Monday, 10 October 2016

Kolonialisme kemarin dan hari ini?

Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Mungkin salah satu indicator sederhana untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah ‘daging dan buah.’ Apa hubungannya? Well, pertanyaan yang muncul kemudian adalah berapa kali rakyat bisa makan daging dalam seminggu atau misalnya sebulan? Dan berapa kali rakyat bisa beli buah dalam seminggu? Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi daging orang Indonesia adalah 1/10 dari orang Malaysia. Jadi, kalau orang Malaysia mengkonsumsi daging satu kg seminggu maka orang Indonesia hanya mengkonsumsi kurang lebih satu ons seminggu. Itu kita berbicara rata-rata dengan menjumlahkan antara konsumsi orang kaya dengan orang miskin, yang bisa saja bahkan orang miskin tidak pernah/jarang sekali mengkonsumsi daging dalam seminggu, sebulan bahkan setahun. Di kampung saya daging adalah satu barang mewah sebab tidak semua dan tidak setiap hari orang bisa mengkonsumsi daging. Daging hanya dikonsumsi pada saat-saat tertentu seperti Hari raya, hajatan, syukuran, dan acara-acara besar lainnya. Di luar itu, orang sangat-sangat jarang bisa mengkonsumsi daging, yang bisa membelinya hanya kalangan menengah ke atas. Dan mungkin fenomena ini tidak hanya terjadi di kampung saya, tapi juga hampir di seluruh tempat di Indonesia. Tentu ini sangat memprihatinkan, sebab Indonesia sebagai negara yang sangat kaya belum mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Begitupun dengan buah, harganya sungguh mencekik bagi kalangan bawah (kalau kalangan atas sih jangan ditanya). Jangankan untuk beli buah, untuk makan pun susah. Mungkin untuk buah-buah seperti pisang, papaya, jambu, sawo, dll bisa di jangkau sebab harganya lumayan murah, tapi itupun tidak setiap hari mereka bisa membeli. Tapi untuk buah-buahan elit seperti pear, anggur merah, apel merah, anggur hijau, dll yang harganya sudah 50an ribu bahkan ratusan ke atas, ini menjadi sangat sulit bisa diperoleh sama rakyat kelas bawah. Tentu ini menjadi paradoks tersendiri bagi bangsa ini di tengah semboyan yang sering kita elu-elukan “ Gemah ripah loh jinawi.” Saya tidak ingin mengatakan kemudian bahwa kita harus pesimis dengan kondisi ini, tidak. Sebab saya juga adalah orang yang percaya bahwa kejayaan Indonesia itu pasti akan datang. It is just the matter of time. Tapi saya ingin mengajak kita semua untuk berfikir kritis dan realistis bahwa dari dulu sampai sekarang kita masih tetap mengalami hal yang sama; kebutuhan perut belum tercukupi dengan baik. Mari kita sama-sama membuka mata. Jika dulu kita menghadapi kolonialisme dengan penjajah yang jelas, maka hari ini kita juga menghadapi koloniaisme tapi tidak jelas siapa penjajahnya. Jika dulu orang-orang kelaparan banyak, maka hari ini pun masih sama. Jika dulu orang kaya menindas orang miskin, maka hari ini pun masih sama. Mungkin hanya namanya yang berbeda. Atau bisa kita katakan Borjuis dan proletar dalam bentuk yang berbeda. Orang kaya tetap kaya , yang miskin tetap miskin. Orang yang bisa bertahan dan diuntungkan hanya orang yang memiliki ‘capital’ atau modal, sementara orang-orang yang tidak punya modal harus siap tergilas dan tertindas. Dr herdi (doktor di Cornell University) dalam disertasinya ketika ditanya “ apa permasalahan di negerimu?” beliau menjawab bahwa salah satu permasalahan bangsa ini adalah uang atau modal hanya di miliki oleh segelintir orang (bisa dihitung dengan jari), sementara rakyat yang selainnya hanya bia jadi peonton. Jika kita menganalogikan kondisi ini dengan piramida kapitalismenya Marx, maka mereka yang pemilik modal tadi adalah kaum aristokrat, sementara presiden, gubernur, bupati, menteri-menteri, dan pejabat-pejabat lainnya dari tingkat nasional sampai daerah adalah kaum borjuis dengan segala tingkatannya (mulai dari borjuis kelas atas smapai kelas bawah), dan yang terakhir adalah para buruh (tani, nelayan, industry, dan lain-lain) adalah kaum proletar yang menopang kehidupan kaum borjuis, yang mereka selalu menjadi korban. Kaum aristocrat mengatur kaum borjuis, dan kaum borjuis mengatur kaum proletar. Mungkin ini bisa jadi jawaban kenapa kemudian permasalahan korupsi, penegakan hukum, kasus mafia, dan lain-lain tida selesai-selesai. Sebab istilahnya ada ‘invinsible eye’ yang turut campur dalam permasalahan bangsa ini. Ketika pemilihan presiden, saya sempat bertanya kepada salah satu masyarakat di kampung saya siapa yang akan dipilihnya. Dia kemudian menjawab bahwa siapapun presidennya maka hidup saya akan tetap seperti ini, mau presidennya si A, B, atau C. hal ini mengindikasikan bahwa negara belum hadir pada ruang-ruang yang sangat kritis yaitu rakyat itu sendiri. Kita adalah bangsa yang semangat dasarnya adalah gotong royong, kita memiliki semangat social yang tinggi. Tapi keadaan semakin lama menjauhkan kita dari semangat dasar kita menjadi sikap individualis yang cenderung apatis. Dan semoga kita tidak terjebak dalam liberalisme kapital yang pada akhirnya bisa menjerumuskan. Dan sepertinya demokrasi kita sedang menuju ke arah sana; demokrasi liberal. Padahal sejarah sudah membuktikan bahwa demokrasi liberal tidak akan mampu bertahan lama. Jadi, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Secara de jure dan de facto memang iya, tapi secara nilai dan hakikat kemerdekaan, mungkin jawabannya tidak. Tulisan ini terinspirasi dari hasil kunjungan dan diskusi Bidang HLN (Hubungan Luar Negeri PP (Pengurus Pusat) KAMMI) dengan Dr Herdi Sahrasad (Dosen sospol Universitas Paramadina)

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design