Wednesday, 5 June 2013

Midang (a short story)



Malam ini terasa berbeda dari beberapa puluh tahun yang lalu. Laju sepeda motor yang menderu tiap detiknya seolah menawarkan sesuatu yang berbeda. Ada yang hilang di antara saya-sayap malam. Dalam dekapan malam yang semakin pekat. Di sini,di tempat ini; tempat yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Aku memandangnya dengan pandangan sedih. Dalam setiap sumbar kata yang diucapkannya, ataupun dalam setiap gerak yang dilakukannya. Dia berbeda, sungguh berbeda dengan seseorang yang kukenal berpuluh tahun lalu. Pandangannya lebih menggoda, tatapannya seolah menawarkan sesuatu yang lain, dan yang terpenting ia rela memberikan sesuatu yang berharga dari dirinya hanya untuk seseorang yang menurutku ia tak mengenalnya dengan terlalu baik, hanya tahu sedikit kebaikan darinya kemudian ia anggap itu sebagai sebuah keyakinan, terlalu sempit memang.
Malam ini, lelaki itu kembali menemuinya entah untuk yang ke berapa kalinya, aku tak yakin dengan pasti berapa, tapi menurutku sering, terlalu sering malah. Apalagi tujuannya kalau bukan midang, menemui wanita pujaan hati yang dikasihinya. Ia berdiri di ambang pintu, menunggu sang perempuan membukakan pintu yang telah diketuknya dari tadi. 
                                         
Kemudian keduanya masuk ke dalam  rumah: mengobrol, berbincang, bercanda, tertawa, dan entah apa yang dilakukan mereka berdua di dalam sana. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Tak ada tanda-tanda keduanya keluar.
***
Hari ini langit jingga merona menampakkan guratan-guratan indah yang tersembunyi dalam tiap depa demi depa bagiannya. Memberikan kesan kepuasan ketika memandangnya. Seorang perempuan sedang duduk di salah satu bagian dari teras rumahnya, memandang pada langit jingga di ujung barat sana. Perempuan itu Aminah namanya, terlihat resah, gundah dan gelisah. Seolah sedang memikirkan sesuat yang sangat berat. Seorang perempuan tua datang membawa sepiring  dari dalam rumahnya.
perempuan itu kaget menyadari ibunya telah duduk di sampingnya.            
“Udin,
 Udin?”
Jingga sudah di ujung senja, tinggal menunggu beberapa menit lagi adzan berkumandang. Kedua perempuan itu mempersiapkan diri menghadapNya. Keduanya menuju  sebelum malam benar-benar gelap, karena jarak antara rumah mereka dengan lengkoq cukup jauh, sekitar dua ratus meter, terlebih tidak ada lampu yang dapat menerangi nanti, hanya bisa menggunakan  saja. Keduanya berjalan pergi, menyucikan diri, menyucikan hati.
***
Sementara di keheningan jingga yang lain, dalam dimensi yang berbeda, seorang perempuan muda berambut gondrong ala BCL (Bunga citra Lestari), yang rata kiri dan kanannya tidak sama, duduk di kursi teras rumahnya sambil memencet sesuatu yang mereka sebut HP sambil tersenyum-senyum sendiri, tertawa cekikikan tidak jelas karena apa. Kemudian terdengar lagu  Ayu Ting-ting yang ke mana-mana dari Hp si perempuan tersebut.
“Halo, yang” suara dari seberang sedikit terdengar jelas
“Ya, halo juga yang
 
 si perempuan terkekeh-kekeh sendiri
 terdengar suara si lelaki sedikit aneh, terdengar menyeringai di sela tawa-tawanya.
Lama mereka bercakap-cakap melalui alat komunikasi jarak jauh tersebut. Terdengar rayuan gombal si lelaki buaya darat membuat si perempuan mabuk kepayang, pipinya merona dan bahagia tak terkira, jelas tergambar dari wajahnya yang sebenarnya masih sangat lugu. Tetapi polesan make-up tebal di wajahnya membuatnya terlihat lebih dewasa dari usia sebenarnya. Sudah hampir satu jam, Tak ada tanda- tanda percakapan akan segera berakhir, keduanya terus asyik dengan rayuan-rayuan gombal yang saling mereka lontarkan.
 Sementara suara azan sudah berkumandang dari beberapa menit lalu melalui pengeras suara yang sangat keras yang sebenarnya mampu memekakkan telinga, berlomba-lomba di sana-sini terdengar. Tetapi kedua sejoli tersebut masih terus asyik bergeming dengan kata masing-masing, seolah tak terganggu.
Maghrib sudah di ujung waktu, baru kemudian keduanya menghentikan laju perbincangan di antara mereka berdua.
“Jangan lupa nanti ya, dandan yang cantik”
“.”
Klik. Terdengar suara telefon terputus. Si perempuan tersebut kemudian masuk ke dalam rumah sambil berjingkrak-jingkrak senang.
***
“Assalamu’alaykum” seorang lelaki berperawakan sedang memakai baju kemeja lengan pendek memakai sarung ditemani seorang laki-laki yang juga seumuran dengannya dan tingginya kurang lebih sama, berdiri di depan pintu menunggu seseorang membukakannya. Tak lama kemudian, seorang perempuan berparas anggun melenggang keluar dari pintu diikuti dengan salam. Sambil tertunduk malu-malu ia mempersilakan kedua tamunya duduk di teras depan rumahnya.
Keduanya duduk berhadapan dari jarak yang cukup jauh, sekitar dua meter. Mereka juga tidak sendiri, tapi ditemani seorang teman. Mereka berbicara banyak hal, tentang keluarga, tentang makanan, tentang apapun yang bisa diperbincangkan. Sesekali terdengar suara tertawa. Kadang keduanya terlihat menunduk malu memperlihatkan pipi mereka yang merah merona. Dari wajah-wajah mereka terlihat jelas bahwa mereka sedang saling jatuh cinta. Tapi cinta mereka tidak mereka ekspresikan dengan perbuatan, dengan sesuatu yang justru akan merusak martabat mereka. Mereka memilih diam, mengekspresikan cinta lewat bahasa tubuh masing-masing. Tidak ada sentuhan, pelukan bahkan ciuman. Karena mereka percaya bahwa melakukan hal tersebut tidak dalam ikatan yang suci adalah aib juga dosa, dan jika mereka melakukan hal-hal seronok tersebut, maka mereka harus siap mendapatkan hukuman dari warga desa, baik dari keluarga maupun masyarakat.
“Aku akan berangkat ke Malaysia seminggu lagi” sang lelaki terlihat sedih ketika mengatakan hal tersebut.
“Berapa lama aku harus menunggumu kembali?”
“Entahlah, jika memang waktunya nanti aku akan kembali”
“Apa yang bisa kita lakukan ketika kau di sana?”
“Setiap purnama tiba, aku akan mengirim sebuah surat untukmu. Memberimu kabar tentang keadaanku di sana, ataupun menceritakan hal-hal baru yang kutemui di sana”
“Ku pegang janjimu, semoga nanti kau mendapat bos yang baik di sana, dan cepat kembali pulang jika memang uang yang kau dapatkan sudah cukup”
“Aku pasti akan kembali untuk mempertanyakan hubungn kita berdua, dan untuk menepati janjiku.
“Aku pasti akan mendoakanmu, di setiap sujud terakhirku aku akan selalu berdoa untukmu”
            Kedua sejoli tersebut terlihat sedih dengan perpisahan yang sebenarnya mereka sama-sama tidak menginginkannya, tapi apa mau dikata, kisah cinta mereka memang harus seperti itu. Si lelaki kemudian pulang bersama kawannya, mengakhiri pertemuannya malam ini dengan perasaan yang tak menentu.
***
 
 suara di balik telfon terdengar marah
Klik. Ia memutus telfon. Rina, perempuan yang menurutku sangat malang itu mencoba menelfon, tapi yang terdengar justru suara perempuan berkali-kali. The number you are calling cannot be reached. Please try again later. “sial, tidak aktif” makinya.
            Perempuan itu menangis tersedu di  dekat rumahnya. Menyesali semua apa yang telah ia perbuat selama ia  dengan Amat, tetangga desanya. Lelaki yang ia bertemu dengannya empat bulan lalu melalui jejaring social, facebook, itu yang kebetulan lagi ngetrend di desanya. Akhirnya mereka saling tukar-tukaran nomor dan mulai kontak-kontakan.Sebulan kemudian mereka beberayean.
            Ia mengingat kepingan-kepingan masa lalunya bersama si Amat. Masa-masa indah mereka ketika bertemu, ketika bercengkerama, hingga ketika mereka tidak bisa meredam hasrat masing-masing di suatu malam. Ni’matnya memang pada saat itu saja, tapi setelahnya, penyesalan lebih besar berlipat-lipat.
***
Perempuan itu memandang langit biru dari kejauhan. Sepertinya ia ingin sekali bercengkerama dengan awan-awan yang berseliweran di kaki langit. Membagi bahagia yang sedang ia rasakan. Tatapannya begitu ceria.
Ia baru saja menerima sepucuk surat dari tukang pos. ketika ia melihat bahwa pengirimnya adalah Udin, sang kekasih tercinta. Ia terlonjak kegirangan. Di bacanya huruf demi huruf, ditelusurinya kata demi kata dari surat. Ia Nampak begitu bahagia

Teruntuk pujaan hatiku di pojok Lombok sana
Teriring salam juga sayang yang sebesar-besarnya kepada seseorang yang tengah gundah di kejauhan sana. Semoga berkahNya selalu menghampiri kita, dan kita selalu dalam naunganNya. Amin. Shalawat serta salam juga semoga selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
Sudah dua puluh empat purnama aku berada di sini seorang diri, di negeri asing yang awalnya aku sangat tak betah berada di sini, tapi mengingat ini semua juga untuk kebaikan kita berdua, aku berusaha menikmati segala sesuatunya. Aku rindu sekali kampung halaman. Memikirkan itu semua adalah salah satu hal indah yang bisa kulakukan di sini.
Dalam satu purnama lagi, aku telah memutuskan untuk kembali ke tanah tempat aku dilahirkan. Untuk mempertanyakan kembali kisah kita. Menyongsong hari esok yang lebih gemilang, untukku juga untukmu. Karena aku yakin, kaulah tulang rusukku yang hilang, maka sempurnakanlah ia dengan kehadiranmu di sampingku.
Aku datang untuk menepati janji.
Yang selalu merindukanmu.
***
Perempuan itu tidak tahu harus berbuat apa. Ia resah, kecewa, takut, gundah, gulana. Semua rasa bercampur menjadi satu. Ia teringat kisah nya dulu, Aminah dan Udin. Kisah cinta papuqnya yang berakhir indah dalam satu ikatan suci, pernikahan. Tapi apa yang telah terjadi padanya sekarang, hanya menyemai aib yang tentu akan membuat keluarganya malu. Ia benar-benar menyesal. Teramat menyesal hingga akal sehatnya sudah tak berfungsi lagi. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya, yang ia yakin adalah solusi dari semua permasalahannya. Ia tersenyum, tapi tak pasti bahagiakah ia dengan keputusan tersebut atau tidak.
***
Dua hari kemudian, dalam headline sebuah Koran lokal. Terpampang jelas “SEORANG GADIS REMAJA DITEMUKAN MATI GANTUNG DIRI DI SEBUAH POHON TUA DI DEPAN RUMAHNYA”
***
Ku ceritakan kisah ini kepadamu, kepada siapapun yang masih mau berfikir.Karena aku telah menyaksikan dua kisah cinta yang berbeda dalam dimensi yang berbeda. Kuceritakan ini melalui hembusan angin yang menggugurkan helai tiap helai bagianku. Melalui kicauan burung yang bertengger di badanku. Sebagai inspirasi, sebagai pelajaran bagi kita semua. Karena akulah satu-satunya saksi yang tersisa dari dua masa yang berbeda. Akulah pohon tua,yang mengabarkan ini semua kepadamu. Melalui angin, malam, dan purnama.
***
Catatan
1.      Merupakan salah satu adat sasak, yaitu laki-laki mendatangi rumah perempuan untuk mengenal lebih dekat perempuan, baik yang berstatus belum pacaran maupun sudah pacaran. Kalau dulu orang midang, ada aturan yaitu tidak boleh berdekatan dan harus ada orang yang menemani, tapi kalau sekarang bebas.
2.      Hai sayang, aku capek menunggumu dari tadi
3.      Maaf sayang, tadi ada yang harus saya urus sedikit
4.      Singkong rebus
5.      Apa yang kamu pikirkan anakku
6.      Ibu
7.      Apa yang kamu pikirkan anakku
8.      Ibu
9.      kenapa
10.  Dia mau pergi ke Malaysia sebulan lagi
11.  Sumur
12.  Lampu yang terbuat dari sisa-sisa botol yang kemudian di isi minyak tanah dan sumbu
13.  Apa yang kamu kerjakan di sana
14.  Tidak, ahnya sedang memikirkanmu saja
15.  Kamu iniada-ada saja, merayu ya
16.  Ya saying, saya tunggu
17.  Doakan saya dik
18.  Saying, aku hamil
19.  Apa?
20.  telaga
21.  berpacaran

























0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design