pekerja bisa mengakses pendidikan. Hal tersebut memang baik, tapi ada sistem-sistem yang diciptakan yang menyebabkan perbedaan kapital bisa menyebabkan perbedaan prestasi di sekolah. Contoh kekerasan simbolik yang terjadi yaitu hanya beberapa orang dari kelas bawah dan pekerja yang bisa sukses, sebab mereka dipaksa untuk percaya bahwa mereka yang kurang memberikan performa terbaik adalah orang yang bodoh secara intelektual dan sosial. Anak-anak disalahkan karena bakat mereka kurang, dan orangtua disalahkan karena tidak membekali anak dengan bakat-bakat yang sesuai- yang sebenarnya adalah berkaitan dengan modal. Jadi, hirarki kelas direproduksi untuk mempertahankan dominasi kelas atas terhadap kelas bawah. Kekerasan simbolik dan budaya konsumsi kekerasan yang banyak terjadi dan banyak orang tidak menyadarinya adalah kekerasan dalam ranah konsumsi. Perbedaan dan hierarki kelas dipertahankan melalui sistem dan praktik konsumsi. Karya Bordieu yang terkenal dalam studi konsumerisme yaitu Distinction: A social Critique of the Judgment of Taste, sebuah acuan terhadap kritik Kantian tentang estetika. Ia mengembangkan pendapat Durkheim dan Mauss (1963 [1903]) bahwa kategori fikiran pada asalnya bersifat sosial, sementara klasifikasi estetika memang dihasilkan, dikembangkan dan dipertahankan secara sosial. Hal ini juga digunakan untuk mempertahankan dan mengembangkan sistem dominasi dalam masyarakat. Kekerasan simbolik yang dihasilkan dari proses ini (baca:habitus) bisa kita lihat dalam praktik-praktik yang sepele, seperti misalnya ketika seorang kelas bawah atau pekerja makan malam bersama orang-orang dari kelas atas di sebuah restoran yang mahal, dia salah (bingung ) memakai sendok mana yang harus dipakai untuk salad dan mana yang harus dipakai untuk sup. Kekhawatiran dan rasa malu yang timbul dari kesalahan pemakaian sendok tadi bisa mereproduksi posisi kedua agen tersebut dalam eksistensi struktur sosial dan sekaligus legitimasi struktur tersebut. Kekerasan itu bersifat simbolis, tetapi suffering dan reproduksi dari hierarki kelas sangat nyata.  Suffering Bordieu meyakini bahwa sistem dominasi simbolik adalah alat dari kekerasan simbolik dan reproduksi sosial di mana kelompok-kelompok bawah cenderung mengadopsi nilai-nilai budaya, keyakinan, dan mode dari kelompok atas dalam ruang-ruang sosial. Dalam karyanya The Weight of the World: Social Suffering n Contemporary Society, Bordieu dan temannya mempelajari kehidupan sosial pasca-industrialisasi, penyatuan Eropa, imigrasi, perubahan peran gender serta hubungan antar-etnis di Perancis pada akhir abad ke-20 yang membuktikan bahwa kekerasan simbolik nyata terjadi walaupun penyebarannya tidak merata. Beberapa orang mungkin mengasumsikan bahwa suffering yang diakibatkan oleh kekerasan simbolik tidak ada apa-apanya dibanding kekerasan fisik. Tetapi, penolakan terhadap hal tersebut juga merupakan sebuah kekerasan simbolik. Kesimpulan dominasi simbolik kurang lebih seperti ini: “Dominasi simbolik adalah sesuatu yang ‘dihirup’ seperti udara dan tidak disadari. Terjadi di mana-mana sehingga sangat sulit lepas darinya.” (Bourdieu, dalam Bourdieu & Eagleton 1992e:115) Bordieu mengingatkan kita bahwa dunia ini dibentuk secara sosial dan historis, dan dalam pembentukannya hirarki diciptakan dan direproduksi sehingga mengakibatkan kekerasan yang kemudian diekspresikan secara simbolik. Opini seperti yang beberapa kali Bordieu katakan dalam tulisan tersebut bahwa kekerasan simbolis itu seringkali tidak kita sadari. Seperti udara yang kita hirup, kita menghirupnya setiap detik setiap waktu tapi seringkali kita abai. Sebab kekerasan simbolik itu keberadaannya sangat abstrak dan terkadang dibungkus dalam bentuk kebaikan. Ia berlindung dibalik sistem-sistem legal dan diterima masyarakat yang memang sengaja diciptakan oleh para kapitalis. Kecanggihan teknologi dan pesatnya globalisasi juga sejalan dengan tumbuhnya kekerasan simbolik itu sendiri. Ia tidak tidak hanya terjadi dalam dunia nyata, tapi juga dalam dunia maya. Kekerasan simbolik mengalami transformasi seiring perubahan itu sendiri. Sosial media sebagai ajang eksistensi tidak hanya mendapatkat follower dan liker, tetapi juga hater. Bullying di sosial media, saling komen yang “pedas” menjadi hal lumrah yang dianggap biasa, padahal kalau kita telisik dan kaji lebih dalam, ada banyak kekerasan simbolik di dalamnya. Tidak hanya di sosial media, di industri periklanan pun banyak terjadi kekerasan simbolik. Bahasa menjadi alat persuasif sekaligus menjadi hegemoni. Dominasi kapital (ekonomi) dijadikan alat mempertahankan hal tersebut. Sebut saja beberapa iklan kecantikan yang mendiskreditkan beberapa pihak. Kata-kata seperti “cantik itu putih” atau “cantik itu mulus” menjadi sugesti yang semakin lama diterima masyarakat bahkan menjadi standar kehidupan, sehingga orang-orang, khususnya perempuan, berlomba-lomba menjadi seperti itu, mulai dari memakai produk whitening “murahan” sampai operasi plastik. Kekerasan domestik sekali lagi sering tidak kita sadari terjadi di dalam semua aspek kehidupan. Kita dituntut untuk cerdas dan kritis terhadap semua fonemena yang ada. Sebab jika tidak akan ada banyak penderita-penderitaan yang ditimbulkan.

 Referensi:
Grenfell, Michael. 2008. Pierre Bourdie: Key Concepts. North Yorkshire: Acumen.

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design