Tuesday, 11 March 2014

Hmmmmm

Bahagia? entahlah.. aku lupa seperti apa rasanya... serupa bunga yang hampir layu,,,sedih dalam kehilangan atau angin yang meniup bisu dalam ketiadaan.. tak ada nyala ataupun cahaya seolah kabut menghampiri dalam gelap,, sunyi dan sepi... sendiri.. keramaian hanya menambah sepi... kegemerlapan hanya menambah sunyi,,, sementara kebersamaan hanya menambah kesendirian... Luka? apakah aku terluka? mungkin iya mungkin tidak... sebab hati kadang masih bisa bicara entahlah... aku hanya sedang menunggu harap dalam sebuah ketidakpastian... kapan dan siapa???

Sunday, 9 March 2014

Buku dan Menulis

Sore tadi ketika ke Pusda (Perpustakaan Daerah) NTB, saya tertarik pada satu buku yang berjudul “Blogger NgomongPolitik: catatan HatiMantan Aktivis 1998” karya Baban Sarbana. Buku tersebut adalah luapan hati atau dengan kata lain bias kita katakana sebaga opini dan pendapat penulis tentang dunia politik itu sendiri. Diramudengan bahasa yang ringan disertai dengan diksi menarik membuat buku ini mudah difahami.Tulisan-tulisan penulis mengkomparasikan antara beberapa hal dengan hal lain atau pun antara peristiwa dengan peristiwa lainnya, sehingga disamping memperoleh ilmu baru juga kita dituntun untuk lebih berpikir kritis. Saya sedikit tergelitik, untuk membaca dan menulis, karena sudah beberapa lama agak vakum dalam menulis dan membaca.Kadang saya mempunyai ide untukmenulis, kemudian saya tulis dalam diary khusus berisi ide-ide, tapi lama-kelamaan hanya berupa kumpulan ide tanpa pernah teraktualisasi dalam bentuk tulisan, karena terkadang saya terlalu berfikir high,,,tulisan itu harus panjang, bagus, de el el Tapi kemudian saya sedikit tersadar bahwa jika kita menunggu sempurna, maka tak akan ada yang sempurna, begitupun dengan menulis. Kadang saya mencari begitu banyak buku tentang menulis; bagaimana menjadi penulis sukses, bagaimana menjadi penulis best seller, menulis sukses 30 hari, kiat sukses menulis, etc. juga mengikuti banyak pelatihan tulis menulis. Banyak sekali teori yang saya dapatkan, yang kemudian membakar semangat untuk produktif menulis, tapi itu tidak bertahan lama, “hot-hot chicken seat” kata guru b.inggris SMA dulu berlelucon.Dan kemudian saya menyadari bawa kunci dari menjadi penulis itu adalah menulis, tak perlu banyak teori ataupun retorika, cukup menulis, itusaja. Makamenjadipenulisharuslahberwawasan, oleh sebab itu maka buku haruslah menjadi teman setia, kapanpun dan dimanapun.Semangat membaca dan menulis!

Demokrasi, Transisi, Korupsi.

Latar belakang didirikannya lembaga penegak korupsi adalah reformasi 1998 di mana masyarakat menginginkan kehidupan yang lebih baik, yang di mana salah satu dari mandat reformasi adalah berantas KKN (korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang sudah mendarah daging di masa orde baru. Selain itu, perubahan dari otokrasi yang sarat dengan korupsi menuju demokrasi yang anti-korupsi menjadi angin segar perubahan menuju bangsa yang lebih sejahtera. Tapi kemudian kehidupan lebih baik yang diimpikan tak kunjung datang, malah korupsi semakin merajalela. Menurut world bank, definisi korupsi yaitu the misuse of public power for private benefit, sementara transparency International mengatakan bahwa corruption is the abuse of entrusted power for personal gain. Intinya sama, korupsi itu adlah memperkaya diri sendiri dari uang rakyat. Klitguard dalam buku tersebut menuliskan sebuah rumus korupsi, yaitu C = M + D – A. Dimana, C= corruption, M= Monopoly, D= discretion, A= accountability. Korupsi terjadi jika seseorang atau kelompok memiliki monopoli yang tinggi di tambah dengan diskresi atau keleluasaan/kesewenang-wenangan sementara pertanggungjawabannya lemah bahkan tidak ada, maka di sanalah celah untuk melakukan korupsi terbuka lebar. Apakah korupsi sebuah budaya? Korupsi bukanlah budaya, karena koruptor bukan seorang budayawan, ungkap seorang budayawan sambil nyeletuk. Korupsi bisa terjadi karena adanya cultural determinism, patrimonialisme, warisan historis pada zaman belanda dulu, juga karena adanya feodalisme. Maka disinilah persoalan korupsi sebagai persoalan transisi. Seperti kurva yang ada di cover buku tersebut yang menggambarkan bahwa transisi adalah klimaks dari persoalan korupsi, sedang otoriatarianisme adalah permulaan, sementara demokrasi adalah anti-klimaks dari korupsi itu sendiri. Masa transisi atau bisa kita juga mengatakan masa adaptasi sebagai klimaks terjadi karena kurangnya transparansi dan akuntabilitas dari pejabat public itu sendiri. Maka persalan korupsi di sini adalah persoalan sistemik yang juga harus diselesaikan dengan sistemik pula. Pertanyaan yang kemudian muncul dan perlu dimunculkan adlah bagaimana menghadapi masa transisi yang begitu rumit ini? Ini adalah sebuah pilihan sadar untuk kita semua, seperti apa dan selayaknya kita harus bagaimana. Maka yang perlu dilakukan adalah memahami dan memperkuat system integritas nasional itu sendiri, sebagai penyelesaian yang integral dan menyeluruh dari permasalahan korupsi yang sistemik. Ada delapan pilar system Integritas Nasional; public awareness, public anticorruption strategies, public participation, watchdog agencies, the judiciary system, the media, private sector, and the international cooperation. Maka dengan memperkuat semua institusi inti dan peran dari semua pihak; pejabat public (eksekutif, legislative, dan yudikatif), Auditor negara/ BPK, masyarakat sipil, dan swasta, semua menyatu dan bekerja sama memberantas korupsi mulai dari hal yang terkecil sampai hal yang terbesar, maka tidak ada ketidakmungkinan jumlah korupsi akan semakin menyusut dari hari ke hari. Kita perlu memunculkan sikap dan pikiran yang positif terkait nasib korupsi di masa depan. Karena dengan pikiran itu, maka akn muncul harapan yang disertai dengan niat dan usaha untuk melawan korupsi itu sendiri. Jika Indonesia baru menyadari permasalahan pelik korupsi dan baru mendirikan lembaga yang intens memberantas korupsi itu sendiri, maka Negara-negara yang sekaraang memiliki indeks persepsi korupsi rendah sudah melakukannya sejak dulu, misalnya Hongkong sejak 1974, Australia pada tahun 1988, As tahun1989, dan singapura tahun 1952, sementara kita baru pada tahun 2003. Maka tidak ada kata terlambat. Setidaknya kita berusaha menyiapkan kehidupan yang lebih baik untuk anak-cucu kita di masa yangakan datang.

Friday, 7 March 2014

Masalah? Hadapilah!

Masalah adalah sebuah fitrah. Sunnatullah. Adalah sarana peningkatan kapasitas seseorang. Adalah batu loncatan seseorang menjadi lebih hebat. Tapi kemudian pertanyaan yan muncul adalah apakah semua orang memiliki pandangan yang sama tentang masalah itu sendiri? Kebanyakan orang ketika ditimpa masalah, terutama masalah yang lebih besar, kecenderungan seseorang akan merasa bahwa dialah orang yang paling sengsara di dunia, dan memiliki masalah yang paling besar di antara orang lain. Percaya atau tidak, mengakui atau tidak, tapi itulah faktanya. Coba Tanya ke nurani terdalam ketika menghadapi masalah, siapa orang yang lebih menderita daripada saya, kebanyakan temen-teman akan menjawab, sayalah orang yang paling menderita di dunia ini saat ini. Orang miskin merasa bahwa merekalah yang paling sengsara karena kemiskinannya itu, orang sakit merasa dialah yang paling sengsara dengan penyakitnya itu,orang yang ditimpa kesusahan merasa merekalah yang paling sengsara karena kesusahannya itu. Kamu tidak akan dibiarkan mengatakan diri saya beriman sebelum kamu diuji. Kurang lebih itulah bunyi salah satu ayat alquran. Dan ini semakin menegaskan bahwa setiap orang akan memiliki masalah, sebagai konsekuensi logis dari eksistensinya di muka bumi karena Allah menciptakan segala sesuatu tanpa kesia-siaan. Masalah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk dicaci ataupun ditangisi. Ia adalah batu loncatan yang akan menjadikan kita semakin dewasa. Sama seperti ujian di sekolah atau di universitas; ia menjadi penentu naik tidaknya kita ke tingkat selanjutnya, atau sebagai bukti dari kuantitatif kecerdasan kita. Maka, begitu juga dengan kehidupan, masalah itu adalah tangga untuk mencapai tangga yang lebih tinggi lagi. Jadi yang bisa kita lakukan adalah bersabar. Tapi sabar di sini bukan berarti pasif, tapi ia aktif. Ia mencari, ia bertahan, ia berusaha, dan ia bergerak. Bukan diam terduduk sambil meratapi nasib. Seperti kata ahmad Fuadi dalam bukunya ranah 3 warna bahwa jarak antara sungguh-sungguh dengan sukses itu bermacam-macam; kadang ia bisa dekat, cukup jauh, jauh, bahkan sangat jauh sekalipun. Maka, yang harus dilakukan dalam keberjarakan itu adalah aktif bersabar. Apa beda orang sukses dengan orang gagal? Orang sukses adalah orang yang mampu bertahan dengan masalah-masalah yang dihadapi. Semakin pelik, maka semakin kuat ia bertahan. Lihatlah kisah-kisah orang-orang sukses di dunia, baik di masa lampau maupun hari ini. Maka hampir mereka adalah orang-orang memiliki banyak masalah hidup, tapi mereka mampu mengatasinya. Seperti kisah garam dan telaga. Jika garam itu itu diibaratkan masalah, maka kita harus menjadikan hati kita seperti telaga yang luas, bukan seperti gelas yang kosong. Sebanyak apapun garam ditaruh di telaga, maka ia akan tetap jernih dan airnya terasa segar, sementara jika ia di masukkan gelas, sedikit apapun garam tersebut, ia akan tetap terasa asin dan pahit. Maka jadikanlah hati kita seperti telaga yang luas, tentu dengan banyak-banyak mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi dan Penyelesai masalah. Wallahua’lambisshowab.
 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design