Sunday, 9 June 2013

Negara dan Cita-cita Politik


Resensi buku
Judul buku          : Negara dan cita-cita politik
Pengarang          : Abu Ridho
Penerbit              : PT Syamil Cirpta Media
Halaman              : 112
Tahun terbit       : 2004

Buku Negara dan cita-cita politik ini merupakan salaha satu dari buku seri tarbiyah untuk para aktivis da’wah yang memang wajib dibaca. Buku ini mengulas segala hal yang berkaitan dengan Negara itu sendiri, mulai dari kenapa harus bernegara, tujuan bernegara, karakteristik bernegara, dan hal-hal yang berkaitan dengan konsep kenegaraan itu sendiri.
Buku ini terdiri dari Sembilan bab, dan tiap-tiap babnya menawarkan pembahasan-pembahasan yang berbeda atau dalam kata lain topiknya berbeda tapi masih saling berkaitan dengan bab-bab yang lainnya.
Buku ini dimulai dengan perkenalan secara universal mengapa kita harus bernegara. Kita dituntut untuk merenungi fithrah kita sebagai manusia yaitu sebagai makhluk interdependent yang tidak bisa hidup sendiri. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa imam Ghazali dalam bukunya ihya’ Ulumuddin menjelaskan tiga fithrah manusia sebagai makhluk social yaitu 1) procreation, yaitu tugas pelestarian dan pengembangan, yang bisa dilakukan mengenai perkawinan dan hubungan keluarga, 2)  Preparation, yaitu penyediaan kebutuhan primer, dan yang ke 3) protection, yaitu pemeliharaan keamanan dan perlindungan diri. Kemudian Abu Ridho menambahkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan fithrahnya itu manusia harus bekerja kolektif, dan itu dapat terlaksana apabila ada institusi yang menaunginya, atau dalam kata lain adanya Negara.
Kemudian bab selanjutnya dimulai dengan pertanyaan- pertanyaan mendasar, Apakah perlu manusia punya Negara? Negara seperti apa? Bagaimana cara mewujudkannya, tugas dan fungsinya utamanya apa? Dan bagaimana cara menyikapi Negara? Jadi kemudian Abu ridho mengatakan bahwa Negara adalah sebagai keharusan alamiah karena memang sesuai fithrahnya, manusia membutuhkan suatu wadah untuk berekspresi di dalamnya, juga untuk mencegah kejahatan-kejahatan individual yang harus dilawan dalam sebuah kekuatan yang massif dan terorganisir. Jadi di sini jelas kita membutuhkan Negara. Hasan Al banna di dalam buku tersebut mngatakan bahwa Negara itu adalah sebagai alat, sebagai kendaraan, bukan tujuan. Itu merupakan salah satu pokok yang perlu dipahami oleh masing-masing kita. Ditambahkan juga di sana, bahwa menurut imaduddin Kholil, bahwa manusia tanpa Negara ibarat benih tanpa pagar, tidak ada pelindung, jadi akan rentan terhadap kerusakan. Jadi di sini sanagt jelas, bahwa Negara adalah salah satu elemen penting untuk mencapai tujuan ibadah kita kepada Allah.
Lalu di buku tersebut juga dijelaskan tentang unsur-unsur mutlak Negara yaitu, rakyat, wilayah, dan pemerintah. Ditambahkan pula bahwa kepemimpinan islam akan tegak di atas dua pilar yaiu syariat islam dan umat islam sebagai syarat tegaknya Negara islam di bumi ini. Di buku ini juga dijelaskan watak pemerintahan islami itu, yaitu adil, seimbang, menjunjung syariat, system syuro dan yang terakhir egaliter dan kesatuan manusia.
Di akhir buku ini, dalam bab cita-cita siyasah ditegaskan bahwa cita-cita partai kita sebagai parpol islam adalah terciptanya sebuah kehidupan orang perorang dan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin yang dilandasi nilai-nilai ideologis yang dipatuhi, yang puncaknya mengejawantah pada kehidupan adil makmur dan seimbang, suatu kehidupan sejahtera yang diridhoi Allah, baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. Amin
Menurut saya, buku ini sudah secara gamblang menjelaskan tentang konsep-konsep Negara itu sendiri, mulai dari tujuan Negara, syarat-syarat adanya Negara, unsur-unsur pembentuk Negara sampai pada karakteristik dan watak pemerintahan islam yang merupakan salah satu dari kelebihan buku ini sendiri. Tapi sayangnya buku ini tidak mengeksplorasi lebih lanjut tentang strategi-starategi politik ataiu secara jelasnya langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan untuk menuju Negara madani itu sendiri, sehingga mungkin untuk mencapai pemahaman yang lebih universal dan komprehensif diperlukan referensi-referensi lain sebagai rujukan.
Terakhir, buku ini diperuntukkan untuk kalangan-kalangan konseptor atau ideology. Jadi tidak semua orang mampu memahami buku secara cepat, tepat, dan akurat, karena memang bahasa yang digunakan bisa kita katakan “sedikit berat” untuk para pemula, juga bagi mereka yang jarang bersentuhan dengan hal-hal yang berbau siyasi. Tapi terlepas dari itu semua, secara keseluruhan buku ini bisa dikatakn bagus dan sekali lagi wajib menjadi referensi kita semua, terutama bagi mereka yang selalu menggaung-gaungkan Negara islam maupun khilafah, juga bagi mereka yang posisinya sebagai kaum pemikir dan ideolog


Saturday, 8 June 2013

Resume buku Membina Angkatan Mujahid





Resume
MEMBINA ANGKATAN MUJAHID (SA’ID HAWA)
BY
AZKIA ROSTIANI RAHMAN
UNIVERSITAS MATARAM



Al Islamu ya’lu wa la yu’la ‘alaih (islam itu tinggi, dan tidak ada yang mampu melebihi ketinggiannya). Tapi lantas pertanyaan kita di masa sekarang adalah apakah kondisi umat islam tertinggal oleh umat-umat lain? Apakah slogan tadi sudah tidak berlaku lagi? Apakah islam sudah tidak relevan dg perkembangan zaman?
Jawabannya, masih berlaku, dan benar adanya, tapi yang menjadi permasalahan bukanlah pada islamnya, tapi pada penganutnya, diri umat islam sendiri. Di sisi lain , umat islam saat ini sedang terlena oleh konspirasi-konspirasi yang dilakukan kaum musuh dan terjebak dalam kemaksiatan-kemaksiatan, sementara ada juga yang ingin bangkit tapi seringkali gagal memahami ruh ajaran islam. Maka gerakan ikhwanul Muslimin di Mesir yang didirikan hasan al Banna pada thaun 1948 mencoba menjawab semua kegalauan umat muslimin, yaitu melalui metode tarbiyah yang diterapkan.
Melalui  buku ini, said hawaa ingin menjelaskan dan membedah secara rinci apa yang menjadi pokok pikiran hasan al Banna ynag sekaligus menjadi landasan ideologis pergerakan Ikhwanul muslimin. Dengan ini, diharapkan generasi dakwah tertuntun dan terbimbing untuk mendalami pesan Hasan al Banna, juga agar lebih mudah menyebarkan dan mengaktualisasikan di tengah masyarakat. Apalagi di tengah era reformasi ini semoga mengantarkan kita menjadi generasi madani, yang setiap kita harus mengokohkan eksistensi diri secara nyata, agar suara kebenaran dan keadilan nyaring terbaring.
Buku ini dimulai dengan penjelasan mengenai hasan Al Banna sebagai peletak teori gerakan islam kontemporer, yang berlatar salah satunya pada kehancuran khilafah pada tahun 1924 di turki, yang kemudian Mustafa kemal attaturk sebagai pemimpin baru turki mengubah Turki menjadi Negara Sekuler. Kemudian bab 2 mengenai kunci memahami dakwah ikhwanul muslimin, dilanjutkan dengan bab tanggung Jawab Besar, tujuan ikhwan secara rinci, sarana mencapai tujuan, tahapan-tahapan da;wah, sampai bab risalah ta’lim dan sendi2 pembentukan pribadi islam yang terdiri dari dua bagian yaitu rukun bai’at  dan kewajiban-kewajiban mujahid, yang kemudian di akhiri uraian-uraian pelengkap.


I.                    Hasan Al Banna Peletak Teori Gerakan Islam Kontemporer

Ustadz Hasan Al Banna hadir di saat keadaan kaum muslimin tidak menentu. Yaitu keruntuhan khilafah utsmani, dan kondisi Mesir yang amburadul. Maka Hasan Al banna yang dikenal cerdas, seorang ulama’, bersahaja, dan banyak sifat kebaikan lainnya mendirikan gerakan yang disebut ikhwanul Muslimin. Dialah yang telah mengemukakan gagasan yang aplikatif, dan dapat diterima oleh setiap muslim, dari awal sampai akhirnya. Dialah sang pembaharu di masa kini, sebagaimana telah disepakati oleh semua  dengan tatanan aktivitas politik serta ekonomi. Fikrah Beliau adlah fikrah yang Syamil (komprehensif), yang memenuhi seluruh kebutuhan kaum muslimin.
Hasan al Banna dalam dalam perjalanan da’wahnya telah berhasil memadukan antara hukum-hukum syariat dengan tuntutan zaman; antara cita-cita melangit seorang muslim dengan pandangan realistis di lapangan; antara kesempurnaan tarbiyah dan ta’lim dg tatanan ekonomi dan aktivitas politik; mampu memenuhi hal-hal yang memenuhi hajat kaum muslimin. Itulah kenapa ia menjadi peletak teori gerakan islam kontemporer.

II.                  Kunci Memahami Dakwah Ikhwanul Muslimin
Kunci pertama yaitu umat islam harus sadar bahwa mereka harus mempunyai jamaah dan imam dan setia terhadapnya berdasarkan hadis bkhari. Prinsip dasar  gerakan yaitu jamaah dan imam. Kewajiban utama setiap muslim adalah memberikan kesetiaan kepada jamaah dan imam. Syarat jamaah islamiyah:  pemimpin yang lurus yang lahir dari rahim yang suci, memakai system syura yang islami, memiliki kefahaman dan kesadaran terhadap jamaah, kesucian pemimpin. Jamaatul muslimin adalah jamaah yang aktif menegakkan islam secara total dalam lingkup individu, keluarga, bangsa, dan dunia seluruhnya. Jamaatul muslimin adalah jamaah yang memahami islam dengan baik dan komitmen penuh atasnya. Intinya adalah kefahaman dan komitmen kejamaahan.
Kunci kedua adalah dengan memahami bahwa menegakkan hukum islam adalah kewajiban bagi setiap muslim  yang menuntut adanya sebuah jamaaah untuk memperjuangkannya, dan IM sebagai jamaah telah bekerja untuk tujuan2 tersebut. Dan ini menunjukkan bahwa tegaknya IM adalah hal yang harus diperjuangkan.
Kata kunci mengetahi pokok dakwah IM:
1.      Rasulullah telah mewariskan Al qur’an dan as sunnah yang harus kita pelajari, fahami, dan amalkan.
2.      Proses menghidupkan islam, melalui:
a.       Menghidupkan fiqih dusturi (fiqih negara) dan memformat kehidupan islami dengannya
b.      Menghidupkan fiqih anniqabah (system perserikatan dagang)
c.       Menghidupkan qawanin (undang-undang)
d.      Menghidupkan system rumah tanggga islam
e.       Mengembalikan dinamika kehidupan umat islam: menegakkan risalah islam
3.      Menghidupkan system nilai, baik global maupun sektoral. secara dasar (ushul) maupun furu’iyahnya. Jangan sampai ada pemahaman parsial.
Prinsip umum da’wah IM:
1.      Memiliki tujuan, sarana, strategi, system pengajaran dan pendidikan, prinsip2 organisasi, undang-undang, khittah, dan tata aturan lain yang semuanya hanya bersandar dan bertitik tolak pada islam.
2.      Menegakkan komitmen kepada islam sekaligus mengakomodasikan kepentingan zaman dengan jangkauan operasional seluas mungkin: cara pandang terhadap berbagai persoalan, ijtihad-ijtihad.
3.      Memelihara opini umum, baik tingkat regional, nasional, maupun internasional pada hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat.
4.      Hal-hal sebagai pegangan
a.       Dibenarkan syariat
b.      Sebanding dengan senjata musuh dan dapat mencapai tujuan.
5.      Prinsip dalam kaitan politik luar negeri adalah maslahah dengan maslahah, jangan sekali2 menukar prinsip.
6.      Semua wilayah pemerintahan islam harus tunduk pada kekuasaan aamiru mukminin dan seluruh perangkat pemerintah pusat dalam perspektif undang-undang yang berlaku.
7.      Hukum dapat berubah mengikuti perubahan masa, yang perubhana tsb terikat dengan perspektif islam.
Penjelasan tambahan:
1.      Kita harus memahami permasalahan dakwah, dan harus pandai mendakwahkannya, kemudian pandai mendekatkan orang-orang yang merespon kepadanya.
2.      Semua kader harus memahami bekal perjalanan, prinsip-prinsip langkah, dan kendala2
3.      Memahami kapasitas intelektual orang yang kita ajak bicara. Sesuaikan dengan bahasa mereka, dan poin pembicaraan adalah apa yang menjadi pertanyaan besar konstituen.

III.               Tanggung Jawab Besar

Tanggung jawab besar: tajdid (pembaruan) dan naql (alih generasi): pembaruan ajaran islam dan proses perubahan thd pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan perubahan umat islam dari satu fase ke fase yang lain.
# pembaruan: pemimpin yang tegas dan terpercaya: syarat2 kepemimpinan, sifat-sifatnya, bagaimana ia bekerja, bagaimana ia bertindak, bagaimana moralitas dan kecakapannya, perencanaan dan kapasitasnya, pola geraknya, sarananya, itu harus jelas dari awal.



1.      Tentang IM
a.       IM pusat perhatiannya pada pelayanan umum
b.      IM sbg gerakan pembaharuan
2.      Mengubah umat sebagai prolog mengubah dunia

IV.               Tentang  Tujuan

Dua  tujuan pokok:
1.      Membebaskan negeri islam dari semua kekuasaan asing
2.      Menegakkan islam di atas tanah air negeri yang merdeka
Tingkatan amal (Murattibul ‘amal)
1.      Perbaikan diri sendiri
2.      Pembentukan keluarga muslim
3.      Bimbingan masyarakat
4.      Pembebasan tanah air dari setiap penguasa asing – non islam-
5.      Memperbaiki keadaan pemerintah shg menjadi pemerintahan islam yang baik
6.      Usaha mempersiapkan asset negeri untuk kemaslahatan umat
7.      Penegakan kepemimpinan dunia denan penyebaran islam di seantero negeri

Tujuan ikhwah secara rinci

1.      Individu
10 muwasshofat kader
2.      Rumah tangga
Suami dan istri harus faham hak dan kewajibannya masing-masing.
Setiap muslim tidak boleh menjadi beban orang lain, shg ia harus memiliki pekerjaan.
3.      Masyarakat
-          Masyarkat yang menyerahkan dirinya kepada allah
-          Merespon seruan kebaikan
-          Memerangi kemungkaran
-          Menolak kedzaliman : Qs as syura; 39
4.      Pemerintahan
-          Kita menghendaki pemerintahan islam di seluruh muka bumi
-          Hasan al Banna: karakter pemerintahan isalam: anggotanay adl orang2 muslim, melaksanakan kewajiban, tidak bermaksiat, dan melaksanakan hokum-hukum islam.
-          Tidak mengapa menggunakan orang-orang non muslim, jika dalam keadaan terpaksa, asal  jangan jadi pemimpin
-          Bentuk dan jenis pemerintahannya tiddak menjadi maslahsepanjang sesuai dengan kaidah-kaidah umum dalam pemerintahan.
Mendukung, dengan syarat mereka menerima 4 hal:
a.       Dasar Negara dan undang-undangnya islam
b.      Realisasi proses penyerahan kepemimpinan Negara pada orang yang komitmen dg islam
c.       Politik luar negeri sejlana dg prinsip2 islam
d.      Tidak memerangi usaha penegakan islam, baiknasional maupun internaisonal.
5.      Daulah islamiyah
Kewajiban yang akan dipikul daulah:
a.       Memimpin Negara-negara islam: posisinya harus berada wilayah dunia islam sbg pusat pemerintahan: Arab
b.      Menghimpun beragam kaum muslimin. Ia member, mengabil, meminta, dan melindungi keberadaannya
c.       Mengembalikan keagungan umat islam dengan mengembalikan kekuasaan politik islam; hanya dapat dipikul oleh Negara yang punya karakter tertentu dalam bidang politik, ekonomi, dan militer
6.      Tegaknya daulah dan khilafah islamiyah
Kewajiban2 daulah islam:
a.       Mengamalkan hokum-hukum islam
b.      Melaksanakan system social secara lengkap
c.       Memproklamasikan prinsip-prinsip yang tegas ini kepada dunia
d.      Menyampaikan dakwah dengan arif dan bijaksana: menyiapkan sosok ideal
7.      Dunia seluruhnya hanya tunduk kepada Allah
# Al Anfal:39 dan as shaf: 9




Uraian tambahan:
System yang kita inginkan adl system yang dapat memberikan ketenangna kepada semua bangsa, kecuali mereka yang zhalim. Karakternya:
1.      System yang dapat menjamin kedaulatan undang-undang yang adil
2.      System yang mempertemukan potensi tokoh dan kelurusan manhaj; antara fleksibilitas aturan dan pelayanan yang baik
3.      System yang dapat mewujudkan pelayanana dan kemakmuran
Hukum islam ada dua macam:
1.      Hukum yang tidak diperselisihkan oleh para pemimpin islam
2.      Hukum yang diperselisihkan oleh umat islam: ada ijtihad

V.                  TENTANG SARANA

1.      Sarana pada tujuan pertama
-          Sarana membentuk pribadi muslim: murabbi, manhaj, lingkungan yang sehat (dapat menyerap ilmu, akhlak, dan amal)
-          Pembiasaan bagi individu:
a.       Wirid-wirid harian
b.      I’tikaf tahunan
c.       Berkhalwat
d.      Berdzikir, qiyamullail, dan berakhlak mulia
e.       Mengikuti kegiatan ruhiyah dan ilmiyah
2.      Sarana pada tujuan kedua
a.       Memberikan perhatian yang besar thd persoalan rumah tangganya
b.      Jamaah harus memberikan hak sewajarnya bagi aktivitas wanita: penyebaran buku, membuat majlis halaqah, pembinaan kader akhwat secara intensif
c.       Memilih istri/suami yang solehah/soleh
d.      Memelihara rumah  tangga dari penyelewengan
e.       Pemimpin harus memberikan perhatian khusus kepada wanita

3.      Sarana pada tujuan ketiga
Langkah menuju masyarakt muslim yaitu dengan mengenalkan islam, jamaah, dan pembinaan atas moralias islam serta disiplin barisan kaum muslimin. Langkahnya: halaqah-halaqah, usrah, katibah, diskusi secara kontinyu, dan amar ma’ruf nahi mungkar.
Pola komunikasi rasulullah:
a.       Berbicara kepada umat manusia-dg menyentuh perasaan mereka-bahwa segala kebutuhan pokok dan cita2 besar mereka akan terwujud dg islam
b.      Mendidik shaf untuk memiliki itsar dan tidak egois. Kisah pembagian ghanimah ketika perang hunain
4.      Sarana pada tujuan keempat
-          Pemerintahan bukanlah tujuan da’wah ikhwan, tujuannaya adlah mewujudkan pemerintahan islami
-          Kepahlawanan hanya lahir bersama kesabaran, ketabahan, kesungguhan, dan kerja yang berkesinambungan.
-          IM hanya akan menggunakan kekuatan ketika cara lain tidak berguna
Dua sarana
1.      Kekuatan aqidah dan iman
2.      Kekuatan persatuan dan ikatan

5.      Sarana pada tujuan kelima
Sarana pada tujuan kelima yaitu dengan mewujudkan Negara islam karena memiliki kekuatan pengaruh dalam bidang politik, ekonomi, dan teknologi. Sarananyayaitu aktivitas yang terkordinirsejak awal langkahnya di bawah satu pucuk pimpinan, maka terwujudlah satu dakwah, satu institusi, satu perencanaan secara bersama, satu tarbiyah.
6.      Sarana pada tujuan ke enam
Sarana untuk menegakkan Negara islam yang tunggal adalah melangkah di atas mukadimah yang benar, yakni tegaknya kaidah-aidah yang benar, yang dari sana Islam di berbagai wilayah bertolak.
7.      Sarana pada tujuan ke tujuh
Beraktivitas terus menerus yang sesuai dan layak bahwa dunia akan menerima dakwah ini.

VI.               Tahapan-tahapan da’wah

1.      Ta’rif (pengenalan)
-          Yaitu memperkenalkan islam secara umum, baik secara ilmiah maupun praktis.
-          Tahap propaganda, pemberian kabar gembira dan informasi kepada masyrakat
-          Menyebarkan fikrah islam di tengah masyarakat
-          Melalui system kelembagaan
-          Urgensinya yaitu kerja social bagi kepentingan umum
-          Medianya adalah nasihat dan bimbingan
2.      Takwin/ pembentukan
-          Yaitu mentarbiyah orang dengan standar keanggotaan dalam jamaah untuk memainkan perannya yang optimal bagi pelayanan islam
-          Mencetak pendukung, mempersiapkan pasukan, mobilisasi barisan
-          Melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada.
-          System dakwah bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani dan militer dalam tataran operasional
-          Slogan: perintah dan taat dengan tanpa keraguan
-          Bersifat khusus; tidak semua orang bias

3.      Tanfidz/aplikasi/aksi nyata
-          Aksi dan produksi
-          Jihad
-          Keta’atan yang total
Bentuk-bentuk tahapan dakwah:
1.      Ta’rif melalui ceramah-ceramah, halaqah (umum atau khusus), penyebaran buku, dan penjelasan.
2.      Seluruh unsure jamaah berkonstrentasi terhadap masing2 sarana tahapan2 da’wah.
3.      Serentak ta’rif lalu serentak pindah ke tahapan takwin
4.      Pemimpin menyiapkan tahap tanfidz, yang lain tetap ta’rif dan takwin
5.      Ketiganya dilakkan secara bersamaan dan diawasi olehh unit tersendiri.
Persoalan-persoalan  dalam ketiga tahapan tersebut:
1.      Kematangan teori
2.      Adanya pribadi-pribadi yang matang
3.      Perangkat yang matang (manhaj, perencanaan, metode dan kecakapan)
Notes:
a.       Penyakit umat tdp pada salah satu: wilayah ilmu pengetahuan dan wawasan, wilayah karakter, dan wilayah komitmen.

VII.             Risalah Ta’limdan Sendi2 Pembentuan Pribadi Islam

a.       Rukun bai’at
1.      Al fahmu
2.      Ikhlas
3.      Amal
4.      Jihad
5.      Tadhiyah
6.      Taat
7.      Tsabat
8.      Tajarrud
9.      Ukhuwah
10.  Tsiqoh


b.      40 kewajiban Mujahid
1.      Memiliki wirid harian.
2.      Membaca alqur’an dengan baik, dan merenungkan artinya. Membaca sirah dan buku keislaman
3.      Memperhatikan tubuh: grneral check up
4.      Jangan berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu
5.      Memperhatikan urusan kebersihan dalam segala hal
6.      Jujur dalam berkata
7.      Menepati janji
8.      Pemberani dan tahan uji dalam berbuat kebaikan
9.      Bersikap tenang dan serius.
10.  Memiliki rasa malu, peka terhadap sesame
11.  Bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi
12.  Bekerja keras dan terlatih dalam aktivitas social
13.  Berkasih saying, dermawaan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada semua makhluk
14.  Pandai membaca dan menulis. Semua hal
15.  Memiliki proyek usaha ekonomi mandiri betapapun kecilnya
16.  Jangan terllau berharap jadi PN, karena ia seempit-sempit pintu rezeki. Tapi kalau ada peluang, jangan ditolak
17.  Perhatikan amanhmu
18.  Penuhilah hak-hakmu dan orang lain dengan baik dan sempurna, tanpa dikurangi dna dilebih-lebihkan
19.  Menjauhkan judi dengan segala macamnya dan menjauhi mata pencaharian yang haram
20.  Menjaauhi riba dalam setiap aktivitasmu
21.  Memelihara kekayaan umat islam ssecara umum dan mendorong berkembnagnya pabrik-pabrik dan proyek-proyek ekonomi islam
22.  Memiliki kontribusi financial dalam dakwah, tunaikan kewajiban zakatmu
23.  Menyimpan sebagian penghasilanmua untuk perediaan masa-masa sulit
24.  Bekerja semmapu yang bias dilakukan-untuk menghidupkan tradisi islam-. Menjaga sunnah dalam setiap aktivitasmu
25.  Memboikot peradilan-peradilan yang tidak islami
26.  Hendaklah merasa diawasi Allah
27.  Bersuci dengan baik dan usahakan selalu berwudhu dalam setiap kondisis
28.  Shalatlah dengan baik dan tepat waktu
29.  Puasa ramadhan dan berhaji dengan baik
30.  Senantiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid
31.  Memperbaharui taubat dan istighfar
32.  Berjuang meningkatkan kapasitas
33.  Menjauhi khamar
34.  Menjauh daripergaulan orang jahat
35.  Memerangitempat-tempat iseng
36.  Tunaikah hak-hka ukhuwah
37.  Menjauhi organisasi –organisasi yang tidak mendatangkan maslahat
38.  Menyebarkan dakwah di manapun
39.   
40.   

VIII.          Uraian Pelengkap

1.      Kaidah yang sesuai dengan tabiat dakwah kita dalam manhaj tsaqafah, ta’lim, dan tarbiyah
a.       Kaidah pertama
Yaitu harakah islam modern. Islam berarti mengakomodasikan semua prinsip tsaqafah islam dan cabang-cabangnya. Modern berarti mengakomodasi wawasan kekinian dengan tabiat dan spesifikasinya.
b.      Kaidah kedua
Memberikan kepada setiap muslim ketahanan moral agar terhindar dari kesesatan dan ketergelinciran melalui optimalisasi potensi diri.
c.       Kaidah ketiga
Meletakkan di tangan setiap muslim sebuah barometer yang dapat mengukur segala sesuatu dengan standar islam
d.      Kaidah keempat
Memiliki persepsi umum tentang ilmu pengetahuan dalam perspektif islam, mana yang wajib, sunnah, dan haram.
e.       Kaidah ke lima
Peringkat keanggotaan dalam ikhwan berdasarkan ikatan umum, ukhuwah, amal, jihad, yaitu musa’id, muntasib, ‘amil, mujahid, naqib, dan naib.
f.        Kaidah ke enam
Pemahaman yang syumul tentang islam dan ikhwan
g.       Kaidah ke tujuh
Memahami islam secara global dan rinci, tidak parsial. Dua tahapan kehidupan manusia; sebelum baligh dan sesudah baligh. Sebelum baligh belum ada kewajiban, tapi harus dididik sejak dini. Sesuadah baligh baru ada taklif/pembebanan kewajiban.
h.      Kaidah ke delapan
Jangan membiarkan ruang masuknya kekufuran dan kesesatan sehingga merusak hati, jiwa, dan fikiran kaum muslimin.
i.         Kaidah ke Sembilan
Memiliki komitmen dan pemahaman tentang karakter diri dan orang lain.
j.         Mengenal slogan dalam da’wah yaitu “Allah tujuan kami, rasululah tauladan kami, al qur’an petunjuk jalan kami, jihad jalan juang kami dan mati syahid cita-cita kami tertinggi.”
k.       Kaidah ke sebelas
Mengikuti halaqah-halaqah ilmiah dan umum karena di sana ada keberkahan. Juga ada introspeksi diri.
l.         Kaidah ke dua belas
Jamaah islam harus memiliki system. Tegaknya di atas prinsip nilai, perencanaan, dan proker.
m.    Kaidah ke tiga belas
Memberi perhatian pada manhaj, studi, dan pola tarbiyah.
n.      Kaidah ke empat belas
Ikhwan adalah gerakan tajdidi (pembaharu) yaitu dapat menghidupkan kembali seluruh ajaran islam dan dengan memperbaharui wawasan.
o.      Kaidah ke lima belas
Studi mendalam tentang aliran lain sebagai bahan komparasi tehadap gerakan ikhwan, juga agar tidak mudah terhasut isu-isu yang belum pasti kebenarannya.
2.      Peringkat keanggotaan dan hal-hal prinsip di dalamnya
Peringkat keanggotaan dalam ikhwan yaitu yaitu musa’id, muntasib, ‘amil, mujahid, naqib, dan naib.
Ada beberapa masalah kemanusiaan yang harus difahami yaitu masalah pengetahuan, kepribadian, dan komitmen yang ketiganya harus dimiliki oleh seorang kader.
Sarana-sarana pembinaan kader bias dalammencapai peringkat-peringkat yaitu majelis-majelis umum, pertemuan-pertemuan khusus, usrah, dan daurah.

3.      Beberapa standar, penjelasan, dan metodologi
a.       Standar pada peringkat 1: pelaksanaan sempurna akan tuntunan iman, shalat, infak, dan loyalitas secara penuh kepada jama’ah. Al maidah: 55 dan 56
b.      Standar pada peringkat kedua: terealisasinya secara penuh mahabbatullah, rendah hati, tegas, berjihad, dan tidak takut pada celaan orang-orang yang suka mencela. Al Maidah: 51



Penjelasan
Ada beberapa bentuk daurah: daurah ruhiyah, fikriyah, jasadiyah, amniyah, dan pelatihan-pelatihan.
“perbaharuilah imanmu dengan menyebut laailahaillallah. (HR Iimam ahmad)”



 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design