Thursday, 10 November 2016

Walkman, Makanan dan kajian budaya

Jika Anda hidup diera 80an, mungkin Anda sangat mengenal Walkman, dan betapa Walkman menjadi salah satu benda yang sangat terkenal dan diinginkan oleh hampir semua kalangan pada waktu itu. Melalui tulisan ini, penulis mencoba membedah fenomena Walkman sebagai sebuah kebudayaan. Selain itu, tulisan ini juga mencoba menjelaskan bagaimana makanan menjadi penanda sosial. Sesuatu menjadi kebudayaan sebab kita mengkonstruksikan makna didalamnya. Pemaknaan menjadi penting sebab ia membantu kita menginterpretasikan dunia, membuat ‘benda’ atau’objek’ menjadi bermakna, sebab tanpa pemaknaan ia hanyalah sebuah benda atau objek tanpa arti. Pemaknaan menjadi jembatan antara materi dengan dunia, antara benda mati dan makhluk hidup. Sebuah objek dikatakan memiliki nilai budaya jika ia dibentuk melalui serangkaian makna dan praktiknya. Hal ini sejalan dengan pengertian budaya menurut William yaitu sebuah deskripsi dari cara-cara hidup tertentu yang mengekspresikan makna dan nilai-nilai tertentu tidak hanya dalam seni dan pembelajaran, tetapi juga dalam institusi dan perilaku. Dan hal inilah yang coba dibentuk oleh sony melalui Walkmannya. Untuk merealisasikan makna budaya yang ingin ditawarkan Sony melalui Walkman, ada lima prosesnya yaitu: Representasi, Identitas, Produksi, Konsumsi, dan Regulasi atau yang biasa disebut dengan Sirkuit kebudayaan. Makna sebuah objek tidak langsung ada, tetapi direpresentasikan di dalam bahasa dan tanda, baik oral maupun visual. Konsep inilah yang dikembangkan Sony, bagaimana pemaknaan atau makna yang ingin dibangun dari Walkman menjadi representasi dari sebuah benda yang bernama Walkman. Sebab sebuah mesin tidak dapat memberi pemaknaan terhadap dirinya, oleh karena itu Sony berusaha membangun makna dari sebuah benda bernama Walkman dan kemudian membentuk identitas dari representasi yang telah ia ciptakan melalui asosiasi terhadap berbagai kalangan masyarakat. Salah satu cara Sony merepresentasikan pemaknaan yang ia ciptakan adalah melalui wacana iklan. Ada beberapa contoh iklan - di dalam buku Doing of Cultural Studies: the Story of Sony Walkman - dengan cakupan yang berbeda-beda: 1) Iklan seorang remaja perempuan menggunakan Walkman dan ia terlihat sangat bahagia sambil menari-nari serta seorang kakek tua juga sedang mendengarkan Walkman, 2) Seorang perempuan yang sedang bersepeda sambil memakai Walkman, 3) Sseseorang sedang bermain ice skating sambil mendengarkan Walkman disertai teks dibawahnya “tuning into rappers: with phones on your ears and a cassette turned down low, you can have music wherever you go.” 4) Seorang pasangan sedang berdua sambil mendengarkan Walkman, 5) Gambar sony Walkman dalam beberapa bahasa, 6) Gambar Walkman disertai teks “Phone your friends and tell them how big your Walkman is” dan 7) Remaja laki-laki menggunakan Walkman. Dari contoh-contoh tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa ada beberapa pemaknaan yang ingin dibangun didalam Walkman yaitu; 1) Walkman adalah milik semua kalangan; tua-muda, laki-laki-perempuan melalui pelibatan perempuan dan laki-laki dalam semua segmen usia sebgai pembentukan identitas pengguna Walkman 2) Walkman didesain dalam bentuk yang lebih kecil sehingga memudahkan pengguna untuk bisa membawanya ke mana-mana (portable) 3) Walkman adalah milik global (dunia) bukan hanya milik Jepang. Dari pemaparan tersebut kita bisa melihat bahwa satu Produk yang sama memiliki yang makna berbeda tergantung dari representasi yang dibuat. Representasi pemaknaan-pemaknaan tersebut kemudian menjadi sebuah identitas ketika hal tersebut juga diasosiasikan, sehingga orang berlomba-lomba untuk bisa diasosiakan dengan Walkman. Seseorang akan bangga ketika bisa memiliki Walkman, sama seperti seseorang bangga ketika memiliki Mackintosh ataupun I-Phone. Jadi, kenapa Walkman menjadi ‘budaya’ sebab kita membentuknya menjadi benda yang bermakna. Kita membayangkannya, memikirkannya bahkan membicaraknnya. Itulah juga yang membuatnya menjadi ‘budaya’ sebab ia terkoneksi dengan seperangkat praktik sosial ( seperti mendengarkan music sambil traveling atau berada dalam kereta) sehingga ia menjadi sebuah gaya hidup. Selain itu, juga karena ia bisa diasosiasikan dengan bermacam-macam jenis orang (anak muda, mislanya bagi pecinta musik); tempat (di kota, di tempat terbuka, di museum). Produksi Walkman menjadi sesuatu hal yang menginspirasi disebabkan oleh representasi makna yang telah dibentuk sebelumnya sehingga Produksi dan Konsumsi beriringan dan bersifat kontinyu. Proses dan praktik konsumsi tidak hanya konsumsi benda tapi juga konsumsi budaya melalui proses meaning –making yang dibentuk melalui sinergi dengan media (baca: iklan). Walkman kemudian mempengaruhi kehidupan budaya sehingga secara tidak langsung ia ikut meregulasi kehidupan budaya masyarakat melalui wacana yang telah terbentuk, seseorang akan dianggap keren jika ia memakai Walkman misalnya Dalam Sahlin, pendekatan kebudayaan menggunakan pendekatan Historical materialism yaitu pendekatan/teori yang lebih menekankan pada aspek perilaku dan benda. Di sini kita bisa melihat bagaimana makanan menjadi penanda social. Manusia memberikan pemaknaan terhadap sebuah Objek. Yang membuat sesuatu itu memiliki makna adalah berdasarkan identitas dan representasi yang dibentuk oleh manusia itu sendiri. Menurut Marx “ animal produce only themselves while men reproduce the whole of nature.” Jadi, pemaknaan itu dibangun oleh konsepsi manusia itu sendiri. Jika kita menarik sebuah logika dari sudut pandang materi dan sosial, maka produksi adalah reproduksi kebudayaan dalam sistem kebendaan. Barang menjadi kode/tanda bagi suatu kepentingan dan nilai dari seseorang, suatu peristiwa, fungsi dan situasi. Berkembangnya ekonomi Borjuis , bahwa barang itu dinilai dari nilai ekonominya. Semakin tinggi nilai ekonominya, maka semakin tinggi nilai social dan budaya barang tersebut. Untuk memberikan nilai budaya, kita perlu melihat makna sosialnya. Misalnya kenapa orang Amerika tidak makan Anjing dan Kuda dan di India tidak makan daging sapi? Anjing, Kuda, dan daging Sapi tidak masuk di dalam logika walaupun layak dikonsumsi. Hal ini berkaitan dengan praktik masing-masing budaya. Di Amerika, kuda dan anjing adalah barang yang sangat disayangi, mereka tidak menganggap hal tersebut layak dikonsumsi. Begitupun juga dengan di India, mereka meyakini bahwa Sapi adalah hewan yang suci yang sangat tidak pantas menjadi barang konsumsi. Memasuki krisis, Amerika tahun 1973, memaksa masyaraktnya untuk mencari pengganti daging yang lebih murah dan ada usulan untuk menjadikan kuda sebagai penggantinya sehingga ada protes terkait hal tersebut. Sistem pemaknaan budaya ada di level praksis , tapi kita juga harus mempertanyakan siapa yang menciptakan pemaknaan itu. Di dalam Sahlin, “makanan sebagai simbol”, pemaknaan tentang makna makanan diciptakan oleh kaum borjuis, bagaimana daging yang sama bisa berharga berbeda. Itulah yang kemudian menjadi kritik Marxisme bahwa orang yang punya modal bisa mengatur kehidupan . Di dalam Sahlin, kebudayaan sebagai kebiasaan itu diciptakan oleh kelompok tertentu yang dalam hal ini kelompok borjuis, orang-orang yang memiliki modal, dan mereka berupaya untuk mempertahankan kebiasaan itu melalui pemaknaan yag dibangun dalam makanan. Sementara sony meyakini bahwa kebudayaan itu bisa diciptakan melalui sirkuit kebudayaan; representasi, identitas, produksi, konsumsi, dan regulasi. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa sebuah benda menjadi kebudayaan ketika ia memproduksi dan mensirkulasi makna yang terkandung di dalamnya sehingga hal tersebut menjadi cara hidup (way of life) suatu masyarakat. Mengacu kepada hal tersebut maka kita bisa menyimpulkan bahwa baik makanan maupun Walkman adalah sebuah kebudayaan yang dibangun melalui proses pemaknaan yang dikonsepkan oleh manusia. Jika di dalam Food as Symbolic code ada tiga proses yang dibentuk yaitu representasi, identitas, dan regulasi sementara dalam Sony Walkman melalui lima proses yaitu representasi, identitas, produksi, konsumsi dan regulasi. Baik dalam Sony maupun Sahlin keduanya menyoal kebudayaan dalam sebagai sebuah pemaknaan dalam level praksis dimana pemaknaan ada di level material. Tetapi di dalam Sahlin, ia juga menyebut struktur sehingga terkadang orang merasa bahwa hal tesebut adalah sesuatu yan given (baca: sudah dari sononya). Secara sederhananya kita bisa menggambarkan di dalam Food as symbolic Code yaitu kebudayaan sebagai kebiasaan diciptakan oleh kelompok tertentu (baca: kelompok borjuis) yang kebiasaan tersebut ingin dipertahankan melalui makanan. Sementara dalam Sony Walkman, kebudayaan sebagai sebuah kebiasaan dikonstruksi melalui serangkaian makna dan praktik, dimana ekspresi kebudayaan bersifat diskursif (memiliki peluang untuk ditawar dan dinegosiasikan ) Referensi Sahlins, Marshal. 1994. Food as Symbolic Code. Culture and Society, Contemporary Debates. Alexander, J.C. dan Seidman, Steven (Ed.). New York: Cambridge University. Paul du Gay., et.all (Ed). Doing Cutural Studies: The Story of Sony Walkman.London: Sage Publication.

kolonialisme dan peradaban Indonesia

Konsep Civilization dibawa oleh orang Eropa (khususnya) ke Indonesia melalui kolonialisme. Untuk menjelaskan pernyataan tersebut sebelumnya kita perlu memahami apa itu civilization- selanjutnya peradaban-. Menurut Masinambow, terlepas dari etimologinya, peradaban adalah terjemahan dari istilah dalam bahasa Inggris civilization; Jerman, zivilisation; Perancis, civilization; Belanda beschaving. Ada dua dimensinya dalam pemaknaan peradaban jika kita melihat istilah-istilah tersebut ke dalam unsur-unsurnya sebagai pencerminan dari perspektif masyarakat Eropa Barat pada zaman ekspansinya ke Benua Afrika dan Asia yaitu; a. Adanya kehidupan kota yang berada pada tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perkembangan di daerah pedesaan (pengalaman pedesaan Eropa Barat) b. Adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya atau pelampiasan dari dorongan-dorongan itu. Selain itu, Masinambow juga mengatakan bahwa istilah civilization merupakan perkembangan dari ata latin civis ‘warga’; istilah ini membentuk suatu perangkat dengan kata-kata civitas “negara-kota (city state)”, civilitas ‘kewarganegaraan’; civilitabilis “mempunyai hak menjadi warga kota, memenuhi syarat untuk ikut serta dalam kehidupan kota”. Selain menganggap corak kehidupan kota lebih maju dan lebih tinggi dibandingkan dengan corak kehidupan di desa, dalam pengertian peradaban terkandung pula suatu unsur keaktifan yang menghendaki agar ‘kemajuan’ itu wajib disebarkan ke masyarakat dengan tingkat perkembangan yang lebih rendah, yang berada di daerah-daerah pedesaaan yang terbelakang (Kroeber dan Kluchkohn 1963:15 dalam Christomy T dan Untung Yuwono) Berdasarkan penjelasan dan penjabaran di atas kita bisa menyimpulkan bahwa masyarakat Barat menganggap dan meyakini bahwa peradaban dan kebudayaan mereka lebih tinggi daripada masyarakat Timur (khususnya wilayah yang dijajahnya), sehingga mereka berupaya untuk menerapkan peradaban mereka di negara jajahan mereka - Indonesia- Hal tersebut juga dikuatkan dengan pandangan Masinambow pada pembahasan selanjutnya bahwa motivasi dari ekspansi negara-negara Barat ke luar batas Eropa Barat terutama awalnya adalah perdagangan, yang kemudian dihadapkan dengan perbedaan corak kehidupan antara Barat dan Timur. Keunggulan dalam teknologi perkapalan, senjata-senjata perang dan aspek teknologi lainnya dihadapkan pada corak kehidupan masyarakat yang radikal –suatu corak kehidupan yang menurut persepsi mereka itu bersifat liar dan biadab—sehingga muncul dorongan untuk menyebarkan dan menanamkan peradaban mereka itu di dalam masyarakat itu. Kita kemudian bisa menyimpulkan adanya kontras antara kehidupan kota yang ‘beradab’ dan kehidupan desa yang “kurang beradab” yang distreotipekan menjadi corak kehidupan Barat versus corak kehidupan bukan-Barat. Pengertian peradaban dalam istilah Belanda itu sendiri adalah beschaving yang secara harfiah dijabarkan dari kata schaven ‘mengetam, mengasah.’ Dalam hal ini pengertian peradaban meliputi tata cara yang memungkinkan berlangsungnya pergaulan sosial yang lancar dan sesuai dengan norma-norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat Barat. Istilah tersebut juga mencakup makna bahwa corak kehidupan kota atau kehidupan yang beradab pada hakikatnya berarti tata pergaulan social yang sopan dan halus, yang seakan-akan mengikis dan melicinkan segi yang kasar. Makna lain dari Peradaban adalah kemajuan system kenegaraan yang jelas dapat dikaitkan dengan pengertian civitas. Hal ini berimplikasi pada penyebaran sistem politik barat sebagai sarana yang memungkinkan penyebaran unsur-unsur peradaban lainnya. Kalau kita membandingkan pengertian ‘peradaban’ atau civilization dengan pengertian ‘kebudayaan’ atau culture yang diadakan zaman itu, jangkauan pengertian pertama lebih luas dan menyeluruh, sedangkan pengertian kedua bersifat lebih sempit, yaitu terikat menurut batas-batas nasional . Oleh karena unsur-unsur yang terkandung di dalam suatu peradaban dianggap cenderung menyebar ke bangsa-bangsa lain, lazim dikatakan bahwa misalnya kebudayaan Jerman merupakan hasil penyebaran peradaban Eropa, atau kebudayaan Jepang merupakan hasil penyebaran peradaban Cina. Hal yang harus dipahami untuk memahami peradaban adalah kebudayaan, sebab orang seringkali sulit membedakan antara keduanya. Menurut Masinambow, Kebudayaan adalah suatu kompleks gejala termasuk nilai-nilai dan adat kebiasaan yang memperlihatkan kesatuan, sementara Teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaan untuk melangsungkan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supernatural. Selain pengertian tersebut ada beragam teori kebudayaan yang muncul disebabkan oleh 1) perspektif perkembangan sejarah dan 2) perspektif konseptual. Keragaman menurut perspektif sejarah adalah akibat langsung dari pergeseran paradigma pada peralihan abad ke-19 ke abad ke-20, sedangkan keragaman, menurut pemahaman konseptual yang berbeda, bersumber pada perbedaan pandangan terhadap hubungan antara yang bersifat individual dan yang bersifat kolektif (Masinambow dalam Christomy dan Untung Y. 2010) Kebudayaan sebagai salah satu bagian dari peradaban memiliki peranan yang sangat penting dalam mewarnai (perubahan) peradaban suatu tempat. Ole karena itu, banyak penelitian-penelitian dilakukan untuk mengetahui adat, kebiasaan dan nilai yang ada di Indonesia pada saat itu. Segala sesuatu pasti memiliki efek positif maupun negatif, begitupun juga dengan kolonialisme. Kita akan mencoba melihat perspektif lain dari kolonialisme dari sudut peradaban yang dihasilkan (tinggalkan) selama menjajah Indonesia kurang lebih 300 tahun yang bermanfaat bagi keberlangsungan rakyat Indonesia sampai hari ini yaitu: 1. Transportasi. Salah satu manfaat yang paling besar dirasakan adalah pembangunan saranan transportasi meliputi stasiun dan rel kereta api (yang dibiayai dengan amat mahal yang bermunculan di desa-desa kecil di sepanjang rute jalurnya. Dari Bandung ada stasiun-stasiun dan Emplasemen, seperti Kiaracondong, Tanjungsari, Rancaekek, Cicalengka, Citiis, Lebakjero, Cimanuk, Cibatu, lalu Nagreg di titik tertinggi 848 meter di atas permukaan laut), dan jalan Anyar – Panarukan yang walaupun pada pada prosesnya begitu menyiksa rakyat pada saat itu selain juga untuk kepentingan bangsa penjajah sendiri agar bisa mendistribusikan rempah-rempah, kopi dan hasil bumi lainnya dengan lebih mudah. 2. Ilmu Pengetahun dan Teknologi Kolonialisme juga memberi dampak positif tersendiri dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Indonesia mulai mengenal persenjataan, alat tempur, alat transportasi dan juga komunikasi. Masyarakat (tertentu) juga diajarkan cara menggunakannya secara langsung. Hal ini, misalnya dalam persenjataan ( dulunya berupa bambu runcing) bahkan mampu meningkatkan semangat rakyat untuk meraih kemerdekaan dengan memanfaatkan teknologi yang lebih canggih . selain itu juga, pembentukan universitas-universitas sebagi politik etis (menurut mereka) untuk mecerdaskan rakyat, sehingga lahirlah lebih banyak orang terdidik yang kemudian menjadi pemimpin dalam gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajah. 3. hukum Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sampai hari ini, hukum yang ada di Indonesia mengadopsi hukum Belanda. Hampir keseluruhan hukum yang ada di Indonesia berasal dari Belanda. Tetapi, Setelah keerdekaan, ada beberapa hukum yang direvisi dan diperbaharui untuk menyesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. Berdasarkan penjelasan di atas, secara keseluruhan kita bisa menyimpulkan bahwa konsep civilization dibawa oleh kolonialisme ke Indonesia yang awalnya melalui penyebaran dan penerapan peradaban Barat (yang menurut perspektif mereka lebih tinggi dan lebih beradab) yang disebarkan baik secara secara halus maupun kasar yag dibuktikan dengan beberapa peninggalan pada masa kolonial dalam bidang iptek, transportasi, dan hukum. Hinggga saat ini masyarakat masih terus berupaya untuk mengembangkan diri di dalam segala bidang: iptek, infrastruktur, sosial humaniora, hukum, dan lain-lain untuk terus mencapai sebuah budaya dan kebudayaan yang adiluhung yang mampu memberikan perubahan kea rah yang lebih baik untuk manusia umumnya, dan masyarakat Indonesia khususnya. Hal itu menunjukkan bahwa konsep peradaban itu sendiri terus berkembang di masyarakat. Referensi Masinambow, E. K. M. Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. dalam Christomy T dan Untung Yuwono (Eds). 2010. Semiotik Budaya. FIBUI: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya. Cetakan II. www.kompas.com diakses 10 Nopember 2016
 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design