Wednesday, 26 February 2014

Motivation Letter for MCHNDO

Being one of those people come from remote area in my town did not make me feel lower than others. Precisely, it motivates me to be better, to be one of those that must be useful at least for my village. Even though, I have no father to help me with, because he has passed away. I still have a mother that is very strong. She keeps fighting on growing me with seven siblings and encouraging us to continue our study. Realizing that, I study hard, I try hard to continue my study, and facing that all, I must be patient, positive thinking, hard-working, high spirit, strong and high motivation. One of my biggest dreams is to go abroad. I dreamt this dream since i was in senior high school. My English teacher often asks me to have a high dream and motivation. She told me that I had a long journey in my life ,I should use my time wisely. Then I came to Mataram University, I passed to English department. Here, I found my dream to go abroad is getting higher and higher. Most of the lecturers are those graduated from overseas. They told us about their experiences, their life, theirs motivation, their spirit and everything about foreign. It lead my motivation was going to burst. Not only the lecturers, but the students as well. I often saw and share to those who participate on students exchange and also scholarship. Our senior told us that lots of students of Mataram University, especially English has lots of chance to achieve that. What need to have is self confident and commitment. Then i try to follow those chance; students exchange and scholarship. At 2011, I apply for IELSP, SUSI religion programme, and in 2012 I also apply for SUSI media journalism programme. Unfortunately, I lose. I did fail for all of them. When I saw those people who win that chance, in the deepest of my heart, I feel mad, I envy to them. My heart shouted “why shouldn’t i?”.But then I realized that this is my fate. What need to do is keep trying and trying and never give up. The most important reason why I want to go abroad is I want to prove to my society that living in a village doesn’t mean that we cannot have an achievement. We are the same like those city people. The paradigm that is spread in my village is that people don’t need to go to school, they believe that it wouldn’t make a sense, just spend their money, they would better to go to work, even just being a laborer. I was very sad with the condition, I want to prove that even I am woman, I can do that, I am able to have an achievement. I do really want to change them (at least their paradigm) and motivate them that we can be better by going to school. I do believe that there are lots of people have the same paradigm, and I hope, this camp experiance can inspire them. Not only that things. When I go to internet stations or reading a geographic book, I was very enthusiastic to find about countries; their history, politics, lifestyle, people, economic, and their cultures. And I dreamt one day I can go there and share with them. Indonesia International Work Camp, whose aim to Support and follow up the World Heritage Volunteers program, Promoting and introducing international voluntary service as an initiative of youth volunteers, Increase the contribution by the youth and voluntary service organizations to World Heritage promotion and preservation, is the events that suit me well. As the president council in Mataram University in 2013, I have obligation to inform and to realize them about world heritage in all aspect, especially politics. I hope I can improve myself better, knowing and understanding how to take care of our heritage, and return from that program, I will make a community in which to introduce people, especially in my region, and to realize them about our heritage through seminar, competition, and people empowerment.

Saturday, 22 February 2014

Perenungan Kedua

Menjadi bernilai itu memang butuh pengorbanan Panjang….. Harus ada sakit..Jiwa, raga, batin Yang kadang semua tereduksi menjadi benih-benih benci Terkadang kita berfikir semua tak adil “Kenapa harus saya?” Selalu pertanyaan itu muncul menghantui Bosan… Selalu kata yang sama “kenapa bukan saya?” Kadang rasa benci dan marah menyelimuti Hingga merah serupa darah Dan kuning serupa nanah Aku ingin teriak pada semua Meluapkan semua keluh kesah Biar semua tak menjadi borok Aku hanya ingin membayar semua kepedihan ini Suatu hari… Tunggu aku di Alaska Jum’at, 191413 Perenungna ke dua

Friday, 21 February 2014

Hari ini aku belajaar arti kesabaran, tentang bagaimana manajemen emosi,,,
Hari ini aku belajar arti kecerdasan, tentang bagaimana harus banyak belajar,,,membaca,,diskusi,,,dan menulis..
Hari ini aku belajar kekuatan, tentang bagaimana menghadapi problematika yang ada
hari ini aku belajar kepemimpinan, tentang bagaimana memahami karakter masing-masing anggota...
dan hari ini, aku belajar memaknai cinta..

Kepada rekan-rekan DPM Unram 2013, juga kawan-kawan BEM 2013
terima aksih atas kontribusinya hari ini, terima kasih atas partisipasinya, untuk kealotan diskusi, argument-argument yang sama-sama kuat, terima kasih untuk saran, bentakan, sindiran, dan caciannya,,,,juga terima kasih untuk kue ulang tahunnya....
thanks for making me impressed..

Hari ini aku belajaar arti kesabaran, tentang bagaimana manajemen emosi,,,
Hari ini aku belajar arti kecerdasan, tentang bagaimana harus banyak belajar,,,membaca,,diskusi,,,dan menulis..
Hari ini aku belajar kekuatan, tentang bagaimana menghadapi problematika yang ada
hari ini aku belajar kepemimpinan, tentang bagaimana memahami karakter masing-masing anggota...
dan hari ini, aku belajar memaknai cinta..

Kepada rekan-rekan DPM Unram 2013, juga kawan-kawan BEM 2013
terima aksih atas kontribusinya hari ini, terima kasih atas partisipasinya, untuk kealotan diskusi, argument-argument yang sama-sama kuat, terima kasih untuk saran, bentakan, sindiran, dan caciannya,,,,juga terima kasih untuk kue ulang tahunnya....
thanks for making me impressed..

terima kasih juga untuk orang-orang yang selalu mendukung dan memotivasi

Negara dan Cita-cita Politik


Resensi buku
Judul buku          : Negara dan cita-cita politik
Pengarang          : Abu Ridho
Penerbit              : PT Syamil Cirpta Media
Halaman              : 112
Tahun terbit       : 2004

Buku Negara dan cita-cita politik ini merupakan salaha satu dari buku seri tarbiyah untuk para aktivis da’wah yang memang wajib dibaca. Buku ini mengulas segala hal yang berkaitan dengan Negara itu sendiri, mulai dari kenapa harus bernegara, tujuan bernegara, karakteristik bernegara, dan hal-hal yang berkaitan dengan konsep kenegaraan itu sendiri.
Buku ini terdiri dari Sembilan bab, dan tiap-tiap babnya menawarkan pembahasan-pembahasan yang berbeda atau dalam kata lain topiknya berbeda tapi masih saling berkaitan dengan bab-bab yang lainnya.
Buku ini dimulai dengan perkenalan secara universal mengapa kita harus bernegara. Kita dituntut untuk merenungi fithrah kita sebagai manusia yaitu sebagai makhluk interdependent yang tidak bisa hidup sendiri. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa imam Ghazali dalam bukunya ihya’ Ulumuddin menjelaskan tiga fithrah manusia sebagai makhluk social yaitu 1) procreation, yaitu tugas pelestarian dan pengembangan, yang bisa dilakukan mengenai perkawinan dan hubungan keluarga, 2)  Preparation, yaitu penyediaan kebutuhan primer, dan yang ke 3) protection, yaitu pemeliharaan keamanan dan perlindungan diri. Kemudian Abu Ridho menambahkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan fithrahnya itu manusia harus bekerja kolektif, dan itu dapat terlaksana apabila ada institusi yang menaunginya, atau dalam kata lain adanya Negara.
Kemudian bab selanjutnya dimulai dengan pertanyaan- pertanyaan mendasar, Apakah perlu manusia punya Negara? Negara seperti apa? Bagaimana cara mewujudkannya, tugas dan fungsinya utamanya apa? Dan bagaimana cara menyikapi Negara? Jadi kemudian Abu ridho mengatakan bahwa Negara adalah sebagai keharusan alamiah karena memang sesuai fithrahnya, manusia membutuhkan suatu wadah untuk berekspresi di dalamnya, juga untuk mencegah kejahatan-kejahatan individual yang harus dilawan dalam sebuah kekuatan yang massif dan terorganisir. Jadi di sini jelas kita membutuhkan Negara. Hasan Al banna di dalam buku tersebut mngatakan bahwa Negara itu adalah sebagai alat, sebagai kendaraan, bukan tujuan. Itu merupakan salah satu pokok yang perlu dipahami oleh masing-masing kita. Ditambahkan juga di sana, bahwa menurut imaduddin Kholil, bahwa manusia tanpa Negara ibarat benih tanpa pagar, tidak ada pelindung, jadi akan rentan terhadap kerusakan. Jadi di sini sanagt jelas, bahwa Negara adalah salah satu elemen penting untuk mencapai tujuan ibadah kita kepada Allah.
Lalu di buku tersebut juga dijelaskan tentang unsur-unsur mutlak Negara yaitu, rakyat, wilayah, dan pemerintah. Ditambahkan pula bahwa kepemimpinan islam akan tegak di atas dua pilar yaiu syariat islam dan umat islam sebagai syarat tegaknya Negara islam di bumi ini. Di buku ini juga dijelaskan watak pemerintahan islami itu, yaitu adil, seimbang, menjunjung syariat, system syuro dan yang terakhir egaliter dan kesatuan manusia.
Di akhir buku ini, dalam bab cita-cita siyasah ditegaskan bahwa cita-cita partai kita sebagai parpol islam adalah terciptanya sebuah kehidupan orang perorang dan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin yang dilandasi nilai-nilai ideologis yang dipatuhi, yang puncaknya mengejawantah pada kehidupan adil makmur dan seimbang, suatu kehidupan sejahtera yang diridhoi Allah, baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. Amin
Menurut saya, buku ini sudah secara gamblang menjelaskan tentang konsep-konsep Negara itu sendiri, mulai dari tujuan Negara, syarat-syarat adanya Negara, unsur-unsur pembentuk Negara sampai pada karakteristik dan watak pemerintahan islam yang merupakan salah satu dari kelebihan buku ini sendiri. Tapi sayangnya buku ini tidak mengeksplorasi lebih lanjut tentang strategi-starategi politik ataiu secara jelasnya langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan untuk menuju Negara madani itu sendiri, sehingga mungkin untuk mencapai pemahaman yang lebih universal dan komprehensif diperlukan referensi-referensi lain sebagai rujukan.
Terakhir, buku ini diperuntukkan untuk kalangan-kalangan konseptor atau ideology. Jadi tidak semua orang mampu memahami buku secara cepat, tepat, dan akurat, karena memang bahasa yang digunakan bisa kita katakan “sedikit berat” untuk para pemula, juga bagi mereka yang jarang bersentuhan dengan hal-hal yang berbau siyasi. Tapi terlepas dari itu semua, secara keseluruhan buku ini bisa dikatakn bagus dan sekali lagi wajib menjadi referensi kita semua, terutama bagi mereka yang selalu menggaung-gaungkan Negara islam maupun khilafah, juga bagi mereka yang posisinya sebagai kaum pemikir dan ideolog


sebuah penyeselan

wonderful
pernah benar-benar merasa bosan? muak dengan kehidupan ?

Thursday, 20 February 2014

Ranah 3 Warna

by Ahmad Fuadi (penulis dan Jurnalis)

            Manshabara Zhafira. Jarak antara sungguh-sugguh dengan sukses itu, bisa jadi dekat, sangat dekat, jauh, bahkan sangat jauh. I meter, 1 km, 10 km, ratusan km, bahkan ribuan km. oleh karena itu yang bisa tetap kita lakukan adalah bersabar. Sabar di sini bukan berarti pasrah. Tapi sabar yang aktif; sabar dalam bertahan, sabar dalam berusaha, dan sabar dalam mencari solusi. Dan mantra yang kedua itu telah mampu dibuktikan oleh Alif sendiri.
Buku ini adalah serial ke dua dari trilogy Negeri 5 Menara. Buku ini menceritakan tentang perjuangan alif untuk melanjutkan cita-citanya setamat SMA di pondok Madani.  Setelah lelah belajar menghadapi SNMPTN, akhirnya Alif diterima di Unpad jurusan HI.
 Mengalami masa-masa yang sulit di awal perkuliahan tidak menjadikannya putus asa, terlebih setelah kepergian ayahnya di semester keduanya, semakin memicunya untuk terus berusaha. Meski di awal-awal kepergian ayahnya, ia seringkali mengeluh, tapi kemudian ia menyadari bahwa maslah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk ditangisi ataupun dicaci. Ia mencoba peruntungannya dengan berjualan, mulai dari jualan pakaian Bibinya Randai (teman kampong plus teman sekamarnya yang seorang pengusaha ), sampai menjual alat-alat kecantikan milik tantenya Wira (teman satu angkatan), sampai akhirnya ia kecopetan dan dianiaya dan dirawat di rumah sakit.
ia akhirnya ingat mas Togar (seniornya yang tulisannya sudah tembus Koran local dan nasional). Ia kembali menemuinya dan meminta untuk jadi gurunya. Akhirnya dengan gemblengan Mas togar yang didisiplin menjadikan alif juga seorang penulis yang tak kalah handalnya. Tulisan alif pun bisa tembus Koran local. Tapi alif tidak sombong, ia tetap belajar dengan keras agar bisa tembus Koran nasional.
Salah satu cita-cita alif adalah pergi ke Amerika, dan itu bisa terwujud melalui program PPAN. Setelah melalui seleksi yang sangat ketat, akhirnya Alif bisa menjadi salah satu peserta PPAN (pertukaran Pemuda antar Negara) ke Kanada bersama tujuh orang lainnya.
Buku ini banyak bercerita tentang perjalanan Alif ke Kanada. Mulai dari pasangannya selama di sana (Frans; yang anehnya ingin belajar bahasa inggris dari alif, karena selama ini ia lebih banyak menggunakan bahasa prancis), orang tua angkatnya yang sangat baik dan perhatian, tempat magangnya (salah satu stasiun TV lokal) yang sangat sesuai dengan keinginnya, bagaimana merayakan hari pahlawan di sana, sampai perasaan cintanya epada Raisa yang sampai ending belum sempat diungkapkan, karena giliran mau diungkapkan, ternyata Raisa sudah dilamar Randai dan akan berniat segera menikah.

Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Salah satu di antaranya adalah Jangan pernah menyerah dan putus asa. Ibarat dua pisau, yang satu tumpul dan yang satu sangat tajam. Pisau yang tajam tersebut digunakan untuk memotong sebatang kayu, tapi hanya sekali, sementara pisau yang tumpul berkali-kali, maka yang akan bisa memotong adalah pisau yang tumpul. Begitupun hidup, jangan pernah menyerah, dan teruslah berusaha. Percuma intelektual tinggi dan segudang potensi jika tidak di asah terus menerus.

keep Moving forward

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design