Thursday, 15 December 2016

Kekerasan Simbolik

Menurut Bordieu, hirarki sosial saat ini dan ketidaksetaraan sosial, juga suffering yang dialami masyarakat, diciptakan dan dipertahankan melalui bentuk dominasi simbolik daripada tekanan fisik. Dominasi-dominasi itulah yang kemudian disebut Kekerasan Simbolik. Gagasan tentang kekerasan simbolik tidak bisa lepas dari bahasa. Bordieu melihat bahwa bahasa adalah sebuah instrumen kekuasaan dan perbuatan seperti fungsinya sebagai alat komunikasi. Bahasa itu sendiri adalah bentuk dominasi. Analisis Bordieu tentang masyarakat berfokus pada proses klasifikasi dan dominasi. Dia berpendapat bahwa kategorisasi membuat dan mengatur kehidupan, bahkan mengatur orang dengannya. Hirarki dan dan sistem dominasi kemudian direproduksi terhadap sejauh mana para dominan dan yang didominasi meyakini sistem tersebut untuk disahkan dan kemudian berfikir dan bertindak sesuai dengan jalur masing-masing selama masih dalam konteks sistem itu sendiri.

Thursday, 10 November 2016

Walkman, Makanan dan kajian budaya

Jika Anda hidup di era 80an, mungkin Anda sangat mengenal walkman, dan betapa walkman menjadi salah satu benda yang sangat terkenal dan diinginkan oleh hampir semua kalangan pada waktu itu. Melalui tulisan ini, penulis mencoba membedah fenomena walkman sebagai sebuah kebudayaan. Selain itu, tulisan ini juga mencoba menjelaskan bagaimana makanan menjadi penanda sosial. Sesuatu menjadi kebudayaan sebab kita mengkonstruksikan makna di dalamnya. Pemaknaan menjadi penting sebab ia membantu kita menginterpretasikan dunia, membuat ‘benda’ atau’objek’ menjadi bermakna, sebab tanpa pemaknaan ia hanyalah sebuah benda atau objek tanpa arti. Pemaknaan menjadi jembatan antara materi dengan dunia, antara benda mati dan makhluk hidup. Sebuah objek dikatakan memiliki nilai budaya jika ia dibentuk melalui serangkaian makna dan praktiknya.

Hal ini sejalan dengan pengertian budaya menurut William yaitu sebuah deskripsi dari cara-cara hidup tertentu yang mengekspresikan makna dan nilai-nilai tertentu tidak hanya dalam seni dan pembelajaran, tetapi juga dalam institusi dan perilaku. Dan hal inilah yang coba dibentuk oleh Sony melalui walkmannya. Untuk merealisasikan makna budaya yang ingin ditawarkan, Sony melalui walkman,memiliki lima proses yaitu: Representasi, Identitas, Produksi, Konsumsi, dan Regulasi atau yang biasa disebut dengan Sirkuit kebudayaan. Makna sebuah objek tidak langsung ada, tetapi direpresentasikan di dalam bahasa dan tanda, baik oral maupun visual. 

Kolonialisme dan Peradaban Indonesia

Konsep civilization dibawa oleh orang Eropa (khususnya) ke Indonesia melalui kolonialisme. Untuk menjelaskan pernyataan tersebut sebelumnya kita perlu memahami apa itu civilization- selanjutnya peradaban-. Menurut Masinambow, terlepas dari etimologinya, peradaban adalah terjemahan dari istilah dalam bahasa Inggris civilization; Jerman, zivilisation; Perancis, civilization; Belanda beschaving. Ada dua dimensinya dalam pemaknaan peradaban, jika kita melihat istilah-istilah tersebut dari perspektif masyarakat Eropa Barat pada zaman ekspansi ke Benua Afrika dan Asia yaitu: a. adanya kehidupan kota yang berada pada tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perkembangan di daerah pedesaan (pengalaman pedesaan Eropa Barat) b. adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya atau pelampiasan dari dorongan-dorongan itu. 

Tuesday, 18 October 2016

Perempuan atau Wanita?


Banyak orang bertanya-tanya sebenarnya yang benar itu perempuan atau wanita? Beberapa kalangan berpendapat bahwa perempuan berasal dari kata’empu’ yang berarti milik, sehingga ditafsirkan bahwa perempuan memilik hak milik atas tubuhnya, atas dirinya sendiri sehingga mereka bebas berkehendak melakukan apapun tanpa harus ada pembatasan dan pendiskriminasian terhadap mereka.

Monday, 17 October 2016

STUNNING BATU PATUNG


“Waw keren”,hampir begitulah tanggapan wisatawan yang bertandang ke Batu Payung. Disambut dengan tegarnya sebuah batu yang berbentuk payung di tengah pantai ini menjadikannya sebagai sebuah daya tarik tersendiri yang menambah kekaguman para turis, baik lokal maupun mancanegara. Batu payung merupakan salah satu bagian dari Tanjun Aan yang terhampar sepanjang pantai selatan Lombok Tengah . Hanya dengan menyewa perahu selama 15 menit atau berjalan kaki sejauh 500 meter, kita sudah bisa menikmati indahnya Batu Payung. Awalnya tak ada yang tahu Batu Payung, tetapi sejak jadi tempat lokasi syuting iklan rokok Dunhil membuat nama Batu Payung melejit. Tidak hanya wisatawan luar daerah maupun luar negeri yang ingin menginjakkan kaki di tempat ini, tapi juga masyarakat Lombok sendiri sangat penasaran dengan Batu Payung sendiri. So, bagi Anda yang sedang berlibur ke Lombok, jangan sampai tidak ke sini ya..

Saturday, 15 October 2016

Gelisah


Aku gelisah Kamu gelisah Kita gelisah Negeri ini gelisah Tapi kita tak tahu kenapa Seperti bahasa yang bersifat arbitrer Kita tidak tahu kenapa benda itu harus bernama pintu Kenapa bukan tupin, tunpi atau tipun misalnya Kita juga tak tak tahu kenapa binatang itu namanya kucing Kenapa bukan cikung, cuking, kicung atau mungkin ngicuk Aku gelisah Kamu gelisah Kita gelisah Negeri ini gelisah Tapi kita tak tahu kenapa Kita bebas tapi kita terpenjara Kita bicara tapi kita bungkam Kita bergerak tapi kita diam Lagi, kita bahkan tak tahu kenapa Aku gelisah.

Trilogi Hunger Games dalam Perspektif Marxisme

photo from google Trilogi Hunger Games adalah cerita tentang Katniss, seorang gadis berusia 16 tahun yang tinggal di sebuah daerah pasca-apokalips di Amerika Utara, sebuah wilayah yang sekarang bernama Panem yang terbagi menjadi 13 distrik dengan ibu kota yaitu Capitol. Distrik-distrik tersebut sangat miskin, kecuali distrik 1 dan 2 yang lebih kaya daripada yang lainnya. Katniss dan keluarganya tinggal di distrik 12 di mana distrik tersebut adalah distrik yang menyedihkan, rakyatnya mencari penghasilan dengan berburu dan memancing di sekitaran hutan. Sebaliknya, Capitol menampilkan sebuah kekayaan yang berlebihan dimana kebobrokan budaya digabung dengan kekuatan ekonomi dan teknologi yang nyata. Capitol adalah sebuah parasit di distrik-distrik tersebut, menggunakan kekuatan teknologi untuk mengekstrasi sebuah persembahan. Sehingga, setiap tahun sebuah persembahan budaya diundang-undangkan – sebuah ritual pengorbanan dimana setiap distrik mengirimkan dua orang anak mudanya untuk bertarung menghadapi kematian dalam sebuah gelanggang pertunjukan yang bertempat di jantung kota. Katniss menjadi sukarelawan mengantikan saudara perempuannya yang sebelumnya terpilih untuk bertarung di ‘Hunger Games’ yang ke 74. Hunger Games ibaratnya seperti sebuah pertunjukan ‘sepotong roti dan sirkus.’ Sesungguhnya Panem berasal dari frasa Romawi ‘panem et circenses’, dan film tersebut seperti permainan Gladiator Romawi. Tetapi rasa keromawian dan kekunoannya dipadukan dengan teknologi yang sangat canggih dan besar yang membayangi kehidupan di luar Capitol seperti sebuah mimpi buruk. Tidak hanya dalam dunia nyata, rakyat di setiap distrik dianiaya dengan kobaran api dari pesawat yang tak berpenghuni yang sangat besar tapi ‘Hunger Games’ sendiri dimainkan di dalam sebuah computer, secara ahli dimanipulasi oleh pembuat permainan sehingga mereka bisa mengontrol permainan dan membuat efek mengerikan bagi para peserta Hunger Games. Aspek modernitas dalam film ini dikemas dengan jelas tidak hanya dalam aspek formal permainan tersebut - teknologi dasar - tetapi juga cara kontestan menghadapi tantangan-tantangan yang mempertaruhkan hidup dan mati. Untuk bisa bertahan mereka harus mengikuti serangkaian tes untuk mendapatkan sponsor yang nantinya mempermudah mereka mendapatkan bantuan seperti makanan, air, dan obat-obatan. Dalam film kedua, pasangan Katniss dan Peeta tampil dalam setiap pertunjukan, dan mereka mengunjungi setiap distrik menampilkan kemesraan di depan kamera seperti yang diperintahkan oleh presiden Capitol, mempertunjukkan keromantisan kisah cinta mereka dengan tujuan menutupi latar belakang kematian yang terjadi pada kontestan lain. Hal ini tetap mereka lakukan walaupun terpaksa sebab adanya ancaman dan kematian-kematian yang lain jika merela tidak mau melakukannya. Dalam kondisi tertentu, penderitaan yang Katniss dan Peeta alami tidak hanya soal perjuangan untuk bertahan tetapi lebih pada perjuangan untuk sebuah autentisitas – untuk mengklaim kembali substansi spiritual dari bentuk luarnya. Itulah kenapa walaupun dalam film/novel pertamanya hubungan Katniss dan Peeta hanyalah sandiwara untuk memperoleh keuntungan selama permainan berlangsung tapi kemudian dalam kenyataan mereka kemudian saling mencintai. Isu autentisitas bukan hanya tentang permainan, tetapi juga menyangkut masalah yang lebih luas dari sebuah karya fiksi yang Suzanne Collin angkat. Realita Panem menjembatani adanya benturan antara autentisitas dan non-autentisitas. Capitol adalah dunia yang dipenuhi dengan kegemerlapan, para penghuninya hidup dengan bersenang-senang, dan sering menghadiri pesta-pesta mewah. Sementara sebaliknya, orang-orang di distrik hidup melarat dan serba kekurangan. Keadaan Panem dan distrik-distrik sangat berkebalikan seperti 1% melawan 99% seperti di ekspresikan oleh ‘gerakan Pendudukan’. Pertentangan yang ditampilkan Collin antara realitas distrik yang nyata secara mendalam dengan aspek non-autentisitas ‘virtual’ Capitol merepresentasikan pertentangan dalam dunia nyata melalui kebangkrutan ekonomi global, kenaikan modal finansial dalam biaya modal industri-industri dan perkembangan industri produktif. Dalam aspek ini, trilogy The Hunger Games adalah sebuah karya fiksi yang menakjubkan. Tapi masalahnya adalah, ketika sebuah karya menjadi popular ada beberapa elit yang tidak melihat secara keseluruhan usaha yang telah dilakukan penulis. David Denby – salah satu pekerja The New Yorker – selain tidak mengindahkan nuansa politis dalam karya tersebut juga mencoba menghilangkan nilai-nilai perjuangan seorang remaja demi rakyat yang kemudian menyatakan bahwa itu hanyalah pemuasan individu dan karya-karya romantic. Selain itu, beberapa juga menyatakan bahwa The Hunger Games menjiplak sebuah novel Jepang tahun 1999 (yang juga difilmkan) Battle Royale, yang memicu banyak perdebatan baik di media mainstream maupun media online. Alvin Lin, penulis di Hypen, mengatakan bahwa kedua film tersebut menggambarkan pemerintahan otoriter yang korup yang mengharuskan para remaja di pulau terpencil untuk bertarung secara sadis dengan saling membunuh menggunakan beberapa senjata sampai hanya tersisa satu pemenang. Pada saat yang sama Collin mengatakan “ saya tidak pernah mendengar tentang buku tersebut atau pengarangnya sampai buku saya terbit.” Kesamaan antara Battle royale (yang selanjutnya saya singkat BR) dan The Hunger Games (selanjutnya saya singkat THG), yaitu keduanya sama-sama lahir sebagai respon kepada pemerintah terhadap krisis nasional. Tetapi krisis dalam THG menggambarkan secara jelas pembangkangan sebagai bagian dari kemiskinan dan eksploitasi rakyat di setiap distrik. Sementara BR tidak menampilkan hal tersebut. BR lebih menekankan pada karakter psikologis masing-masing tokoh serta aksi-aksi saling bunuh yang terjadi. Trilogi THG lebih menekankan kepada konten-konten politis: misalnya kita diperlihatkan kehidupan distrik-distrik yang sangat sengsara dan menyedihkan akibat eksploitasi dari elit-elit kota. Kompetisi dalam THG kemudian adalah miniatur penggambaran tentang kondisi sosial dan eksploitasi yang terjadi. Sementara BR lebih focus pada ‘aksi’ dan meskipun diperlihatkan dasar sosiologis kompetisi tersebut seperti kebangkrutan ekonomi, remaja yang nakal, dan seterusnya, hal tersebut hanya diperlihatkan secara sekilas tanpa eskplorasi dan elaborasi lebih dalam. Proses kenapa konflik terjadi dan bagaimana hal tersebut memengaruhi masyarakat tidak dihadirkan di film ini. BR juga tidak menampilkan konten dan nuansa/realitas politik. BR justru menggambarkan dengan jelas kebrutalan-kebrutalan dan kekerasan dalam kompetisi yang sebenarnya sembarangan dan nihilistis (menolak segala bentuk kekuasaan). Perbandingan keduanya akan menimbulkan spekulasi kenapa yang satu (THG) lebih kompleks dan totalitas menampilkan realitas social dan politik sementara yang satu hanya sekedar tontonan. Jawabannya adalah karena film tersebut adalah hasil perenungan panjang dari pengalaman penulis ketika menonton TV dari beberapa acara reality show. Seorang filsuf dari Slovakia. Slavoj Zizek menyatakan betapa perubahan yang sama pada dunia politik menyebabkan ‘gerakan Pendudukan.’ Poin Zizak jelas yaitu: di masa dulu perlawanan politik radikal menghasilkan beribu-ribu perjuangan tertentu, sebagai akibat dari perang yang berkepanjangan di seluruh dunia dan kebangkrutan ekonomi global. Aspek universalitas yang melandasi kapitalisme dan krisisnya diperlihatkan secara jelas. Itulah kenapa Zizek berpendapat bahwa era ‘gerakan Pendudukan terjadi karena isu-isu politik. Seorang pengarang komunis Bertolt Brecht menyatakan bahwa ‘ seni bukanlah sebuah cermin realitas tetapi sebuah palu yang membentuknya. Mungkin trilogy THG bukan hanya sebuah cemin tapi juga sebuah palu. Tidak hanya ingin menunjukkan realitas social dan perjuangan rakyat tetapi juga ingin membentuk dan mengonstruksikan bahwa perjuangan itu adalah sebuah keharusan. Opini Menurut saya The Hunger Games adalah sebuah karya seni yang luar biasa yang patut diapresiasi dan diacungi jempol. Bahkan, novelnya laris terjual mencapai daftar buku terlaris the new York times pada November 2008 dan tetap berada dalam daftar selama lebih dari 100 mingggu berturut-turut. Suzanne Collin adalah penulis buku remaja pertama yg berhasil menjual lebih dari satu juta buku elektronik di Amazon Kindle. Selain itu karyanya juga banyak menerima penghargaan . Terkait dengan adanya adanya kontroversi karna kemiripan dengan Battle Royale menurut saya itu sah-sah saja. Setiap karya terkadang bersumber dari ide yang sama, tapi tidak akan selalu sama, terbukti dengan kontrastive dari Tony Mckenna bahwa ada banyak perbedaan-perbedaan substantive dari kedua film tersebut. Eric Eisenberg juga berpendapat kalau The Hunger Games tidak menjiplak Battle Royale tetapi “menggunakan ide yang serupa dalam cara yang berbeda” baik dari segi perbedaan tema maupun cerita. Robert Nishimura: kebetulan mengembangkan ide yang telah digunakan berkali kali sebelumnya yang berasal dari mitologi yunani.^1 Bahkan beberapa film kalau kita amati juga cenderung memiliki kesamaan dengan The Hunger Games seperti The Condemned, The Most Dangerous Game, The Lottery. etc Upaya mengontraskan antara The Hunger Game dan Battle Royale menurut saya sebagai sesuatu yang objektif, daripada sekedar membandingkan kedua film tersebut, sebab segala sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sekaligus sebagai upaya menjawab kenapa kemudian THG tidak sama dengan BR dan tidak menjiplak BR. Sebab THG lebih menekankan pada signifikansi realitas social dan politik sementara BR menekankan pada aksi dan tidak mengelaborasi keduanya. Seperti yang sering kita dengar bahwa kapitalisme selalu melahirkan ketertindasan dan yang selalu dikorbankan adalah kelas bawah. Dalam trilogi ini Capitol diibaratkan seperti kapitalisme yang menyengsarakan dan mengambil keuntungan di mana kaum proletar (rakyat di tiap distrik ) selalu menjadi korban sementara kaum borjuis dan aristocrat (orang-orang yang hidup di Capitol) adalah penindas. Maka perjuangan itu selalu lahir dari ketertindasan yang akhirnya melahirkan perlawanan dari kaum-kaum yang selama ini mrasa dirugikan atas keserakahan kaum borjuis dan Katniss Everdeen adalah symbol perlawanan. Seorang Mockingjay. Film ini menurut saya berhasil membawa pesan tersebut sekaligus mampu membawa penontonnya ke dalam perasaan yang sama seperti yang dialami Katnis dan kaum yang tertindas. 1. https://id.wikipedia.org/wiki/Trilogi_The_Hunger_Games Note : tulisan ini sebagai laporan tugas baca Teori Kebudayaan

Wednesday, 12 October 2016

GILI PASIR YANG MEMESONA

Pernah mendengar Gili Pasir? Jika belum, Anda wajib membaca ini! Gili Pasir adalah salah satu dari banyak gili-gili yang indah di Pulau Lombok. Terletak di Lombok Timur. Oh ya, sebelumnya, gili itu adalah sebutan untuk pulau-pulau kecil yang ada di Lombok Dijamin gak bakal nyesel deh ke sini, sebab bisa mnyaksikan pemandangan pantai yang sangat indah, apalagi bagi Anda penyuka sunset, di sinilah tempatnya . Di sini, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan pasir bergelombang yang indah banget sambil berfoto ria di bawah bendera merah putih yang tegak berdiri di tengah-tengah pulau. Selain itu, jika Anda adalah penyuka bintang laut, maka disinilah Syurganya. Bintang laut bisa ditemui dengan mudah dan jumlahnya banyak banget. Anda bisa mengambilnya untuk kemudian selfie atau groufie bareng. Anda juga bisa berkreasi dengan membentuk tulisan-tulisan atau tanda I lOVE U misalnya. Tapi, jangan lupa ya, dikembalikan lagi ke habitatnya, dan jangan di bawa pulang he he. Oh ya, terakhir, Anda harus ke sini di sore hari, sebab Gili Pasir hanya muncul di saat air laut surut. Untuk ke sini anda bisa naik perahu dari Pantai Pink atau Tanjung luar. Welcome to Lombok!

Monday, 10 October 2016

Kolonialisme kemarin dan hari ini?

Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Mungkin salah satu indicator sederhana untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah ‘daging dan buah.’ Apa hubungannya? Well, pertanyaan yang muncul kemudian adalah berapa kali rakyat bisa makan daging dalam seminggu atau misalnya sebulan? Dan berapa kali rakyat bisa beli buah dalam seminggu? Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi daging orang Indonesia adalah 1/10 dari orang Malaysia. Jadi, kalau orang Malaysia mengkonsumsi daging satu kg seminggu maka orang Indonesia hanya mengkonsumsi kurang lebih satu ons seminggu. Itu kita berbicara rata-rata dengan menjumlahkan antara konsumsi orang kaya dengan orang miskin, yang bisa saja bahkan orang miskin tidak pernah/jarang sekali mengkonsumsi daging dalam seminggu, sebulan bahkan setahun. Di kampung saya daging adalah satu barang mewah sebab tidak semua dan tidak setiap hari orang bisa mengkonsumsi daging. Daging hanya dikonsumsi pada saat-saat tertentu seperti Hari raya, hajatan, syukuran, dan acara-acara besar lainnya. Di luar itu, orang sangat-sangat jarang bisa mengkonsumsi daging, yang bisa membelinya hanya kalangan menengah ke atas. Dan mungkin fenomena ini tidak hanya terjadi di kampung saya, tapi juga hampir di seluruh tempat di Indonesia. Tentu ini sangat memprihatinkan, sebab Indonesia sebagai negara yang sangat kaya belum mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Begitupun dengan buah, harganya sungguh mencekik bagi kalangan bawah (kalau kalangan atas sih jangan ditanya). Jangankan untuk beli buah, untuk makan pun susah. Mungkin untuk buah-buah seperti pisang, papaya, jambu, sawo, dll bisa di jangkau sebab harganya lumayan murah, tapi itupun tidak setiap hari mereka bisa membeli. Tapi untuk buah-buahan elit seperti pear, anggur merah, apel merah, anggur hijau, dll yang harganya sudah 50an ribu bahkan ratusan ke atas, ini menjadi sangat sulit bisa diperoleh sama rakyat kelas bawah. Tentu ini menjadi paradoks tersendiri bagi bangsa ini di tengah semboyan yang sering kita elu-elukan “ Gemah ripah loh jinawi.” Saya tidak ingin mengatakan kemudian bahwa kita harus pesimis dengan kondisi ini, tidak. Sebab saya juga adalah orang yang percaya bahwa kejayaan Indonesia itu pasti akan datang. It is just the matter of time. Tapi saya ingin mengajak kita semua untuk berfikir kritis dan realistis bahwa dari dulu sampai sekarang kita masih tetap mengalami hal yang sama; kebutuhan perut belum tercukupi dengan baik. Mari kita sama-sama membuka mata. Jika dulu kita menghadapi kolonialisme dengan penjajah yang jelas, maka hari ini kita juga menghadapi koloniaisme tapi tidak jelas siapa penjajahnya. Jika dulu orang-orang kelaparan banyak, maka hari ini pun masih sama. Jika dulu orang kaya menindas orang miskin, maka hari ini pun masih sama. Mungkin hanya namanya yang berbeda. Atau bisa kita katakan Borjuis dan proletar dalam bentuk yang berbeda. Orang kaya tetap kaya , yang miskin tetap miskin. Orang yang bisa bertahan dan diuntungkan hanya orang yang memiliki ‘capital’ atau modal, sementara orang-orang yang tidak punya modal harus siap tergilas dan tertindas. Dr herdi (doktor di Cornell University) dalam disertasinya ketika ditanya “ apa permasalahan di negerimu?” beliau menjawab bahwa salah satu permasalahan bangsa ini adalah uang atau modal hanya di miliki oleh segelintir orang (bisa dihitung dengan jari), sementara rakyat yang selainnya hanya bia jadi peonton. Jika kita menganalogikan kondisi ini dengan piramida kapitalismenya Marx, maka mereka yang pemilik modal tadi adalah kaum aristokrat, sementara presiden, gubernur, bupati, menteri-menteri, dan pejabat-pejabat lainnya dari tingkat nasional sampai daerah adalah kaum borjuis dengan segala tingkatannya (mulai dari borjuis kelas atas smapai kelas bawah), dan yang terakhir adalah para buruh (tani, nelayan, industry, dan lain-lain) adalah kaum proletar yang menopang kehidupan kaum borjuis, yang mereka selalu menjadi korban. Kaum aristocrat mengatur kaum borjuis, dan kaum borjuis mengatur kaum proletar. Mungkin ini bisa jadi jawaban kenapa kemudian permasalahan korupsi, penegakan hukum, kasus mafia, dan lain-lain tida selesai-selesai. Sebab istilahnya ada ‘invinsible eye’ yang turut campur dalam permasalahan bangsa ini. Ketika pemilihan presiden, saya sempat bertanya kepada salah satu masyarakat di kampung saya siapa yang akan dipilihnya. Dia kemudian menjawab bahwa siapapun presidennya maka hidup saya akan tetap seperti ini, mau presidennya si A, B, atau C. hal ini mengindikasikan bahwa negara belum hadir pada ruang-ruang yang sangat kritis yaitu rakyat itu sendiri. Kita adalah bangsa yang semangat dasarnya adalah gotong royong, kita memiliki semangat social yang tinggi. Tapi keadaan semakin lama menjauhkan kita dari semangat dasar kita menjadi sikap individualis yang cenderung apatis. Dan semoga kita tidak terjebak dalam liberalisme kapital yang pada akhirnya bisa menjerumuskan. Dan sepertinya demokrasi kita sedang menuju ke arah sana; demokrasi liberal. Padahal sejarah sudah membuktikan bahwa demokrasi liberal tidak akan mampu bertahan lama. Jadi, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Secara de jure dan de facto memang iya, tapi secara nilai dan hakikat kemerdekaan, mungkin jawabannya tidak. Tulisan ini terinspirasi dari hasil kunjungan dan diskusi Bidang HLN (Hubungan Luar Negeri PP (Pengurus Pusat) KAMMI) dengan Dr Herdi Sahrasad (Dosen sospol Universitas Paramadina)

Thursday, 6 October 2016

Kebudayaan sebagai teks

Sebelum ke sana kita perlu menjelaskan beda antara budaya dan kebudayaan. Ada banyak sekali definisi tentang budaya dan kebudayaan. Tapi, secara umum bisa kita artikan budaya adalah konsep atau gagasan, sementara kebudayaan adalah hasil. Definisi yang paling populer tentang kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Jadi apa itu kebudayaaan sebagai teks? Kebudayaan sebagai teks bisa kita katakana kemudian adalah sesuatu yang berwujud yang tidak berada dalam batin, tetapi antara masyarakat sebagai sesuatu sesuatu yang harus di baca dan ditafsirkan. Untuk mengkaji kebudayaan sebagai teks bisa dengan pendekatan hermeneutika yaitu pertemuan cakrawala teks dengan cakrawala penafsir.

Thursday, 29 September 2016

Hubungan antara Semantik dan Sosiolinguistik

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa semantik secara berari makna kata. Makna sebuah kata dalam hal ini di refleksikan sebagai pola karakteristik semantik secara gramatika berdasarkan konteks (cruse, 1986 : 15). Dengan kata lain, makna tersebut tercermin dan dibentuk dari hubungan kontekstual di dalamnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa, makna kata dalam semantik menurut Cruse dipengaruhi dan dibentuk oleh hubungan kontekstual tanpa pengaruh dari situasi nyata penggunaannya. Hal ini sejalan dengan pengertian semantik yang diungkapkan oleh Leech (1982: 5) bahwa semantik adalah ilmu yang mengkaji makna sebagai ciri ungkapan suatu bahasa yang tidak berkaitan dengan situasi ujar, penutur, dan petutur. Apa hubungan antara Semantik dan sosiolinguistik? Ronald Wardaugh (1986) mengatakan bahwa sociolingistik berfocus pada investigasi antara hubungan bahasa dan masyarakat dengan tujuan bisa memahami lebih dalam tentang struktur bahasa, dan bagaimana bahasa berfungsi dalam komunikasi. Beberapa ahli juga memberikan definisi tentang Sociolinguistik yaitu: - Cabang linguistik yang mempelajari hubungan dan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial (Kridalaksana, 2011:225). - Kajian bahasa dalam penggunaannya untuk meneliti hubungan konvensi pemakaian bahasa dengan aspek-aspek lain dari tingkah laku sosial (Criper & Widdowson dalam Chaer, 2004). Ada beberapa focus studi yang dipelajari di dalam sosiolinguistik, seperti Bahasa dan Komunitas, dialek, variasi bahasa, dll yang jika dikaitkan dengan makna semantic di atas sebgai sebuah hubungan kontekstual, maka saling berhubungan. Menurut Wardhaugh ada beberapa hubungan antara masyarakat dan bahasa yaitu a. Struktur social bisa mempengaruhi atau menentukan struktur linguistic. Misalnya seorang anak kecil akan berbicara dengan cara yang berbeda kepada anak sebayanya, atau kepada yang lebih kecil, atau juga kepada yang lebih tua, begitupun juga sebaliknya. b. Struktur linguistik mempengaruhi atau menentukan struktur social. Misalnya sifat atau karakter orang Medan dan Orang Jawa berbeda. Orang Medan cenderung Keras, sementara orang Jawa cenderung lembut, karena pengaruh bahasa memengaruhi cara bicara seseorang/masyarakat. c. Saling memengaruhi: bahasa dan masyarakat saling memengaruhi. Fairclough (1996,Language and Power, 22) mengatakan bahwa ada tiga impilkasi bahasa sebagai praktik social. Pertama, bahasa adalah bagian dari masyarakat. Yang kedua, bahasa adalah proses social, dan yang ketiga bahasa adalah proses pengkondisisan social sebagai bagian dari masyarakat. Selanjutnya, dia menambahkan bahwa hubungan antara bahasa dalam masyarakat, bukanlah sebuah hubungan eksternal, tetapi juga hubungan secara internal dan dialektis. Dari penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa bahasa dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat, di mana mereka saling membutuhkan dan tidak bisa dipisahkan, begitupun juga dengan Semantik dan Sosiolinguistik. Bahasa sebagai sebuah alat komunikasi harus bisa dipahami dengan baik oleh penggunanya. Bagaimana kemudian pengguna bahasa bisa menangkap dan memahami makna dari pesan yang disampaikan oleh pengguna bahasa lainnya. Selain itu, bagaimana pengaruh struktur sosial terhadap penggunaan bahasa. Misalnya pengaruh identitas seseorang terhadap penggunaan bahasa seperti penagruh suku, jenis kelamin, agama, pekerjaan, strata social, hubungan kekerabatan terhadap peggunaan bahasa.

Thursday, 22 September 2016

Rindu (Tere Liye)

Apalah arti memiliki Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi.

Wednesday, 21 September 2016

Cinta Linguistik

Di matamu aku melihat sebuah wacana yang tak perlu dijelasan lagi dengan pendekatan pragmatik Aku mengerti Dalam tajam tatapmu aku menemukan sebuah makna semantik yang tak perlu alat bantu seeprti koherensi dan kohensi untuk menjelasan maksudmu Aku tahu Dalam bening wajahmu aku menangkap sebuah semiotik yang berbicara lewat index, icon, dan symbol Dan aku faham kita tak memerlukan relasi sintagmatis ataupun relasi paradigmatis sebab asosiasi kita begitu jelas Seperti anafora dan katafora yang menjadi diafora Seperti itulah kita aku dan kamu

Tuesday, 20 September 2016

Langkah-langkah serta Tips dan Trik mendapatkan beasiswa LPDP

Sumber Google


Beberapa tahun terakhir, beasiswa LPDP (Lembaga pengelola Dana Pendidikan) menjadi salah satu beasiswa yang banyak diincar banyak kalangan, baik dari professional, akademisi, terkhusus fresh graduate, sebab memang jika dibandingkan dengan beasiswa lainnya (yang di Indonesia), LPDP cenderung lebih menguntungkan (baik dari segi jumlah maupun pelayanan), sebab sesuai dengan salah satu nilai dasar LPDP yaitu ‘pelayanan’ maka LPDP berusaha menjadi yang terbaik dalam melayani. Bahkan LPDP mendapat predikat salah satu Lembaga terbaik dari pemerintahan. Dan memang untuk mendapatkan yang terbaik, diperlukan usaha yang ekstra sebab dari waktu ke waktu persaingan di LPDP semakin ketat. Lalu, persiapan apa sih yang perlu dilakukan? Dan Seperti apa sih bentuk seleksi LPDP? Let’s check it out!

Saturday, 17 September 2016

SEPERTI APA RASANYA JATUH CINTA?

Seperti apa rasanya jatuh cinta? Entahlah aku lupa Yang jelas rindu terkadang seperti sembilu Dan aku benci Seperti apa rasanya jatuh cinta? Entahlah aku lupa Yang jelas terkadang ia menyisakan luka Dan aku tak suka Seperti apa rasanya jatuh cinta? Entahlah aku lupa Yang jelas aku tak ingin jatuh Sebab aku lelah Seperti apa rasanya jatuh cinta? Entahlah aku lupa Sebab lelaki telah mati di dalam hatiku

AKU MENCARI HATIMU DIMANA-MANA

Aku mencari hatimu dimana-mana Di dalam lemari Di atas meja Di kolong ranjang Aku mencari hatimu kemana-mana Yang katamu telah kubawa begitu saja Tapi aku tak menemukannya Aku mencari hatimu di mana-mana Di dalam Tupperware Di dalam gelas Di atas piring Aku mencari hatimu ke mana-mana Tapi yang kudapati hanya kosong Benarkah aku telah membawanya Atau kau hanya menipuku

Monday, 8 August 2016

Pengalaman dan Tips Simak UI

Akhirnya, setelah perjuangan yang lumayan panjang bisa juga mendapatkaan kartu ini. Kalau di sini disebut KIM, Kartu Identitas Mahasiswa. Kalau pas S1 dulu namanya, KTM, Kartu Tanda Mahasiswa. Yeah, whateverlah, intinya sama. Well, gue mau cerita dulu nih, pengalaman tes masuk UI. Tesnya saat itu berlangsung hari Ahad tanggal 5 Juni 2016, dari pukul 7 pagi sd 12 siang. Tapi, to be honest gak ada rasa, time flies so so fast at that time. Guue tesnya dapatnya di fakultas Teknik gedung E (kalau gak salah) UI Depok. Sebenarnya bisa saja ngambil tesnya yang di Mataram, karena mulai tahun ini tes UI udah bisa di Mataram, tapi karena berbarengan waktunya dengan PK LPDP, jadinya sekalian aja gue ambil yang di Jakarta. Well sebelum ke tes, gue mau cerita dulu ne. Jadi sebelum tes SIMAK UI, gue ikut PK dulu. Apa itu PK? PK itu singkatan dari Persiapan Keberangkatan yang diadakan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang tujuannya untuk mempersiapkan para awardee baik secara fisik maupn psikis bisa menempuh studinya di kota atau negara tujuan dengan baik dan benar (kayak EYD aja ya :P). pembahasan PK lebih di lain waktu aja yah. Jadi waktu itu gue dapatnya PK yang ke 69 atau PK 69 dengan nama Balin Bahari (Ksatria Laut) yang katanya sih salah satu PK terbaik (yeee). Well, PK nya berlangsung dari hari Senin tanggal 30 Mei sampai Sabtu 4 Juni. PK itu seru banget sekaligus melelahkan. Kebayang gak sih kita bangunnya jam 04. 30 subuh terus tidurnya jam 12 malam, malah kadang jam 2 sampai 3 malam, bahkan ada yang tak sempat tidur, dan itu berlangsung seminggu. Seminggu guys. Can you imagine betapa melelahkannya?? Acara selesai pkul 18.00 WIB sekaligus packing plus foto-foto. Setelah itu gue langsung ke FT UI untuk melihat tempat biar besoknya gak kelabakan dengan membawa semua perlengkapan; koper dan bla bla blanya bersama abang Gojek. Gue suruh abang Gojeknya nunggu, eh dianya nggak mau, dia bilang “masih syukur gue mau anterin Neng, kalau yang lain mungkin gak mau, kopernya nih besar dan berat banget. ” ya sih kasihan bapaknya, pantesan tadi di tengah jalan bapaknya ngomel-ngomel gitu. Yah nasib nasib. Ya sudah akhirnya gue titip barang2 di pos satpam. Nah setelah selesai dan ambil barang, gue nunggulah di halte bus FT UI. Karena ini hari sabtu dan malam, bus UI gak lewat. Jadi gue pesen Gojek lagi, dan setelah abang Gojek sampai ternyata benar masnya tidak mau, nggak muat katanya. Akhirnya pakai Grab bike, bayarannya 60 ribu, kalau Gojek paling 20 ribu. Gue nunggunya lama banget lagi, udah jam 9 malam. Aduh, udah gak tenang banget. Udah malam, cewek, sendiri lagi, mana belum belajar buat tes besok. Hhfff. Can you feel what I feel? Ya akhirnya ada yang datang Bapak2 yang ternyata sedang S3 (wah keren, semangat belajarnya masih tinggi) sama calon mahasiswa juga yang mau tes kayak gue, orang Aceh (semoga masnya juga lulus ). Akhirnya bapak Grab nya datang. Gue waktu itu nginepnya di kos teman di Pancoran Jaksel (makasih Emass tumpangannya) dan sampai sekitar pukul 10 malam. Wah langsung mandi sholat dan belajar, tapi langsung tepaar. Capek banget. Tesnya jam 7, berarti gue harus datang lebih cepat. Biar gak telat akhirnya pakai Gojek (disini untungnya ada gojek). Gue berangkat sekitar jam 6.15. Eh ditengah jalan ada kebakaran lagi, macet. Hff. Akhirnya jam 7 kurang 10 sampai juga di FTUI, walaupun hampir tersesat karna ternyata abangnya tidak tahu di mana FTUI. Huh benar-benar. Pas sampe depan ada yang jual papan alas buat ujian-ujian itu lho, yah gue beli aja, gue bilang dalem hati, untung ada yang jualan, eh pas sudah masuk ruangan, pengawasnya bilang tidak diperkenankan membawa papan alas. Hmmm. Dan ketika pulang gue lupa masukin tas tu papan, dan tertinggallah. Well kita ke intinya, sorry ya bertele-tele. Soal ujian pertama tes TPA (Tes Potensi akademik) jam 7.30 sd 09.00 WIB. Alhamdulillah berjalan lancar. Karena tes ini pakai system penalty, jadi harus hati-hati jawabnya. Kalau gak yakin, mending gak usah dijawab deh. Waktu itu dari 90 soal gue jawabnya kurang lebih 50- 60 soal. Soal TPA terdiri dari sinonim, antonym, aljabar, antologi, deret angka dan huruf, deret gambar, analogi, dan penalaran. Kurang lebih itu kayaknya. Dan selanjutnya soal bahasa Inggris, terdiri dari dua bagian; struktur (40 soal) dan reading (50 soal). Well, pengerjaan soal struktur cukup lancar walaupun agak letih dan ngantuk, tapi bisa terjawab walaupun beberapa yang belum. Nah ketika pengerjaan soal Reading, aduh gila, ngantuk banget. Teks pertama dan kedua lumayan aman, nah teks selanjutnya sampai teks 5 sudah tidak bisa focus. Baru baca satu paragraph saja sudah ngantuk luar biasa, dan itu berlanjut sampai kurang lebih 30 menit. Tak ada satu soal pun yang terjawab. Entah gue gak tahu sempat tidur apa nggak tadi. Gi mana gak ngantuk cobak, semingguan begadang, kerja keras,eh besoknya ujian. Seharusnya hari ini adalah hari yang paling enak untuk tidur. Pengawas ngumumin tinggal 30 menit lagi selesai. What? Perasaan baru tadi deh dimulai. Gila, gue juga belum setengah selesai. Huh, akhirnya untuk menghilangkan kantuk, gue ijin ke depan ambil minuman (You C 1000) di tas (karena seluruh barang kecuali alat tulis dikumpulkan di depan, jadi ingat saat ujian SMA). Eh mana sulit banget lagi dibuka minumannya, trus gue duduknya paling belakang lagi pas deket dengan pak pengawas (ada dua pengawas), jadi gak bisa berkutik. Mau fresh eh malah makin pusing. Well sisa waktu tinggal 20 menit lagi. Gue berjuang dengan sisa waktu segitu mencoba menjawab yang terbaik. Karena Soal Bahasa Inggris gak pake penalty jadi gue berusaha jawab sebanyak mungkin, kalau gak tahu jawabannya yah pake system cap cip cup. Akhirnya waktu selesai, dan yah ada sekitar 10 soal mungkin yang tak sempat terjawab. Well. Manusia merencanakan, Allah yang menentukan. Gue udah berusaha sekuat yang gue bisa untuk itu, dan selebihnya biarlah itu menjadi urusan Allah. Yang penting kita sudah berikhtiar. Jarak dari tes sama pengumuman kurang lebih 1 bulan. Pengumumannya tanggal 1 Juli. Selama itu kadang gue merasa takut gak lulus, soalnya ngerasa gak maksimal banget ketika ngerjain soal. Yah, tapi Alhamdulillah, sekali lagi ini karena kuasa Allah. Mungkin buat teman-teman yang berencana mau masuk UI persiapkan diri dari sekarang. Pelajari soal-soal tes TPA sebanyak-banyaknya, dan soal-soal bahasa Inggris. Soal bahasa Inggrisnya kayak TOEFL tapi gak ada listeningnya, hanya Struktur dan Reading. No pain no gain. Yakin aja, usaha tidak akan pernah menghianati hasil selama kita yakin dan berusaha. Good Luck.

Sunday, 28 February 2016

Rapat dengar pendapat with Fahri Hamzah

Ilmu ekonomi adlah yg paling tua umurnya..
Perekonomian indonesia diatur dlm konstitusi pasal 33 uud 1945. Koperasi sbg pelaku ekonomi yg utama. Lama 2 berubh jadi kuperasi yg akhirnya jadi konglomerasi. Penguasaan negara thd kekayaan 2 alam tdak lagi dikuasai koperasi tapi konglomerasi. Itu kcemasan kita.
Kekayaan
Kedigdayaan kapital. kemana ekonomi indo bergerak?
Semua dikuasai konglomerasi: pakan, distribusi, market2 , konsumsi yg sudah merambah ke kecamatan2.
Akibat2 ketimpangan;

Konstitusi memperkuat batang tubuh masing2 rakyat indonesia sjg seharusnya
Transformasi ke depan kita harus jadi pelaku ekonini dengan memiliki aksi kapital mellui koperasi.
Jika kita gagal mjd produsen maka kita akan terus mjd konsumen dan selamanya jadi pengekor, shg.

Wednesday, 6 January 2016

Rindu

Apalah arti memiliki Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. Perjalanan itu selalu menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Dan ini adalah cerita tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan para pengembara dengan setting keberangkatan Haji menggunakan kapal laut selama sebulan lebih pada masa sekitar tahun 1900an, saat Indonesia masih belum merdeka. Pertanyaan pertama datang dari Bonda Upe, yang memiliki nama asli Ling-ling, seorang mantan Cabo (WTS). Aku seorang cabo Gurutta. Apakah Allah akan menerimaku di tanah suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak tanah suci? Apakah Allah akan menerimaku? “Kita tidak bisa lari dari masa lalu. Cara terbaik mengahdapi masalalu adalah dengan menghadapinya. Tentang penilaian orang lain? Kita tidak perlu menanggapi sebuah catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri. Kita tak perlu membuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita baik. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Hanya Allah yang tahu apakah Haji seorang pelacur diterima atau tidak. Bahkan Haji semua orang sekalipun. Kita hanya bisa berharap dan tawakkal. “ Pertanyaan kedua dari seorang Daeng Andipati, memiliki seorang istri yang cantik, dan dua orang anak yang lucu dan cerdas. Elsa (13 th) dan Ana (9 th) yang juga turut mewarnai keceriaan penghuni kapal ketika dalam perjalanan. Ia seorang kaya, terpandang, dan lulusan Luar negeri. Tapi ternyata ada sebuah rahasia besar, yaitu ia begitu membenci ayahnya sendiri, yang menelantarkannya, tidak peduli, suka berbuat kekerasan, dan tidak menghargai ibunya. “ Apakah tanah suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya? Bagaimana mungkin aku pergi anik Haji membawa kebencian sebesar ini? Bagaiamna caranya agar aku bisa memaafkan dan melupakan semua? “ ketahuilah Andi, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Ketika ada orang jahat, membuat kerusakan di muka bumi, misalnya, Apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar. Kenapa Allah tidak langsung menghkumnya? Kenapa Allah menangguhkannya? Itu hak mutlah Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham” “Berhenti membenci ayahmu, karena berarti kau sedang membenci dirimu sendiri. Berikanlah maaf karena kau berhak atas kedamaian dalam hati. Tutup lembaran lama yang penuh coretan keliru. Bukalah lembaran baru. Semoga kau memiliki lampu kecil di dalam hatimu.” Pertanyaan ketiga dari Mbah Kakung, yang beberapa hari selama dalam perjalanan tidak mau makan dan minum sejak ditinggalkan selama-lamanya oleh mbah Putri yang terpaksa dikuburkan di laut. Mereka adalah teladan tentang kesetiaan dan keromantisan. Kenapa harus sekarang Gurutta? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenaa harus ada di atas lautan ini? Tidak bisakah ditunda barang satu atau dua bulan? Atau jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram? Kenapa harus sekarang? “ Lahir dan mati adalah takdir Allah. Kita tidak mampu mengetahuinya. Pun tiada kekuatan bisa menebaknya. Kita tidak bisa memilih orang tua, tanggal, tempat. Tidak bisa. Itu hak mutlak Allah. Kita tidak bisa menunda maupun memajukannya walauun sedetik. Kenapa Mbah Putri harus meninggal di kapal ini? Allahlah yang tahu alasannya. Dan ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci, tidak menyukai takdir tersebut. amat terlarang bagi seorang Muslim mendustakan takdir Allah. Allah member apa yang kita btuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatau yang kita nggap buruk, boleh jadi baik untuk kita, begitupun sebaliknya. ” Pertanyaan keempat datang dari Ambo uleng. Seorang pemuda yatim piatu , bekerja sebagai kelasi kapal. Tampan, cerdas, dan bisa diandalkan, ternyata ikut perjalanan tersebut karena memilih pergi menjauhi masalalunya sejauh-jauhnya. Pemuda yang juga arti namanya adalah purnama yang bersinar. Semuanya Tentang cinta. Apakah cinta sejati? Apakah besok lusa akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah aku masih memiliki kesempatan? “cinta sejati adalah melepaskan. Cinta itu ibarat bibit tanaman. Jika dia tumbuh di tanah yang subur, disiram dengan pupuk pemahaman baik, dirawat dengan menjaga diri, maka tumbuhlah ia menjadi pohon yang berbuah lebat dan lezat. Jika ahrapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka terulah memperbaiki diri sendiri. Sibukkan diri dengan belajar. ” Ternyata pertanyaan terkahir tidak datang dari orang lain, melainkan seorang yang dianggap hidup damai tanpa pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal selama hidupnya; Gurutta. Seorang ‘ali ulama yangbegitu disegani dan dihormati, tidak hanya oleh lawan,tapi juga kawan. Ia yang menulis tentang Kemerdekaan adalah Hak Segala Bangsa. Ia yang mengelu-elukan tentang perjuangan, ternyata belum cukup kuat dan mampu untuk meyakinkan diri bahwa berjuang dengan nyawa dan darah begitu berarti. Tidak hanya dengan tinta dan pena. “…malam ini, kita idak bisa melawan kemungkaran dengan benci dalam hati atau lisan. Kita tidak bisa menasihati perompak itu dengan lembut. Kita tidak bisa membebaskan Anna, elsa, Bonda Upe, Bapak soerjaningrat. Dan seluruh penumpang dengan benci di dalam hati mala mini kita harus menebaskan pedang…” Ambo uleng, akhirnya mampu menajwab pertanyannya selama ini. Karena saatnya ia menuanaikan tugasnya sebagai ulama, yang memimpin di garis terdepan melawan kezaliman dan kemungkaran, tidak hanya dengan hati dan lisan, tapi juga perbuatan. Judul : Rindu. Tebal :544 hal; 13.5 x 20. 5 cm Pengarang : Tere Liye Penerbit : Republika Penerbit Thun terbit : Februari 2015 (cetakan ke XI) ISBN : 978- 602 – 8997 – 90- 4

Tuesday, 5 January 2016

The Dark Knight Rises

. the photo is taken from google. Story of a batman who saved the city but then accused as the killer of mayor in Ghottam. Actually at the end of the story, it is explained that the mayor didn’t die. He just in recovering term and due to some reason that must be hidden from public. “One day you may face such a moment of crisis, and that moment I hope you find a friend like I did, ” said the Mayor to Blake (Robin) who sees in TV the truth that during the time people was thought that Batman (Bruce Wayne) was the killer of the major. And the friend that the Major means was Batman, who was willing to be called as the killer during his life. The conflict is that the coming of Bane, the one that is very strong which tried to take control of the city by doing such kind of terrorism by trying to explode an atomic bomb to the city. What he wanted that the city is lost, the people is die. He wanted to revenge of the injustice that he thought he was endured. The one that people thought is those who run from a jail that every people couldn’t get out, but he did when he was child. At the end of the story, it is told that the one behind it all is Miranda Rate, the women that inherited Wayne’s institute and acting as good people at the beginning, and surprisingly, she was the child that runs from the jail, and she tried to kill Wayne when fighting with Bane who is the safer of Miranda. Miranda is the one who wants to take revenge of his father. But then when the crisis condition of the city, Batman appeared and help the people of the city with the help of a smart and strong woman. “You don’t owe this people anymore, you’ve given them everything,” she said to pursue him to go back because she thinks that the condition was very impossible to solve. “No, I am not giving them everything yet,” he replied and goes. And the end of the story, the city of Ghottam can be saved by batman through bringing the atomic bomb into the center of the sea, which didn’t harm the city, but it also means that Wayne gone with the bomb. “I see a beautiful city, and brilliant people. Raising from the immersed. I see life for which I lied up my life. Peaceful, useful, prosperous, and happy. I see that I hold a sanctuary of their heart which is lost. The continuing generation. It is hard, hard to do then I have ever done. It is very far, far for a rest than the place I have ever gone. ” the letter that he wrote.

Sunday, 3 January 2016

Da Conspiracao

Pengarang: Afifah Afra
Penerbit: PT Indiva Media Kreasi
Tahun terbit: 2012
Tebal : 632 hal;20 cm
ISBN: 978-602-8277-66-2
Bendara Raden Mas Rangga Puruhita, pemuda terpelajar, cerdas, visioner, lulusan sarjana ekonomi Universitas Leiden, dan seorang ningrat jawa keturunan Pakubuwono X. Ia diasingkan ke Ende, Flores, NTT karena terlibat dalam gerakan melawan kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda. Ia bertemu banyak orang orang yang membuat pengalamannya sebagai seorang Interniran bak permen nano-nano. Maria Dewi Pan Versie, Haji Abdullah, Mari Nusa, Herman Zondag, Tuan Van Persie, Hans van Persie. Dan tentunya Tan Sun Nio.
 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design