Wednesday, 8 October 2014

Gathering community and blogger bareng Indosat

Sabtu, 20 September 2014 bertempat d kafe Delicio, mataram mall, persis berhadapan dengan Indosat Center, Indosat meluncurkan jaringan terbaru dengan menghadirkan beberapa komunitas seperti namanya yaitu “gathering community and blogger bareng Indosat.” Ada komunitas blogger, JKT 48 fans club, hijabers Lombok, ICT Universitas mataram, dan beberapa komunitas lainnya serta hadir juga Duta IM3 NTB. Kegiatan ini menghadirkan bapak Gunawan Pribadi sebagai narasumbernya, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi Tanya jawab. Peserta begitu antusias, terbukti dengan banyak sekali yang mengajukan pertanyaan mulai dari masalah jaringan, kuota internet, sampai masalah manajemen. Ini nih sesi yang paling seru. Bagi-bagi hadiah. Ada banyak banget hadiahnya. Yang pertama untuk peserta yang ikut games. Peserta diminta 4 orang untuk ikut games yang telah disediakan panitia. Seru abis. Sambil minum-minum plus download sesuatu menggunakan jaringan Indosat gratis, dapet hadiah pula. Ada juga yang beruntung dapet undian nomor Indosatnya, karena di awal (saat registrasi) para peserta dibagikan kartu gratis yang langsung bisa dipakai tanpa perlu registrasi. Asyik kan? so,buat yang pengen internetan super Cepat tanpa lelet. Ayo buruan move on ke Indosat!!! oh ya tak lupa juga foto-fotoan bareng di akhir acara..seru abis deh!!

Sunday, 5 October 2014

Hari batik nasional

Hari ini pas buka google, lihat gambar yang keluar kartun (ada bapak, anak, ibu , kakak,adik) lagi pakai batik. Dalam hati, wow keren banget neh, tumben. Eh ternyata hari ini hari batik nasional tanggal 2 October bertepatan dengan hari kamis Menurut Wikipedia, Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO. So, setiap instansi ataupun warga Negara dihimbau untuk memakai batik. So buat yang merasa mencintai Indonesia dan juga kebudayaan yang kita punya. Ayo pakai Batik. *well ini sebenarnya kan diposting tanggal 2Oct, tapi karna ada sesuatu dan lain hal baru bisa diposting sekarang. ^_^

Thursday, 2 October 2014

Hari batik nasional

Hari ini pas buka google, lihat gambar yang keluar kartun (ada bapak, anak, ibu , kakak,adik) lagi pakai batik. Dalam hati, wow keren banget neh, tumben. Eh ternyata hari ini hari batik nasional tanggal 2 October bertepatan dengan hari kamis. Menurut Wikipedia, Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO. So, setiap instansi ataupun warga Negara dihimbau untuk memakai batik. So buat yang merasa mencintai Indonesia dan juga kebudayaan yang kita punya. Ayo pakai Batik. *well sebenarnya tulisan ini harusnya di post kemarin, tapi ada halangan...but it's okelah...

Tuesday, 30 September 2014

i just need to...

I just need to be more patient More and more Coz I am about to see the light I just need to be calm More and more Coz the illumination is getting closer and closer I know Every decision requires any pain But I see clearly that I am about to reach the gain I just need some more steps And I just need to believe it *I am not going to force you or who ever to believe me. You have your own image about me, but I am no longer care what you think about me. I just care about what I am doing. That’s it

Friday, 29 August 2014

The dreamer

“…tanpa mimpi-mimpi, maka orang-orang seperti kita akan mati,” itulah perkataan Arai yang membuat Ikal akhirnya tersadar. Ikal yang saat itu tengah mengalami pesimistis yang mendalam sehingga menyebabkan peringkatnya turun dari peringkat 3 menjadi peringkat 75 di kelasnya; drastic. Dan akhirnya ia juga tersadar ketika menyadari perjuangan ayahnya selama ini untuk masa depannya. Novel ini adalah novel inspirasi yang berkisah tentang perjuangan anak manusia mengejar dan mewujudkan mimpinya. Ikal, seorang anak yang cerdas, memiliki seorang sepupu sekaligus abang sekaligus sahabat terdekatnya Arai; Seorang yang diceritakan berhati seputih salju dan seorang yang penuh kejutan, lapang dada, dan tidak pernah menyerah pada kerasnya kehidupan. Arai secara tidak langsung menjadi sumber inspirasi bagi Ikal sendiri. Arai selalu memandang kehidupan dengan positif dan percaya diri. Sorbonne, altar suci ilmu pengetahuan. Itulah tujuan mereka. Mungkin untuk ukuran anak desa miskin seperti mereka, it’s impossible. Tapi itulah kekuatan mimpi. Harapan, itulah yang membuat orang bisa hidup. Bernafas di tengah sempitnya ruang kemungkinan-kemungkinan yang ada. Bergerak diantara derap-derap yang tak pasti. Disinilah, kadang menjadi realistis sangat tidak dibutuhkan, sebab realistis ibarat pedal rem yang menghambat sebuah harapan. Jarak antara realistis dan pesimistis sangat dekat. Maka mimpi itulah yang menggerakkan Ikal dan Arai untuk terus berjuang, mengorbankan masa muda yang kata orang penuh sukacita dan bahagia. Bekerja siang dan malam. Menghadapi aral dan rintangan yang menghadang. Ketika SMA terbiasa bekerja sebagai kuli ngambat, yang akhirnya uang ahsil tabungannya dipakai untuk merantau ke Jakarta dengan berbekal keberanian dan keyakinan. Menjadi salesman, tukang fotokopi sampai akhirnya memiliki pekerjaan tetap di kantor post. Kemudian melanjutkan kuliah sambil bekerja. Walaupun lelah dan letih, maka itu tak dihiraukan, sebab semua pasti akan terbayar nanti jika kita kita bersungguh-sungguh. Peran orang-orang terdekat juga menjadi sangat penting. Jimbron, sahabat dekatnya yang selalu positif thinking dan mencintai kuda, ternyata telah menabung untuk mereka selama dua tahun untuk bekal mereka melanjutkan kuliah. Pak Mustard, kepala sekolah yang terkenal kejam dan displin tapi sebenarnya sangat baik dan perhatian. Pak Balia, guru sastra favorit yang telah menginspirasinya u menginjakkkan kaki di Eraopa dan Afrika. Dan tentu orang tua yang sangat mendukung dan mencintai mereka. Maka setelah kesuliatan itu ada kemudahan. Setelah kesulitan itu ada kemudian, demikian janji Allah. No pain no gain, kata orang berat. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian peribahasa kita. Karena tak ada yang sia-sia jika kita bersungguh-sungguh. It will bloom to where we planted it. Pertanyaannya adalah sudahkah kita menemukan tujuan kita dan sejauh mana kita sudah berusaha selama ini?

Tuesday, 11 March 2014

Hmmmmm

Bahagia? entahlah.. aku lupa seperti apa rasanya... serupa bunga yang hampir layu,,,sedih dalam kehilangan atau angin yang meniup bisu dalam ketiadaan.. tak ada nyala ataupun cahaya seolah kabut menghampiri dalam gelap,, sunyi dan sepi... sendiri.. keramaian hanya menambah sepi... kegemerlapan hanya menambah sunyi,,, sementara kebersamaan hanya menambah kesendirian... Luka? apakah aku terluka? mungkin iya mungkin tidak... sebab hati kadang masih bisa bicara entahlah... aku hanya sedang menunggu harap dalam sebuah ketidakpastian... kapan dan siapa???

Sunday, 9 March 2014

Buku dan Menulis

Sore tadi ketika ke Pusda (Perpustakaan Daerah) NTB, saya tertarik pada satu buku yang berjudul “Blogger NgomongPolitik: catatan HatiMantan Aktivis 1998” karya Baban Sarbana. Buku tersebut adalah luapan hati atau dengan kata lain bias kita katakana sebaga opini dan pendapat penulis tentang dunia politik itu sendiri. Diramudengan bahasa yang ringan disertai dengan diksi menarik membuat buku ini mudah difahami.Tulisan-tulisan penulis mengkomparasikan antara beberapa hal dengan hal lain atau pun antara peristiwa dengan peristiwa lainnya, sehingga disamping memperoleh ilmu baru juga kita dituntun untuk lebih berpikir kritis. Saya sedikit tergelitik, untuk membaca dan menulis, karena sudah beberapa lama agak vakum dalam menulis dan membaca.Kadang saya mempunyai ide untukmenulis, kemudian saya tulis dalam diary khusus berisi ide-ide, tapi lama-kelamaan hanya berupa kumpulan ide tanpa pernah teraktualisasi dalam bentuk tulisan, karena terkadang saya terlalu berfikir high,,,tulisan itu harus panjang, bagus, de el el Tapi kemudian saya sedikit tersadar bahwa jika kita menunggu sempurna, maka tak akan ada yang sempurna, begitupun dengan menulis. Kadang saya mencari begitu banyak buku tentang menulis; bagaimana menjadi penulis sukses, bagaimana menjadi penulis best seller, menulis sukses 30 hari, kiat sukses menulis, etc. juga mengikuti banyak pelatihan tulis menulis. Banyak sekali teori yang saya dapatkan, yang kemudian membakar semangat untuk produktif menulis, tapi itu tidak bertahan lama, “hot-hot chicken seat” kata guru b.inggris SMA dulu berlelucon.Dan kemudian saya menyadari bawa kunci dari menjadi penulis itu adalah menulis, tak perlu banyak teori ataupun retorika, cukup menulis, itusaja. Makamenjadipenulisharuslahberwawasan, oleh sebab itu maka buku haruslah menjadi teman setia, kapanpun dan dimanapun.Semangat membaca dan menulis!

Demokrasi, Transisi, Korupsi.

Latar belakang didirikannya lembaga penegak korupsi adalah reformasi 1998 di mana masyarakat menginginkan kehidupan yang lebih baik, yang di mana salah satu dari mandat reformasi adalah berantas KKN (korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang sudah mendarah daging di masa orde baru. Selain itu, perubahan dari otokrasi yang sarat dengan korupsi menuju demokrasi yang anti-korupsi menjadi angin segar perubahan menuju bangsa yang lebih sejahtera. Tapi kemudian kehidupan lebih baik yang diimpikan tak kunjung datang, malah korupsi semakin merajalela. Menurut world bank, definisi korupsi yaitu the misuse of public power for private benefit, sementara transparency International mengatakan bahwa corruption is the abuse of entrusted power for personal gain. Intinya sama, korupsi itu adlah memperkaya diri sendiri dari uang rakyat. Klitguard dalam buku tersebut menuliskan sebuah rumus korupsi, yaitu C = M + D – A. Dimana, C= corruption, M= Monopoly, D= discretion, A= accountability. Korupsi terjadi jika seseorang atau kelompok memiliki monopoli yang tinggi di tambah dengan diskresi atau keleluasaan/kesewenang-wenangan sementara pertanggungjawabannya lemah bahkan tidak ada, maka di sanalah celah untuk melakukan korupsi terbuka lebar. Apakah korupsi sebuah budaya? Korupsi bukanlah budaya, karena koruptor bukan seorang budayawan, ungkap seorang budayawan sambil nyeletuk. Korupsi bisa terjadi karena adanya cultural determinism, patrimonialisme, warisan historis pada zaman belanda dulu, juga karena adanya feodalisme. Maka disinilah persoalan korupsi sebagai persoalan transisi. Seperti kurva yang ada di cover buku tersebut yang menggambarkan bahwa transisi adalah klimaks dari persoalan korupsi, sedang otoriatarianisme adalah permulaan, sementara demokrasi adalah anti-klimaks dari korupsi itu sendiri. Masa transisi atau bisa kita juga mengatakan masa adaptasi sebagai klimaks terjadi karena kurangnya transparansi dan akuntabilitas dari pejabat public itu sendiri. Maka persalan korupsi di sini adalah persoalan sistemik yang juga harus diselesaikan dengan sistemik pula. Pertanyaan yang kemudian muncul dan perlu dimunculkan adlah bagaimana menghadapi masa transisi yang begitu rumit ini? Ini adalah sebuah pilihan sadar untuk kita semua, seperti apa dan selayaknya kita harus bagaimana. Maka yang perlu dilakukan adalah memahami dan memperkuat system integritas nasional itu sendiri, sebagai penyelesaian yang integral dan menyeluruh dari permasalahan korupsi yang sistemik. Ada delapan pilar system Integritas Nasional; public awareness, public anticorruption strategies, public participation, watchdog agencies, the judiciary system, the media, private sector, and the international cooperation. Maka dengan memperkuat semua institusi inti dan peran dari semua pihak; pejabat public (eksekutif, legislative, dan yudikatif), Auditor negara/ BPK, masyarakat sipil, dan swasta, semua menyatu dan bekerja sama memberantas korupsi mulai dari hal yang terkecil sampai hal yang terbesar, maka tidak ada ketidakmungkinan jumlah korupsi akan semakin menyusut dari hari ke hari. Kita perlu memunculkan sikap dan pikiran yang positif terkait nasib korupsi di masa depan. Karena dengan pikiran itu, maka akn muncul harapan yang disertai dengan niat dan usaha untuk melawan korupsi itu sendiri. Jika Indonesia baru menyadari permasalahan pelik korupsi dan baru mendirikan lembaga yang intens memberantas korupsi itu sendiri, maka Negara-negara yang sekaraang memiliki indeks persepsi korupsi rendah sudah melakukannya sejak dulu, misalnya Hongkong sejak 1974, Australia pada tahun 1988, As tahun1989, dan singapura tahun 1952, sementara kita baru pada tahun 2003. Maka tidak ada kata terlambat. Setidaknya kita berusaha menyiapkan kehidupan yang lebih baik untuk anak-cucu kita di masa yangakan datang.

Friday, 7 March 2014

Masalah? Hadapilah!

Masalah adalah sebuah fitrah. Sunnatullah. Adalah sarana peningkatan kapasitas seseorang. Adalah batu loncatan seseorang menjadi lebih hebat. Tapi kemudian pertanyaan yan muncul adalah apakah semua orang memiliki pandangan yang sama tentang masalah itu sendiri? Kebanyakan orang ketika ditimpa masalah, terutama masalah yang lebih besar, kecenderungan seseorang akan merasa bahwa dialah orang yang paling sengsara di dunia, dan memiliki masalah yang paling besar di antara orang lain. Percaya atau tidak, mengakui atau tidak, tapi itulah faktanya. Coba Tanya ke nurani terdalam ketika menghadapi masalah, siapa orang yang lebih menderita daripada saya, kebanyakan temen-teman akan menjawab, sayalah orang yang paling menderita di dunia ini saat ini. Orang miskin merasa bahwa merekalah yang paling sengsara karena kemiskinannya itu, orang sakit merasa dialah yang paling sengsara dengan penyakitnya itu,orang yang ditimpa kesusahan merasa merekalah yang paling sengsara karena kesusahannya itu. Kamu tidak akan dibiarkan mengatakan diri saya beriman sebelum kamu diuji. Kurang lebih itulah bunyi salah satu ayat alquran. Dan ini semakin menegaskan bahwa setiap orang akan memiliki masalah, sebagai konsekuensi logis dari eksistensinya di muka bumi karena Allah menciptakan segala sesuatu tanpa kesia-siaan. Masalah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk dicaci ataupun ditangisi. Ia adalah batu loncatan yang akan menjadikan kita semakin dewasa. Sama seperti ujian di sekolah atau di universitas; ia menjadi penentu naik tidaknya kita ke tingkat selanjutnya, atau sebagai bukti dari kuantitatif kecerdasan kita. Maka, begitu juga dengan kehidupan, masalah itu adalah tangga untuk mencapai tangga yang lebih tinggi lagi. Jadi yang bisa kita lakukan adalah bersabar. Tapi sabar di sini bukan berarti pasif, tapi ia aktif. Ia mencari, ia bertahan, ia berusaha, dan ia bergerak. Bukan diam terduduk sambil meratapi nasib. Seperti kata ahmad Fuadi dalam bukunya ranah 3 warna bahwa jarak antara sungguh-sungguh dengan sukses itu bermacam-macam; kadang ia bisa dekat, cukup jauh, jauh, bahkan sangat jauh sekalipun. Maka, yang harus dilakukan dalam keberjarakan itu adalah aktif bersabar. Apa beda orang sukses dengan orang gagal? Orang sukses adalah orang yang mampu bertahan dengan masalah-masalah yang dihadapi. Semakin pelik, maka semakin kuat ia bertahan. Lihatlah kisah-kisah orang-orang sukses di dunia, baik di masa lampau maupun hari ini. Maka hampir mereka adalah orang-orang memiliki banyak masalah hidup, tapi mereka mampu mengatasinya. Seperti kisah garam dan telaga. Jika garam itu itu diibaratkan masalah, maka kita harus menjadikan hati kita seperti telaga yang luas, bukan seperti gelas yang kosong. Sebanyak apapun garam ditaruh di telaga, maka ia akan tetap jernih dan airnya terasa segar, sementara jika ia di masukkan gelas, sedikit apapun garam tersebut, ia akan tetap terasa asin dan pahit. Maka jadikanlah hati kita seperti telaga yang luas, tentu dengan banyak-banyak mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi dan Penyelesai masalah. Wallahua’lambisshowab.

Wednesday, 26 February 2014

Motivation Letter for MCHNDO

Being one of those people come from remote area in my town did not make me feel lower than others. Precisely, it motivates me to be better, to be one of those that must be useful at least for my village. Even though, I have no father to help me with, because he has passed away. I still have a mother that is very strong. She keeps fighting on growing me with seven siblings and encouraging us to continue our study. Realizing that, I study hard, I try hard to continue my study, and facing that all, I must be patient, positive thinking, hard-working, high spirit, strong and high motivation. One of my biggest dreams is to go abroad. I dreamt this dream since i was in senior high school. My English teacher often asks me to have a high dream and motivation. She told me that I had a long journey in my life ,I should use my time wisely. Then I came to Mataram University, I passed to English department. Here, I found my dream to go abroad is getting higher and higher. Most of the lecturers are those graduated from overseas. They told us about their experiences, their life, theirs motivation, their spirit and everything about foreign. It lead my motivation was going to burst. Not only the lecturers, but the students as well. I often saw and share to those who participate on students exchange and also scholarship. Our senior told us that lots of students of Mataram University, especially English has lots of chance to achieve that. What need to have is self confident and commitment. Then i try to follow those chance; students exchange and scholarship. At 2011, I apply for IELSP, SUSI religion programme, and in 2012 I also apply for SUSI media journalism programme. Unfortunately, I lose. I did fail for all of them. When I saw those people who win that chance, in the deepest of my heart, I feel mad, I envy to them. My heart shouted “why shouldn’t i?”.But then I realized that this is my fate. What need to do is keep trying and trying and never give up. The most important reason why I want to go abroad is I want to prove to my society that living in a village doesn’t mean that we cannot have an achievement. We are the same like those city people. The paradigm that is spread in my village is that people don’t need to go to school, they believe that it wouldn’t make a sense, just spend their money, they would better to go to work, even just being a laborer. I was very sad with the condition, I want to prove that even I am woman, I can do that, I am able to have an achievement. I do really want to change them (at least their paradigm) and motivate them that we can be better by going to school. I do believe that there are lots of people have the same paradigm, and I hope, this camp experiance can inspire them. Not only that things. When I go to internet stations or reading a geographic book, I was very enthusiastic to find about countries; their history, politics, lifestyle, people, economic, and their cultures. And I dreamt one day I can go there and share with them. Indonesia International Work Camp, whose aim to Support and follow up the World Heritage Volunteers program, Promoting and introducing international voluntary service as an initiative of youth volunteers, Increase the contribution by the youth and voluntary service organizations to World Heritage promotion and preservation, is the events that suit me well. As the president council in Mataram University in 2013, I have obligation to inform and to realize them about world heritage in all aspect, especially politics. I hope I can improve myself better, knowing and understanding how to take care of our heritage, and return from that program, I will make a community in which to introduce people, especially in my region, and to realize them about our heritage through seminar, competition, and people empowerment.

Saturday, 22 February 2014

Perenungan Kedua

Menjadi bernilai itu memang butuh pengorbanan Panjang….. Harus ada sakit..Jiwa, raga, batin Yang kadang semua tereduksi menjadi benih-benih benci Terkadang kita berfikir semua tak adil “Kenapa harus saya?” Selalu pertanyaan itu muncul menghantui Bosan… Selalu kata yang sama “kenapa bukan saya?” Kadang rasa benci dan marah menyelimuti Hingga merah serupa darah Dan kuning serupa nanah Aku ingin teriak pada semua Meluapkan semua keluh kesah Biar semua tak menjadi borok Aku hanya ingin membayar semua kepedihan ini Suatu hari… Tunggu aku di Alaska Jum’at, 191413 Perenungna ke dua

Friday, 21 February 2014

Hari ini aku belajaar arti kesabaran, tentang bagaimana manajemen emosi,,,
Hari ini aku belajar arti kecerdasan, tentang bagaimana harus banyak belajar,,,membaca,,diskusi,,,dan menulis..
Hari ini aku belajar kekuatan, tentang bagaimana menghadapi problematika yang ada
hari ini aku belajar kepemimpinan, tentang bagaimana memahami karakter masing-masing anggota...
dan hari ini, aku belajar memaknai cinta..

Kepada rekan-rekan DPM Unram 2013, juga kawan-kawan BEM 2013
terima aksih atas kontribusinya hari ini, terima kasih atas partisipasinya, untuk kealotan diskusi, argument-argument yang sama-sama kuat, terima kasih untuk saran, bentakan, sindiran, dan caciannya,,,,juga terima kasih untuk kue ulang tahunnya....
thanks for making me impressed..

Hari ini aku belajaar arti kesabaran, tentang bagaimana manajemen emosi,,,
Hari ini aku belajar arti kecerdasan, tentang bagaimana harus banyak belajar,,,membaca,,diskusi,,,dan menulis..
Hari ini aku belajar kekuatan, tentang bagaimana menghadapi problematika yang ada
hari ini aku belajar kepemimpinan, tentang bagaimana memahami karakter masing-masing anggota...
dan hari ini, aku belajar memaknai cinta..

Kepada rekan-rekan DPM Unram 2013, juga kawan-kawan BEM 2013
terima aksih atas kontribusinya hari ini, terima kasih atas partisipasinya, untuk kealotan diskusi, argument-argument yang sama-sama kuat, terima kasih untuk saran, bentakan, sindiran, dan caciannya,,,,juga terima kasih untuk kue ulang tahunnya....
thanks for making me impressed..

terima kasih juga untuk orang-orang yang selalu mendukung dan memotivasi

Negara dan Cita-cita Politik


Resensi buku
Judul buku          : Negara dan cita-cita politik
Pengarang          : Abu Ridho
Penerbit              : PT Syamil Cirpta Media
Halaman              : 112
Tahun terbit       : 2004

Buku Negara dan cita-cita politik ini merupakan salaha satu dari buku seri tarbiyah untuk para aktivis da’wah yang memang wajib dibaca. Buku ini mengulas segala hal yang berkaitan dengan Negara itu sendiri, mulai dari kenapa harus bernegara, tujuan bernegara, karakteristik bernegara, dan hal-hal yang berkaitan dengan konsep kenegaraan itu sendiri.
Buku ini terdiri dari Sembilan bab, dan tiap-tiap babnya menawarkan pembahasan-pembahasan yang berbeda atau dalam kata lain topiknya berbeda tapi masih saling berkaitan dengan bab-bab yang lainnya.
Buku ini dimulai dengan perkenalan secara universal mengapa kita harus bernegara. Kita dituntut untuk merenungi fithrah kita sebagai manusia yaitu sebagai makhluk interdependent yang tidak bisa hidup sendiri. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa imam Ghazali dalam bukunya ihya’ Ulumuddin menjelaskan tiga fithrah manusia sebagai makhluk social yaitu 1) procreation, yaitu tugas pelestarian dan pengembangan, yang bisa dilakukan mengenai perkawinan dan hubungan keluarga, 2)  Preparation, yaitu penyediaan kebutuhan primer, dan yang ke 3) protection, yaitu pemeliharaan keamanan dan perlindungan diri. Kemudian Abu Ridho menambahkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan fithrahnya itu manusia harus bekerja kolektif, dan itu dapat terlaksana apabila ada institusi yang menaunginya, atau dalam kata lain adanya Negara.
Kemudian bab selanjutnya dimulai dengan pertanyaan- pertanyaan mendasar, Apakah perlu manusia punya Negara? Negara seperti apa? Bagaimana cara mewujudkannya, tugas dan fungsinya utamanya apa? Dan bagaimana cara menyikapi Negara? Jadi kemudian Abu ridho mengatakan bahwa Negara adalah sebagai keharusan alamiah karena memang sesuai fithrahnya, manusia membutuhkan suatu wadah untuk berekspresi di dalamnya, juga untuk mencegah kejahatan-kejahatan individual yang harus dilawan dalam sebuah kekuatan yang massif dan terorganisir. Jadi di sini jelas kita membutuhkan Negara. Hasan Al banna di dalam buku tersebut mngatakan bahwa Negara itu adalah sebagai alat, sebagai kendaraan, bukan tujuan. Itu merupakan salah satu pokok yang perlu dipahami oleh masing-masing kita. Ditambahkan juga di sana, bahwa menurut imaduddin Kholil, bahwa manusia tanpa Negara ibarat benih tanpa pagar, tidak ada pelindung, jadi akan rentan terhadap kerusakan. Jadi di sini sanagt jelas, bahwa Negara adalah salah satu elemen penting untuk mencapai tujuan ibadah kita kepada Allah.
Lalu di buku tersebut juga dijelaskan tentang unsur-unsur mutlak Negara yaitu, rakyat, wilayah, dan pemerintah. Ditambahkan pula bahwa kepemimpinan islam akan tegak di atas dua pilar yaiu syariat islam dan umat islam sebagai syarat tegaknya Negara islam di bumi ini. Di buku ini juga dijelaskan watak pemerintahan islami itu, yaitu adil, seimbang, menjunjung syariat, system syuro dan yang terakhir egaliter dan kesatuan manusia.
Di akhir buku ini, dalam bab cita-cita siyasah ditegaskan bahwa cita-cita partai kita sebagai parpol islam adalah terciptanya sebuah kehidupan orang perorang dan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin yang dilandasi nilai-nilai ideologis yang dipatuhi, yang puncaknya mengejawantah pada kehidupan adil makmur dan seimbang, suatu kehidupan sejahtera yang diridhoi Allah, baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. Amin
Menurut saya, buku ini sudah secara gamblang menjelaskan tentang konsep-konsep Negara itu sendiri, mulai dari tujuan Negara, syarat-syarat adanya Negara, unsur-unsur pembentuk Negara sampai pada karakteristik dan watak pemerintahan islam yang merupakan salah satu dari kelebihan buku ini sendiri. Tapi sayangnya buku ini tidak mengeksplorasi lebih lanjut tentang strategi-starategi politik ataiu secara jelasnya langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan untuk menuju Negara madani itu sendiri, sehingga mungkin untuk mencapai pemahaman yang lebih universal dan komprehensif diperlukan referensi-referensi lain sebagai rujukan.
Terakhir, buku ini diperuntukkan untuk kalangan-kalangan konseptor atau ideology. Jadi tidak semua orang mampu memahami buku secara cepat, tepat, dan akurat, karena memang bahasa yang digunakan bisa kita katakan “sedikit berat” untuk para pemula, juga bagi mereka yang jarang bersentuhan dengan hal-hal yang berbau siyasi. Tapi terlepas dari itu semua, secara keseluruhan buku ini bisa dikatakn bagus dan sekali lagi wajib menjadi referensi kita semua, terutama bagi mereka yang selalu menggaung-gaungkan Negara islam maupun khilafah, juga bagi mereka yang posisinya sebagai kaum pemikir dan ideolog


sebuah penyeselan

wonderful
pernah benar-benar merasa bosan? muak dengan kehidupan ?

Thursday, 20 February 2014

Ranah 3 Warna

by Ahmad Fuadi (penulis dan Jurnalis)

            Manshabara Zhafira. Jarak antara sungguh-sugguh dengan sukses itu, bisa jadi dekat, sangat dekat, jauh, bahkan sangat jauh. I meter, 1 km, 10 km, ratusan km, bahkan ribuan km. oleh karena itu yang bisa tetap kita lakukan adalah bersabar. Sabar di sini bukan berarti pasrah. Tapi sabar yang aktif; sabar dalam bertahan, sabar dalam berusaha, dan sabar dalam mencari solusi. Dan mantra yang kedua itu telah mampu dibuktikan oleh Alif sendiri.
Buku ini adalah serial ke dua dari trilogy Negeri 5 Menara. Buku ini menceritakan tentang perjuangan alif untuk melanjutkan cita-citanya setamat SMA di pondok Madani.  Setelah lelah belajar menghadapi SNMPTN, akhirnya Alif diterima di Unpad jurusan HI.
 Mengalami masa-masa yang sulit di awal perkuliahan tidak menjadikannya putus asa, terlebih setelah kepergian ayahnya di semester keduanya, semakin memicunya untuk terus berusaha. Meski di awal-awal kepergian ayahnya, ia seringkali mengeluh, tapi kemudian ia menyadari bahwa maslah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk ditangisi ataupun dicaci. Ia mencoba peruntungannya dengan berjualan, mulai dari jualan pakaian Bibinya Randai (teman kampong plus teman sekamarnya yang seorang pengusaha ), sampai menjual alat-alat kecantikan milik tantenya Wira (teman satu angkatan), sampai akhirnya ia kecopetan dan dianiaya dan dirawat di rumah sakit.
ia akhirnya ingat mas Togar (seniornya yang tulisannya sudah tembus Koran local dan nasional). Ia kembali menemuinya dan meminta untuk jadi gurunya. Akhirnya dengan gemblengan Mas togar yang didisiplin menjadikan alif juga seorang penulis yang tak kalah handalnya. Tulisan alif pun bisa tembus Koran local. Tapi alif tidak sombong, ia tetap belajar dengan keras agar bisa tembus Koran nasional.
Salah satu cita-cita alif adalah pergi ke Amerika, dan itu bisa terwujud melalui program PPAN. Setelah melalui seleksi yang sangat ketat, akhirnya Alif bisa menjadi salah satu peserta PPAN (pertukaran Pemuda antar Negara) ke Kanada bersama tujuh orang lainnya.
Buku ini banyak bercerita tentang perjalanan Alif ke Kanada. Mulai dari pasangannya selama di sana (Frans; yang anehnya ingin belajar bahasa inggris dari alif, karena selama ini ia lebih banyak menggunakan bahasa prancis), orang tua angkatnya yang sangat baik dan perhatian, tempat magangnya (salah satu stasiun TV lokal) yang sangat sesuai dengan keinginnya, bagaimana merayakan hari pahlawan di sana, sampai perasaan cintanya epada Raisa yang sampai ending belum sempat diungkapkan, karena giliran mau diungkapkan, ternyata Raisa sudah dilamar Randai dan akan berniat segera menikah.

Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Salah satu di antaranya adalah Jangan pernah menyerah dan putus asa. Ibarat dua pisau, yang satu tumpul dan yang satu sangat tajam. Pisau yang tajam tersebut digunakan untuk memotong sebatang kayu, tapi hanya sekali, sementara pisau yang tumpul berkali-kali, maka yang akan bisa memotong adalah pisau yang tumpul. Begitupun hidup, jangan pernah menyerah, dan teruslah berusaha. Percuma intelektual tinggi dan segudang potensi jika tidak di asah terus menerus.

keep Moving forward

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design