Thursday, 22 September 2016

Rindu (Tere Liye)

Apalah arti memiliki Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi.
Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. Perjalanan itu selalu menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Dan ini adalah cerita tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan para pengembara dengan setting keberangkatan Haji menggunakan kapal laut selama sebulan lebih pada masa sekitar tahun 1900an, saat Indonesia masih belum merdeka. Pertanyaan pertama datang dari Bonda Upe, yang memiliki nama asli Ling-ling, seorang mantan Cabo (WTS). Aku seorang cabo Gurutta. Apakah Allah akan menerimaku di tanah suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak tanah suci? Apakah Allah akan menerimaku? “Kita tidak bisa lari dari masa lalu. Cara terbaik mengahdapi masalalu adalah dengan menghadapinya. Tentang penilaian orang lain? Kita tidak perlu menanggapi sebuah catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri. Kita tak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita baik. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Hanya Allah yang tahu apakah Haji seorang pelacur diterima atau tidak. Bahkan Haji semua orang sekalipun. Kita hanya bisa berharap dan tawakkal. “ Pertanyaan kedua dari seorang Daeng Andipati, memiliki seorang istri yang cantik, dan dua orang anak yang lucu dan cerdas. Elsa (13 th) dan Ana (9 th) yang juga turut mewarnai keceriaan penghuni kapal ketika dalam perjalanan. Ia seorang kaya, terpandang, dan lulusan Luar negeri. Tapi ternyata ada sebuah rahasia besar, yaitu ia begitu membenci ayahnya sendiri, yang menelantarkannya, tidak peduli, suka berbuat kekerasan, dan tidak menghargai ibunya. “ Apakah tanah suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya? Bagaimana mungkin aku pergi anik Haji membawa kebencian sebesar ini? Bagaiamna caranya agar aku bisa memaafkan dan melupakan semua? “ ketahuilah Andi, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Ketika ada orang jahat, membuat kerusakan di muka bumi, misalnya, Apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar. Kenapa Allah tidak langsung menghkumnya? Kenapa Allah menangguhkannya? Itu hak mutlah Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham” “Berhenti membenci ayahmu, karena berarti kau sedang membenci dirimu sendiri. Berikanlah maaf karena kau berhak atas kedamaian dalam hati. Tutup lembaran lama yang penuh coretan keliru. Bukalah lembaran baru. Semoga kau memiliki lampu kecil di dalam hatimu.” Pertanyaan ketiga dari Mbah Kakung, yang beberapa hari selama dalam perjalanan tidak mau makan dan minum sejak ditinggalkan selama-lamanya oleh mbah Putri yang terpaksa dikuburkan di laut. Mereka adalah teladan tentang kesetiaan dan keromantisan. Kenapa harus sekarang Gurutta? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenaa harus ada di atas lautan ini? Tidak bisakah ditunda barang satu atau dua bulan? Atau jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram? Kenapa harus sekarang? “ Lahir dan mati adalah takdir Allah. Kita tidak mampu mengetahuinya. Pun tiada kekuatan bisa menebaknya. Kita tidak bisa memilih orang tua, tanggal, tempat. Tidak bisa. Itu hak mutlak Allah. Kita tidak bisa menunda maupun memajukannya walauun sedetik. Kenapa Mbah Putri harus meninggal di kapal ini? Allahlah yang tahu alasannya. Dan ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci, tidak menyukai takdir tersebut. amat terlarang bagi seorang Muslim mendustakan takdir Allah. Allah member apa yang kita btuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatau yang kita nggap buruk, boleh jadi baik untuk kita, begitupun sebaliknya. ” Pertanyaan keempat datang dari Ambo uleng. Seorang pemuda yatim piatu , bekerja sebagai kelasi kapal. Tampan, cerdas, dan bisa diandalkan, ternyata ikut perjalanan tersebut karena memilih pergi menjauhi masalalunya sejauh-jauhnya. Pemuda yang juga arti namanya adalah purnama yang bersinar. Semuanya Tentang cinta. Apakah cinta sejati? Apakah besok lusa akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah aku masih memiliki kesempatan? “cinta sejati adalah melepaskan. Cinta itu ibarat bibit tanaman. Jika dia tumbuh di tanah yang subur, disiram dengan pupuk pemahaman baik, dirawat dengan menjaga diri, maka tumbuhlah ia menjadi pohon yang berbuah lebat dan lezat. Jika ahrapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka terulah memperbaiki diri sendiri. Sibukkan diri dengan belajar. ” Ternyata pertanyaan terkahir tidak datang dari orang lain, melainkan seorang yang dianggap hidup damai tanpa pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal selama hidupnya; Gurutta. Seorang ‘ali ulama yangbegitu disegani dan dihormati, tidak hanya oleh lawan,tapi juga kawan. Ia yang menulis tentang Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa. Ia yang mengelu-elukan tentang perjuangan, ternyata belum cukup kuat dan mampu untuk meyakinkan diri bahwa berjuang dengan nyawa dan darah begitu berarti. Tidak hanya dengan tinta dan pena. “…malam ini, kita idak bisa melawan kemungkaran dengan benci dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasihati perompak itu dengan lembut. Kita tidak bisa membebaskan Anna, elsa, Bonda Upe, Bapak soerjaningrat. Dan seluruh penumpang dengan benci di dalam hati mala mini kita harus menebaskan pedang…” Ambo uleng, akhirnya mampu menajwab pertanyannya selama ini. Karena saatnya ia menuanaikan tugasnya sebagai ulama, yang memimpin di garis terdepan melawan kezaliman dan kemungkaran, tidak hanya dengan hati dan lisan, tapi juga perbuatan. Judul : Rindu. Tebal :544 hal; 13.5 x 20. 5 cm Pengarang : Tere Liye Penerbit : Republika Penerbit Thun terbit : Februari 2015 (cetakan ke XI) ISBN : 978- 602 – 8997 – 90- 4

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design