Saturday, 15 October 2016

Trilogi Hunger Games dalam Perspektif Marxisme

photo from google Trilogi Hunger Games adalah cerita tentang Katniss, seorang gadis berusia 16 tahun yang tinggal di sebuah daerah pasca-apokalips di Amerika Utara, sebuah wilayah yang sekarang bernama Panem yang terbagi menjadi 13 distrik dengan ibu kota yaitu Capitol. Distrik-distrik tersebut sangat miskin, kecuali distrik 1 dan 2 yang lebih kaya daripada yang lainnya. Katniss dan keluarganya tinggal di distrik 12 di mana distrik tersebut adalah distrik yang menyedihkan, rakyatnya mencari penghasilan dengan berburu dan memancing di sekitaran hutan. Sebaliknya, Capitol menampilkan sebuah kekayaan yang berlebihan dimana kebobrokan budaya digabung dengan kekuatan ekonomi dan teknologi yang nyata. Capitol adalah sebuah parasit di distrik-distrik tersebut, menggunakan kekuatan teknologi untuk mengekstrasi sebuah persembahan. Sehingga, setiap tahun sebuah persembahan budaya diundang-undangkan – sebuah ritual pengorbanan dimana setiap distrik mengirimkan dua orang anak mudanya untuk bertarung menghadapi kematian dalam sebuah gelanggang pertunjukan yang bertempat di jantung kota. Katniss menjadi sukarelawan mengantikan saudara perempuannya yang sebelumnya terpilih untuk bertarung di ‘Hunger Games’ yang ke 74. Hunger Games ibaratnya seperti sebuah pertunjukan ‘sepotong roti dan sirkus.’ Sesungguhnya Panem berasal dari frasa Romawi ‘panem et circenses’, dan film tersebut seperti permainan Gladiator Romawi. Tetapi rasa keromawian dan kekunoannya dipadukan dengan teknologi yang sangat canggih dan besar yang membayangi kehidupan di luar Capitol seperti sebuah mimpi buruk. Tidak hanya dalam dunia nyata, rakyat di setiap distrik dianiaya dengan kobaran api dari pesawat yang tak berpenghuni yang sangat besar tapi ‘Hunger Games’ sendiri dimainkan di dalam sebuah computer, secara ahli dimanipulasi oleh pembuat permainan sehingga mereka bisa mengontrol permainan dan membuat efek mengerikan bagi para peserta Hunger Games. Aspek modernitas dalam film ini dikemas dengan jelas tidak hanya dalam aspek formal permainan tersebut - teknologi dasar - tetapi juga cara kontestan menghadapi tantangan-tantangan yang mempertaruhkan hidup dan mati. Untuk bisa bertahan mereka harus mengikuti serangkaian tes untuk mendapatkan sponsor yang nantinya mempermudah mereka mendapatkan bantuan seperti makanan, air, dan obat-obatan. Dalam film kedua, pasangan Katniss dan Peeta tampil dalam setiap pertunjukan, dan mereka mengunjungi setiap distrik menampilkan kemesraan di depan kamera seperti yang diperintahkan oleh presiden Capitol, mempertunjukkan keromantisan kisah cinta mereka dengan tujuan menutupi latar belakang kematian yang terjadi pada kontestan lain. Hal ini tetap mereka lakukan walaupun terpaksa sebab adanya ancaman dan kematian-kematian yang lain jika merela tidak mau melakukannya. Dalam kondisi tertentu, penderitaan yang Katniss dan Peeta alami tidak hanya soal perjuangan untuk bertahan tetapi lebih pada perjuangan untuk sebuah autentisitas – untuk mengklaim kembali substansi spiritual dari bentuk luarnya. Itulah kenapa walaupun dalam film/novel pertamanya hubungan Katniss dan Peeta hanyalah sandiwara untuk memperoleh keuntungan selama permainan berlangsung tapi kemudian dalam kenyataan mereka kemudian saling mencintai. Isu autentisitas bukan hanya tentang permainan, tetapi juga menyangkut masalah yang lebih luas dari sebuah karya fiksi yang Suzanne Collin angkat. Realita Panem menjembatani adanya benturan antara autentisitas dan non-autentisitas. Capitol adalah dunia yang dipenuhi dengan kegemerlapan, para penghuninya hidup dengan bersenang-senang, dan sering menghadiri pesta-pesta mewah. Sementara sebaliknya, orang-orang di distrik hidup melarat dan serba kekurangan. Keadaan Panem dan distrik-distrik sangat berkebalikan seperti 1% melawan 99% seperti di ekspresikan oleh ‘gerakan Pendudukan’. Pertentangan yang ditampilkan Collin antara realitas distrik yang nyata secara mendalam dengan aspek non-autentisitas ‘virtual’ Capitol merepresentasikan pertentangan dalam dunia nyata melalui kebangkrutan ekonomi global, kenaikan modal finansial dalam biaya modal industri-industri dan perkembangan industri produktif. Dalam aspek ini, trilogy The Hunger Games adalah sebuah karya fiksi yang menakjubkan. Tapi masalahnya adalah, ketika sebuah karya menjadi popular ada beberapa elit yang tidak melihat secara keseluruhan usaha yang telah dilakukan penulis. David Denby – salah satu pekerja The New Yorker – selain tidak mengindahkan nuansa politis dalam karya tersebut juga mencoba menghilangkan nilai-nilai perjuangan seorang remaja demi rakyat yang kemudian menyatakan bahwa itu hanyalah pemuasan individu dan karya-karya romantic. Selain itu, beberapa juga menyatakan bahwa The Hunger Games menjiplak sebuah novel Jepang tahun 1999 (yang juga difilmkan) Battle Royale, yang memicu banyak perdebatan baik di media mainstream maupun media online. Alvin Lin, penulis di Hypen, mengatakan bahwa kedua film tersebut menggambarkan pemerintahan otoriter yang korup yang mengharuskan para remaja di pulau terpencil untuk bertarung secara sadis dengan saling membunuh menggunakan beberapa senjata sampai hanya tersisa satu pemenang. Pada saat yang sama Collin mengatakan “ saya tidak pernah mendengar tentang buku tersebut atau pengarangnya sampai buku saya terbit.” Kesamaan antara Battle royale (yang selanjutnya saya singkat BR) dan The Hunger Games (selanjutnya saya singkat THG), yaitu keduanya sama-sama lahir sebagai respon kepada pemerintah terhadap krisis nasional. Tetapi krisis dalam THG menggambarkan secara jelas pembangkangan sebagai bagian dari kemiskinan dan eksploitasi rakyat di setiap distrik. Sementara BR tidak menampilkan hal tersebut. BR lebih menekankan pada karakter psikologis masing-masing tokoh serta aksi-aksi saling bunuh yang terjadi. Trilogi THG lebih menekankan kepada konten-konten politis: misalnya kita diperlihatkan kehidupan distrik-distrik yang sangat sengsara dan menyedihkan akibat eksploitasi dari elit-elit kota. Kompetisi dalam THG kemudian adalah miniatur penggambaran tentang kondisi sosial dan eksploitasi yang terjadi. Sementara BR lebih focus pada ‘aksi’ dan meskipun diperlihatkan dasar sosiologis kompetisi tersebut seperti kebangkrutan ekonomi, remaja yang nakal, dan seterusnya, hal tersebut hanya diperlihatkan secara sekilas tanpa eskplorasi dan elaborasi lebih dalam. Proses kenapa konflik terjadi dan bagaimana hal tersebut memengaruhi masyarakat tidak dihadirkan di film ini. BR juga tidak menampilkan konten dan nuansa/realitas politik. BR justru menggambarkan dengan jelas kebrutalan-kebrutalan dan kekerasan dalam kompetisi yang sebenarnya sembarangan dan nihilistis (menolak segala bentuk kekuasaan). Perbandingan keduanya akan menimbulkan spekulasi kenapa yang satu (THG) lebih kompleks dan totalitas menampilkan realitas social dan politik sementara yang satu hanya sekedar tontonan. Jawabannya adalah karena film tersebut adalah hasil perenungan panjang dari pengalaman penulis ketika menonton TV dari beberapa acara reality show. Seorang filsuf dari Slovakia. Slavoj Zizek menyatakan betapa perubahan yang sama pada dunia politik menyebabkan ‘gerakan Pendudukan.’ Poin Zizak jelas yaitu: di masa dulu perlawanan politik radikal menghasilkan beribu-ribu perjuangan tertentu, sebagai akibat dari perang yang berkepanjangan di seluruh dunia dan kebangkrutan ekonomi global. Aspek universalitas yang melandasi kapitalisme dan krisisnya diperlihatkan secara jelas. Itulah kenapa Zizek berpendapat bahwa era ‘gerakan Pendudukan terjadi karena isu-isu politik. Seorang pengarang komunis Bertolt Brecht menyatakan bahwa ‘ seni bukanlah sebuah cermin realitas tetapi sebuah palu yang membentuknya. Mungkin trilogy THG bukan hanya sebuah cemin tapi juga sebuah palu. Tidak hanya ingin menunjukkan realitas social dan perjuangan rakyat tetapi juga ingin membentuk dan mengonstruksikan bahwa perjuangan itu adalah sebuah keharusan. Opini Menurut saya The Hunger Games adalah sebuah karya seni yang luar biasa yang patut diapresiasi dan diacungi jempol. Bahkan, novelnya laris terjual mencapai daftar buku terlaris the new York times pada November 2008 dan tetap berada dalam daftar selama lebih dari 100 mingggu berturut-turut. Suzanne Collin adalah penulis buku remaja pertama yg berhasil menjual lebih dari satu juta buku elektronik di Amazon Kindle. Selain itu karyanya juga banyak menerima penghargaan . Terkait dengan adanya adanya kontroversi karna kemiripan dengan Battle Royale menurut saya itu sah-sah saja. Setiap karya terkadang bersumber dari ide yang sama, tapi tidak akan selalu sama, terbukti dengan kontrastive dari Tony Mckenna bahwa ada banyak perbedaan-perbedaan substantive dari kedua film tersebut. Eric Eisenberg juga berpendapat kalau The Hunger Games tidak menjiplak Battle Royale tetapi “menggunakan ide yang serupa dalam cara yang berbeda” baik dari segi perbedaan tema maupun cerita. Robert Nishimura: kebetulan mengembangkan ide yang telah digunakan berkali kali sebelumnya yang berasal dari mitologi yunani.^1 Bahkan beberapa film kalau kita amati juga cenderung memiliki kesamaan dengan The Hunger Games seperti The Condemned, The Most Dangerous Game, The Lottery. etc Upaya mengontraskan antara The Hunger Game dan Battle Royale menurut saya sebagai sesuatu yang objektif, daripada sekedar membandingkan kedua film tersebut, sebab segala sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sekaligus sebagai upaya menjawab kenapa kemudian THG tidak sama dengan BR dan tidak menjiplak BR. Sebab THG lebih menekankan pada signifikansi realitas social dan politik sementara BR menekankan pada aksi dan tidak mengelaborasi keduanya. Seperti yang sering kita dengar bahwa kapitalisme selalu melahirkan ketertindasan dan yang selalu dikorbankan adalah kelas bawah. Dalam trilogi ini Capitol diibaratkan seperti kapitalisme yang menyengsarakan dan mengambil keuntungan di mana kaum proletar (rakyat di tiap distrik ) selalu menjadi korban sementara kaum borjuis dan aristocrat (orang-orang yang hidup di Capitol) adalah penindas. Maka perjuangan itu selalu lahir dari ketertindasan yang akhirnya melahirkan perlawanan dari kaum-kaum yang selama ini mrasa dirugikan atas keserakahan kaum borjuis dan Katniss Everdeen adalah symbol perlawanan. Seorang Mockingjay. Film ini menurut saya berhasil membawa pesan tersebut sekaligus mampu membawa penontonnya ke dalam perasaan yang sama seperti yang dialami Katnis dan kaum yang tertindas. 1. https://id.wikipedia.org/wiki/Trilogi_The_Hunger_Games Note : tulisan ini sebagai laporan tugas baca Teori Kebudayaan

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design