Friday, 7 March 2014

Masalah? Hadapilah!

Masalah adalah sebuah fitrah. Sunnatullah. Adalah sarana peningkatan kapasitas seseorang. Adalah batu loncatan seseorang menjadi lebih hebat. Tapi kemudian pertanyaan yan muncul adalah apakah semua orang memiliki pandangan yang sama tentang masalah itu sendiri? Kebanyakan orang ketika ditimpa masalah, terutama masalah yang lebih besar, kecenderungan seseorang akan merasa bahwa dialah orang yang paling sengsara di dunia, dan memiliki masalah yang paling besar di antara orang lain. Percaya atau tidak, mengakui atau tidak, tapi itulah faktanya. Coba Tanya ke nurani terdalam ketika menghadapi masalah, siapa orang yang lebih menderita daripada saya, kebanyakan temen-teman akan menjawab, sayalah orang yang paling menderita di dunia ini saat ini. Orang miskin merasa bahwa merekalah yang paling sengsara karena kemiskinannya itu, orang sakit merasa dialah yang paling sengsara dengan penyakitnya itu,orang yang ditimpa kesusahan merasa merekalah yang paling sengsara karena kesusahannya itu. Kamu tidak akan dibiarkan mengatakan diri saya beriman sebelum kamu diuji. Kurang lebih itulah bunyi salah satu ayat alquran. Dan ini semakin menegaskan bahwa setiap orang akan memiliki masalah, sebagai konsekuensi logis dari eksistensinya di muka bumi karena Allah menciptakan segala sesuatu tanpa kesia-siaan. Masalah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk dicaci ataupun ditangisi. Ia adalah batu loncatan yang akan menjadikan kita semakin dewasa. Sama seperti ujian di sekolah atau di universitas; ia menjadi penentu naik tidaknya kita ke tingkat selanjutnya, atau sebagai bukti dari kuantitatif kecerdasan kita. Maka, begitu juga dengan kehidupan, masalah itu adalah tangga untuk mencapai tangga yang lebih tinggi lagi. Jadi yang bisa kita lakukan adalah bersabar. Tapi sabar di sini bukan berarti pasif, tapi ia aktif. Ia mencari, ia bertahan, ia berusaha, dan ia bergerak. Bukan diam terduduk sambil meratapi nasib. Seperti kata ahmad Fuadi dalam bukunya ranah 3 warna bahwa jarak antara sungguh-sungguh dengan sukses itu bermacam-macam; kadang ia bisa dekat, cukup jauh, jauh, bahkan sangat jauh sekalipun. Maka, yang harus dilakukan dalam keberjarakan itu adalah aktif bersabar. Apa beda orang sukses dengan orang gagal? Orang sukses adalah orang yang mampu bertahan dengan masalah-masalah yang dihadapi. Semakin pelik, maka semakin kuat ia bertahan. Lihatlah kisah-kisah orang-orang sukses di dunia, baik di masa lampau maupun hari ini. Maka hampir mereka adalah orang-orang memiliki banyak masalah hidup, tapi mereka mampu mengatasinya. Seperti kisah garam dan telaga. Jika garam itu itu diibaratkan masalah, maka kita harus menjadikan hati kita seperti telaga yang luas, bukan seperti gelas yang kosong. Sebanyak apapun garam ditaruh di telaga, maka ia akan tetap jernih dan airnya terasa segar, sementara jika ia di masukkan gelas, sedikit apapun garam tersebut, ia akan tetap terasa asin dan pahit. Maka jadikanlah hati kita seperti telaga yang luas, tentu dengan banyak-banyak mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi dan Penyelesai masalah. Wallahua’lambisshowab.

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design