Thursday, 20 February 2014

Ranah 3 Warna

by Ahmad Fuadi (penulis dan Jurnalis)

            Manshabara Zhafira. Jarak antara sungguh-sugguh dengan sukses itu, bisa jadi dekat, sangat dekat, jauh, bahkan sangat jauh. I meter, 1 km, 10 km, ratusan km, bahkan ribuan km. oleh karena itu yang bisa tetap kita lakukan adalah bersabar. Sabar di sini bukan berarti pasrah. Tapi sabar yang aktif; sabar dalam bertahan, sabar dalam berusaha, dan sabar dalam mencari solusi. Dan mantra yang kedua itu telah mampu dibuktikan oleh Alif sendiri.
Buku ini adalah serial ke dua dari trilogy Negeri 5 Menara. Buku ini menceritakan tentang perjuangan alif untuk melanjutkan cita-citanya setamat SMA di pondok Madani.  Setelah lelah belajar menghadapi SNMPTN, akhirnya Alif diterima di Unpad jurusan HI.
 Mengalami masa-masa yang sulit di awal perkuliahan tidak menjadikannya putus asa, terlebih setelah kepergian ayahnya di semester keduanya, semakin memicunya untuk terus berusaha. Meski di awal-awal kepergian ayahnya, ia seringkali mengeluh, tapi kemudian ia menyadari bahwa maslah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk ditangisi ataupun dicaci. Ia mencoba peruntungannya dengan berjualan, mulai dari jualan pakaian Bibinya Randai (teman kampong plus teman sekamarnya yang seorang pengusaha ), sampai menjual alat-alat kecantikan milik tantenya Wira (teman satu angkatan), sampai akhirnya ia kecopetan dan dianiaya dan dirawat di rumah sakit.
ia akhirnya ingat mas Togar (seniornya yang tulisannya sudah tembus Koran local dan nasional). Ia kembali menemuinya dan meminta untuk jadi gurunya. Akhirnya dengan gemblengan Mas togar yang didisiplin menjadikan alif juga seorang penulis yang tak kalah handalnya. Tulisan alif pun bisa tembus Koran local. Tapi alif tidak sombong, ia tetap belajar dengan keras agar bisa tembus Koran nasional.
Salah satu cita-cita alif adalah pergi ke Amerika, dan itu bisa terwujud melalui program PPAN. Setelah melalui seleksi yang sangat ketat, akhirnya Alif bisa menjadi salah satu peserta PPAN (pertukaran Pemuda antar Negara) ke Kanada bersama tujuh orang lainnya.
Buku ini banyak bercerita tentang perjalanan Alif ke Kanada. Mulai dari pasangannya selama di sana (Frans; yang anehnya ingin belajar bahasa inggris dari alif, karena selama ini ia lebih banyak menggunakan bahasa prancis), orang tua angkatnya yang sangat baik dan perhatian, tempat magangnya (salah satu stasiun TV lokal) yang sangat sesuai dengan keinginnya, bagaimana merayakan hari pahlawan di sana, sampai perasaan cintanya epada Raisa yang sampai ending belum sempat diungkapkan, karena giliran mau diungkapkan, ternyata Raisa sudah dilamar Randai dan akan berniat segera menikah.

Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Salah satu di antaranya adalah Jangan pernah menyerah dan putus asa. Ibarat dua pisau, yang satu tumpul dan yang satu sangat tajam. Pisau yang tajam tersebut digunakan untuk memotong sebatang kayu, tapi hanya sekali, sementara pisau yang tumpul berkali-kali, maka yang akan bisa memotong adalah pisau yang tumpul. Begitupun hidup, jangan pernah menyerah, dan teruslah berusaha. Percuma intelektual tinggi dan segudang potensi jika tidak di asah terus menerus.

keep Moving forward

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design