Thursday, 6 October 2016

Kebudayaan sebagai teks

Sebelum ke sana kita perlu menjelaskan beda antara budaya dan kebudayaan. Ada banyak sekali definisi tentang budaya dan kebudayaan. Tapi, secara umum bisa kita artikan budaya adalah konsep atau gagasan, sementara kebudayaan adalah hasil. Definisi yang paling populer tentang kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Jadi apa itu kebudayaaan sebagai teks? Kebudayaan sebagai teks bisa kita katakana kemudian adalah sesuatu yang berwujud yang tidak berada dalam batin, tetapi antara masyarakat sebagai sesuatu sesuatu yang harus di baca dan ditafsirkan. Untuk mengkaji kebudayaan sebagai teks bisa dengan pendekatan hermeneutika yaitu pertemuan cakrawala teks dengan cakrawala penafsir.

Ada empat pendekatan dalam strukturalisme yang bisa digunakan yaitu 1. Pendekatan pengirim dalam menganalisis menggunakan pendekatan ini kita harus memerhatikan posisi pengirim dan maksud pengirimnya apa. Posisi pengirim misalnya latar belakangnya baik sosial, budaya, politik maupun pendidikan. Apakah ada trauma yang akhirnya mempengaruhi karyana atau tidak. Pengirim di sini bisa berupa penulis, sutradara, seniman, politisi. Intinya seseorang yang memproduksi sebuah karya, baik karya sastra, sinematografi, dan lain-lain. dan pendekatan ini adalah pendekatan yang paling klasik yang biasa dipakai kebanyakan orang 2. Pendekatan penerima Pendekatan ini lebih menekankan kepada makna yang terkandung di dalamnya yang kemunginan besar akan ditangkap seperti apa oleh audience (penikmat sastra, film, pidato, dan lain lain) 3. Pendekatan konteks Pendekatan konteks adalah refleksi dari ruang dan waktu tertentu. Jadi, penting sekali mengetahui kapan dan di mana terjadinya sehingga kita bisa menangkap latar belakang social, budaya dan lainnya yang berakitan dengan keberadaan ruang dan waktu tersebut. Setiap karya memiliki epistemennya masing-masing. Misalnya teks-teks karya sastra masa pertengahan, colonial, orde baru, orde lama, dan masa reformasi. Teks-teks di masa tersebut akan memiiki atributnya (ciri) masing-masing. Atau misalnya tema-tema yang universal seperti tema cinta, kematian, dll ketika disuguhkan dalam karya, isinya akan memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri bergantung pada ruang dan waktunya. 4. Pendekatan tekstual (teks lain) Pendekatan ini bisa kitakatakan adalah pendekatan formalism, strukturalisme dan semiotik. Misalnya contohnya adalah mencari makna instrinsik dalam sebuah karya. Lalu pertanyaan yang muncul adalah apa sih pentingnya menentukan sudut pandang ketika akan mengkaji teks? Ada contoh menarik terkait hal itu. Seorang supir truk memarkir truknya di pinggir jalan karena kelelahan dan akhirnya tertidur. Tidak berapa lama, diketuklah pintu truknya dan ada yang bertanya arah jalan menuju Cikampek ke mana. Beberapa kali ada yang bertanya seperti itu hingga ia merasa tergangggu dan tidak bisa tertidur. Dan akhirnya dia berinisiatif menulis kertas dan ditempel di pintu truk “ TIDAK TAHU JALAN ARAH CIKAMPEK.” Dan tidak berapa lama kemudian diketuk lagi pintunya dan ada orang berkata; “Pak saya kasih tahu arah Cikampek!” Contoh tersebut mengindikasikan bahwa sesuatu karya pemaknaannya bisa berbeda dan bermacam-macam tergantung dari sudut pandang yang dipakai. Dan oleh karena itu sangat penting menggunakan sudut pandang atau pendekatan yang jelas dalam hal ini, bisa pendekatan pengirim, penerima, tekstual ataupun konteks. Ada beberapa macam pendekatan Tekstual, yaitu: 1. Formalisme 2. Strukturalisme 3. Neocritism 4. Semiotic 5. Dekonstruksualisme Teks dalam Strukturalisme Teks dalam Strukturalisme adalah teks itu sendiri. Ada beberapa kritik strukturalisme: 1. Ahistoris : Maksudnya di sini adalah teks tidak mempertimbangkan konteks social, seolah-olah teks itu lahir dari ruang hampa. 2. Mengabaikan subjek dan konteks di mana kadang teks tersebut tidak memperdulikan pengarang seperti latar belakangnya, yang padahal itu sangat berpengaruh dalam ‘rasa’ suatu teks. 3. Terkadang dianggap kering karena makna hanya bergantung pada teks. Semiotik adalah perluasan dari Strukturalisme Semiotic menurut Barthe adalah strktur sebagai tanda. Mitos yang berkembang tidak lagi tentang dewa-dewa, dewi-dewi, atau cerita-cerita kuno lainnya, tapi mitos sudah mengalami perluasan makna sebagai sebuah tanda. Misalnya ketika kita mendengar kata ‘hijau’ maka konotasi dan asosiasi kita tidak hanya tentang warna tapi juga bisa berupa’ natural,’ ‘partai islam’, lingkungan’, dan lain-lain. Mitos bisa menjadi sebuah ideologi ketika memengaruhi cara berfikir dan tindakan orang lain/orang banyak. Misalnya ketika ‘hijau’ tadi dikonsepsikan sebagai ‘natural’ yang dalam hal ini berkaitan dengan lingkungan, maka orang bisa saja merubaha pola piker dan pola hidupnya dengan beralih ke sesuatu yang ramah lingkungan. Misalnya dengan menggunakan beras organic, atau hidup tanpa teknologi, atau tidak memakai AC, dan lain-lain. Dekonstruksi Dalam dekonstruksi ada istilah oposisi biner yaitu suatu makna diketahui karena perbedaannya. Misalnya kita tahu ada gelap karena ada terang, ada siang karena ada malam, begitu seterusnya. Derida mengatakan ada hierarki dalam oposisi biner; ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah. Misalnya : Laki-laki – perempuan, -susah – senang, terang-gelap, dst. Tapi kemudain dalam konteks laki-laki dan perempuan adanya wacana kesetaraan gender memberika ruang yang sama antara laki-laki dan perempuan, bahwa tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, yang mana gender kemudia menempatkan perempuan di pusat, bukan hanya di pinggir. Note: tulisan ini adalah catatan-catatan dari kuliah Teori Kebudayaan. Jika ada yang kurang sila dilengkapi, kalau ada yang salah sila dikoreksi.

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design