Thursday, 10 November 2016

Walkman, Makanan dan kajian budaya

Jika Anda hidup di era 80an, mungkin Anda sangat mengenal walkman, dan betapa walkman menjadi salah satu benda yang sangat terkenal dan diinginkan oleh hampir semua kalangan pada waktu itu. Melalui tulisan ini, penulis mencoba membedah fenomena walkman sebagai sebuah kebudayaan. Selain itu, tulisan ini juga mencoba menjelaskan bagaimana makanan menjadi penanda sosial. Sesuatu menjadi kebudayaan sebab kita mengkonstruksikan makna di dalamnya. Pemaknaan menjadi penting sebab ia membantu kita menginterpretasikan dunia, membuat ‘benda’ atau’objek’ menjadi bermakna, sebab tanpa pemaknaan ia hanyalah sebuah benda atau objek tanpa arti. Pemaknaan menjadi jembatan antara materi dengan dunia, antara benda mati dan makhluk hidup. Sebuah objek dikatakan memiliki nilai budaya jika ia dibentuk melalui serangkaian makna dan praktiknya.

Hal ini sejalan dengan pengertian budaya menurut William yaitu sebuah deskripsi dari cara-cara hidup tertentu yang mengekspresikan makna dan nilai-nilai tertentu tidak hanya dalam seni dan pembelajaran, tetapi juga dalam institusi dan perilaku. Dan hal inilah yang coba dibentuk oleh Sony melalui walkmannya. Untuk merealisasikan makna budaya yang ingin ditawarkan, Sony melalui walkman,memiliki lima proses yaitu: Representasi, Identitas, Produksi, Konsumsi, dan Regulasi atau yang biasa disebut dengan Sirkuit kebudayaan. Makna sebuah objek tidak langsung ada, tetapi direpresentasikan di dalam bahasa dan tanda, baik oral maupun visual. 

Kolonialisme dan Peradaban Indonesia

Konsep civilization dibawa oleh orang Eropa (khususnya) ke Indonesia melalui kolonialisme. Untuk menjelaskan pernyataan tersebut sebelumnya kita perlu memahami apa itu civilization- selanjutnya peradaban-. Menurut Masinambow, terlepas dari etimologinya, peradaban adalah terjemahan dari istilah dalam bahasa Inggris civilization; Jerman, zivilisation; Perancis, civilization; Belanda beschaving. Ada dua dimensinya dalam pemaknaan peradaban, jika kita melihat istilah-istilah tersebut dari perspektif masyarakat Eropa Barat pada zaman ekspansi ke Benua Afrika dan Asia yaitu: a. adanya kehidupan kota yang berada pada tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perkembangan di daerah pedesaan (pengalaman pedesaan Eropa Barat) b. adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya atau pelampiasan dari dorongan-dorongan itu. 

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design