Thursday, 6 June 2013

Perempuan Baja



Juara satu Lomba menulis kisah inspiratif MT alkahfi FKIP Unram


Aku menamai  perempuan itu baja. Ya, perempuan baja. Perempuan yang menasbihkan seluruh hidupnya untuk pengorbanan. Berkorban demi orang-orang yang dicintainya. Yang tak pernah lelah meski sebentar, yang tak pernah letih meski sedetik. Yang kulihat dari tatapannya hanyalah semangat. Perempuan yang tak gentar meski onak, duri, panas, terik dan berbagai rintangan mendatangi. Ia selalu bisa menghadapinya dengan tenang. Ia seperti baja, kuat dengan tempaan apapun.
Dia seorang janda beranak tujuh, umurnya saat ini mungkin sekitar lima puluhan. Ia sendiri tidak tahu, kapan hari dan tanggal kelahirannya . Ia perempuan yang tak terlalu peduli hal-hal yang sifatnya seremonial, ia lebih mementingkan esensi dari sesuatu itu ketimbang hanya sekedar symbol. Ia sangat mencintai anak-anaknya. Ia adalah perempuan yang tidak hanya peduli terhadap keluarganya, tapi juga lingkungan sekitarnya.
                                                     *          *
 Tepat pada hari senin,  tanggal 22 Februari 2002, sang suami yang ia cintai meninggalkannya untuk selamanya setelah sekitar enam bulanan harus melawan tumor yang sudah stadium akhir. Berbagai upaya telah dilakukan, tapi Allah menakdirkan lain. Mungkin Tuhan menginginkannya menjadi perempuan perkasa dengan cara itu. Ia mencoba tegar, meskipun sebenarnya sangat rapuh. Ia terlihat begitu kuat. Ia tak ingin anak-anaknya semakin sedih jika ia bersikap cengeng.
Tak cukup sampai di situ, sang suami meninggalkan hutang yang begitu banyak. Berpuluh-puluh juta. Uang tunjangan sang suami pun tak cukup untuk membayar itu, hingga ia harus memotong gaji pensiun bulanan suaminya hingga 80 persen, dan yang tersisa hanya sekitar seratus ribu per-bulan. Saat itu anaknya ada tujuh, dan yang sudah menyelasaikan S1 hanya satu orang, dan sisanya masih bersekolah semua. Satu sedang kuliah, satu baru lulus SMA, satu masih SMA, dan tiga yang lain masih sekolah dasar. Beruntung masih ada beberapa petak sawah yang ia beli dulu, meskipun setengahnya masih berstatus digadai.
Tapi ia masih punya asa. Ia yakin akan keputusan Allah untuknya. Ia yakin, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Satu hal yang paling aku salutkan darinya, yaitu semangat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ia tidak ingin satu pun dari anak-anaknya tidak sampai jenjang perguruan tinggi. Ia pun begitu bersemangat mencari nafkah, selain untuk hidup juga untuk pendidikan anak-anaknya.
Suatu ketika, anaknya akan pergi sekolah, kembali ke pondoknya. Sang ibu tak punya sepeser uang pun untuk diberikan kepada anaknya, untungnya sang anak paham akan hal tersebut. Si ibu kemudian berkata ” anakku, ibu tak punya uang walau sepeser untuk kuberikan padamu, seandainya ibu punya, ibu akan memberikan semua yang ibu, sebanyak yang ibu punya, seratus ribu, dua ratus, satu juta, berapapun yang kau inginkan. Tapi untuk saat ini, ibu hanya bisa memberikan do’a .” Sontak sang anak pun menangis, berlutut dan bersujud di kaki sang ibu. ” ibu, bahkan doamu lebih dari cukup untuk kesuksesanku. Aku tak butuh uang ataupun materi, tapi cukup ridhomu ibu. Itu saja” keduanya pun berpelukan dalam suasana yang begitu haru.
Hari berganti, hinggga tak terasa waktu telah menjadi menjadi pendar-pendar harapan bagi setiap orang yang mencoba mengukir sejarah ,yaitu orang-orang yang selalu berusaha dan memanfaatkan waktunya dengan baik, tak terkecuali dengannya. Yang mencurahkan seluruh waktunya untuk sebuah harapan yang lebih baik, kesuksesan anak-anaknya.
Tiga anaknya yang lain sudah bekerja dan empat lainnya masih kuliah. Sang ibu selalu semangat untuk mencari keping demi keping logam untuk membayar biaya SPP sang anak. Ia rela pontang-panting sana-sini cari hutang. Lunas yang satu, minjam lagi di yang lain. Itulah satu-satunya cara agar bisa bertahan, selain dari sisa gaji yang sudah dihutangkan, yang jumlahnya tak seberapa.
Semua orang kampung tahu betapa perkasanya ia. Seorang janda yang ditinggal mati suami, memiliki tujuh orang anak, dan semuanya bersekolah, tidak ada yang pengangguran ataupun mnjadi TKI, karena saat itu di kampung tersebut banyak sekali orang yang pergi menjadi TKI. Akhirnya  ia menjadi ikon keperkasaan, banyak orang-orang yang tadinya tidak mau menyekolahkan anaknya kemudian bersemangat untuk mengikuti jejaknya. Ia menjadi trend -setter di kampungnya. Semua orang berpendapat “ jika ia saja yang janda bisa menyekolahkan anaknya, juga menikahkan dua orang putranya, kenapa kita tidak?”
Ujian tak sampai disitu. 15 Desembar 2010, anak lelaki bungsunya meninggal secara tiba-tiba, yang sebenarnya diharapkan nanti bisa menempati rumah dan menemani ibu yang sendiri sekarang, smentara dua anak lelakinya yang lain pergi mencari pekerjaan ke luar kota. Ibu mana yang tak bersedih ketika kehilangan buah cintanya, terlebih sudah 20 puluh tahun lebih ia bersama dengannya. Anak yang dicinta pergi begitu cepat. Satu hal yang disesalkannya, bahwa anak lelakinya tersebut belum sempat merasakan kebahagiaan dunia secara sempurna, ia jarang diberi uang banyak, dibelikan pakaian dan dimanja-manja. Ia merasa begitu kasihan pada anaknya. Ia selalu berdoa semoga anaknya bahagia di alam sana. Tapi sekali lagi ia tetap tegar, ia begitu kuat meskipun hatinya menangis tersedu.
Aku tak bosan-bosan menyebutnya perempuan baja. Perempuan perkasa. Perempuan yang tak pernah lelah mendaki bukit-bukit harapan. Perempuan yang tak pernah sakit menapaki lapak-lapak kesengsaraan. Perempuan yang selalu memasrahkan hidupnya hanya pada Allah. Bagiku, ialah srikandi pada zamannya.
Dialah ibuku. Perempuan yang terlahir dari rahim kebengisan zaman yang kemudian melahirkan sosok perkasa seperti dirinya. Ibu, sungguh aku kagum dan bangga menjadi anakmu. Perempuan desa yang luar biasa.
Ibu apa kabarmu di sana? Semoga engkau selalu diberi kekuatan olehNya.  Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Masihkah engkau berjibaku dengan padi-padi itu, hingga kadang meninggalkan perih di tapak kakimu? Atau masihkah engkau menapaki jalan-jalan terjal berbatu yang kadang membuatmu terjatuh dan terluka? Ibu, masih seringkah engkau menelan pahitnya kekecewaan?
Ibu aku ingin pulang! Memelukmu, berlutut lalu bersujud di kakimu!

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design