Thursday, 10 November 2016

Kolonialisme dan Peradaban Indonesia

Konsep civilization dibawa oleh orang Eropa (khususnya) ke Indonesia melalui kolonialisme. Untuk menjelaskan pernyataan tersebut sebelumnya kita perlu memahami apa itu civilization- selanjutnya peradaban-. Menurut Masinambow, terlepas dari etimologinya, peradaban adalah terjemahan dari istilah dalam bahasa Inggris civilization; Jerman, zivilisation; Perancis, civilization; Belanda beschaving. Ada dua dimensinya dalam pemaknaan peradaban, jika kita melihat istilah-istilah tersebut dari perspektif masyarakat Eropa Barat pada zaman ekspansi ke Benua Afrika dan Asia yaitu: a. adanya kehidupan kota yang berada pada tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perkembangan di daerah pedesaan (pengalaman pedesaan Eropa Barat) b. adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya atau pelampiasan dari dorongan-dorongan itu. 

Selain itu, Masinambow juga mengatakan bahwa istilah civilization merupakan perkembangan dari kata latin civis ‘warga’. Istilah ini membentuk suatu perangkat dengan kata-kata civitas “negara-kota (city state)”; civilitas ‘kewarganegaraan’; civilitabilis “mempunyai hak menjadi warga kota, memenuhi syarat untuk ikut serta dalam kehidupan kota”. Selain menganggap corak kehidupan kota lebih maju dan lebih tinggi dibandingkan dengan corak kehidupan di desa, dalam pengertian peradaban terkandung pula suatu unsur keaktifan yang menghendaki agar ‘kemajuan’ itu wajib disebarkan ke masyarakat dengan tingkat perkembangan yang lebih rendah, yang berada di daerah-daerah pedesaaan yang terbelakang (Kroeber dan Kluchkohn 1963:15 dalam Christomy T dan Untung Yuwono).

Berdasarkan penjelasan dan penjabaran di atas kita bisa menyimpulkan bahwa masyarakat barat menganggap dan meyakini bahwa peradaban dan kebudayaan mereka lebih tinggi daripada masyarakat timur (khususnya wilayah yang dijajahnya), sehingga mereka berupaya untuk menerapkan peradaban mereka di negara jajahan mereka: Indonesia. Hal tersebut juga dikuatkan dengan pandangan Masinambow pada pembahasan selanjutnya bahwa motivasi dari ekspansi negara-negara barat ke luar batas Eropa Barat awalnya adalah perdagangan, yang kemudian dihadapkan dengan perbedaan corak kehidupan antara barat dan timur. Keunggulan dalam teknologi perkapalan, senjata-senjata perang dan aspek teknologi lainnya dihadapkan pada corak kehidupan masyarakat yang radikal –suatu corak kehidupan yang menurut persepsi mereka itu bersifat liar dan biadab—sehingga muncul dorongan untuk menyebarkan dan menanamkan peradaban mereka itu di dalam masyarakat itu. 

Kita kemudian bisa menyimpulkan adanya kontras antara kehidupan kota yang ‘beradab’ dan kehidupan desa yang “kurang beradab” yang distreotipekan menjadi corak kehidupan barat versus corak kehidupan bukan-barat. Pengertian peradaban dalam istilah Belanda itu sendiri adalah beschaving yang secara harfiah dijabarkan dari kata schaven ‘mengetam, mengasah.’ Dalam hal ini pengertian peradaban meliputi tata cara yang memungkinkan berlangsungnya pergaulan sosial yang lancar dan sesuai dengan norma-norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat barat. Istilah tersebut juga mencakup makna bahwa corak kehidupan kota atau kehidupan yang beradab pada hakikatnya berarti tata pergaulan sosial yang sopan dan halus, yang seakan-akan mengikis dan melicinkan segi yang kasar. Makna lain dari peradaban adalah kemajuan sistem kenegaraan yang jelas dapat dikaitkan dengan pengertian civitas. Hal ini berimplikasi pada penyebaran sistem politik barat sebagai sarana yang memungkinkan penyebaran unsur-unsur peradaban lainnya. Kalau kita membandingkan pengertian ‘peradaban’ atau civilization dengan pengertian ‘kebudayaan’ atau culture yang diadakan zaman itu, jangkauan pengertian pertama lebih luas dan menyeluruh, sedangkan pengertian kedua bersifat lebih sempit, yaitu terikat menurut batas-batas nasional . Oleh karena unsur-unsur yang terkandung di dalam suatu peradaban dianggap cenderung menyebar ke bangsa-bangsa lain, lazim dikatakan bahwa misalnya kebudayaan Jerman merupakan hasil penyebaran peradaban Eropa, atau kebudayaan Jepang merupakan hasil penyebaran peradaban Cina. 

Hal yang harus dipahami untuk memahami peradaban adalah kebudayaan, sebab orang seringkali sulit membedakan antara keduanya. Menurut Masinambow, kebudayaan adalah suatu gejala kompleks termasuk nilai-nilai dan adat kebiasaan yang memperlihatkan kesatuan, sementara teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaan untuk melangsungkan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supernatural. Selain pengertian tersebut ada beragam teori kebudayaan yang muncul disebabkan oleh 1) perspektif perkembangan sejarah dan 2) perspektif konseptual. Keragaman menurut perspektif sejarah adalah akibat langsung dari pergeseran paradigma pada peralihan abad ke-19 ke abad ke-20, sedangkan keragaman, menurut pemahaman konseptual yang berbeda, bersumber pada perbedaan pandangan terhadap hubungan antara yang bersifat individual dan yang bersifat kolektif (Masinambow dalam Christomy dan Untung Y. 2010).

Kebudayaan sebagai salah satu bagian dari peradaban memiliki peranan yang sangat penting dalam mewarnai (perubahan) peradaban suatu tempat. Oleh karena itu, banyak penelitian-penelitian dilakukan untuk mengetahui adat, kebiasaan dan nilai yang ada di Indonesia pada saat itu. Segala sesuatu pasti memiliki efek positif maupun negatif, begitupun juga dengan kolonialisme. Kita akan mencoba melihat perspektif lain dari kolonialisme dari sudut peradaban yang dihasilkan (tinggalkan)  yang bermanfaat bagi keberlangsungan rakyat Indonesia sampai hari ini selama menjajah Indonesia kurang lebih 300 tahun yaitu:

1. Transportasi
Salah satu manfaat yang paling besar dirasakan adalah pembangunan sarana transportasi meliputi stasiun dan rel kereta api. Pembangunanan tersebut meliputi desa-desa kecil di sepanjang rute jalurnya. Di Bandung ada stasiun-stasiun dan Emplasemen, seperti Kiaracondong, Tanjungsari, Rancaekek, Cicalengka, Citiis, Lebakjero, Cimanuk, Cibatu, lalu Nagreg di titik tertinggi 848 meter di atas permukaan laut. Kemudian ada  jalan Anyar-Panarukan di mana pada prosesnya sangat menyiksa rakyat pada saat itu. 

2. Ilmu Pengetahun dan Teknologi 
Kolonialisme juga memberi dampak positif tersendiri dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Indonesia mulai mengenal persenjataan, alat tempur, alat transportasi dan juga komunikasi. Masyarakat (tertentu) juga diajarkan cara menggunakannya secara langsung. Hal ini, misalnya dalam persenjataan ( dulunya berupa bambu runcing) bahkan mampu meningkatkan semangat rakyat untuk meraih kemerdekaan dengan memanfaatkan teknologi yang lebih canggih. Selain itu, pembentukan universitas-universitas juga merupakan salah satu peninggalan yang bermanfaat. 

3. Hukum 
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sampai hari ini, hukum yang ada di Indonesia mengadopsi hukum Belanda. Hampir keseluruhan hukum yang ada di Indonesia berasal dari Belanda. Tetapi, Setelah kemerdekaan, ada beberapa hukum yang direvisi dan diperbaharui untuk menyesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. 

Berdasarkan penjelasan di atas, secara keseluruhan kita bisa menyimpulkan bahwa konsep civilization dibawa oleh kolonialisme ke Indonesia di mana pada awalnya melalui penyebaran dan penerapan peradaban barat (yang menurut perspektif mereka lebih tinggi dan lebih beradab) yang disebarkan baik secara secara halus maupun kasar. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa peninggalan pada masa kolonial dalam bidang iptek, transportasi, dan hukum. 

Hinggga saat ini, masyarakat masih terus berupaya untuk mengembangkan diri di dalam segala bidang: iptek, infrastruktur, sosial humaniora, hukum, dan lain-lain untuk terus mencapai sebuah budaya dan kebudayaan adiluhung yang mampu memberikan perubahan ke arah yang lebih baik untuk manusia umumnya, dan masyarakat Indonesia khususnya. Hal itu menunjukkan bahwa konsep peradaban itu sendiri terus berkembang di masyarakat. 

Referensi:
Masinambow, E. K. M. Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya dalam Christomy T dan Untung Yuwono (Eds). 2010. Semiotik Budaya. FIBUI: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya. Cetakan II. www.kompas.com diakses 10 Nopember 2016

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design