Thursday, 30 May 2013

TANPA JUDUL

`                                   

`Aku ingin menjadi anggota dewan. Bukan karena siapa, bukan karena apa, tapi karena ingin. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang.  Ketika orang-orang bertanya mengapa, selalu ku jawab dengan jawaban yang sama. Mungkin orang-orang heran mengapa?  Di usiaku yang terbilang kecil  ini, jarang-jarang, bahkan tidak pernah ada orang bercita-cita menjadi seorang anggota dewan. Ketika teman-temanku di tanya apa cita-citamu,  sebagian besar menjawab ingin menjadi dokter, tentara, guru, pilot, pramugari, polisi, bidan, ataupun perawat. Sangat jarang anak-anak seusiaku bercita-cita sama denganku, terlebih bagi anak perempuan sepertiku.
Perkenalkan, namaku Siti.  Lengkapnya Siti Anggun Pandan Wangi. Kata ibuku, agar kelak aku bisa tumbuh menjadi perempuan anggun yang namanya bisa harum, dan juga bias membanggakan keluarga, bangsa dan negara. Teman-teman kadang memanggilku Siti, Anggun, Wangi, kadang juga ada yang memanggilku Pandan Tapi, entah mengapa aku lebih suka di panggil Siti daripada yang lainnya. Nama Siti terkesan eksotik di telingaku, meski kata orang itu kampungan. Usiaku saat ini menginjak dua belas tahun, aku lahir pada bulan April, tapi entah mengapa ibuku tidak memberi embel-embel nama Aprilia ataupun Kartini. Saat ini, aku baru kelas enam sekolah dasar di salah satu sekolah favorit di kotaku.
Di sekolah aku tak punya banyak teman, karena kata mereka aku itu introvert. Aku memang tak suka keramaian, aku lebih suka menyendiri, sehingga jarang sekali aku menyapa  teman-teman ataupun bermain dengan mereka. Begitupun sebaliknya.  Maka tempat favoritku adalah perpustakaan, tempat yang memang paling jarang dikunjungi dibanndingkan dengan kantin, taman sekolah, maupun tempat lainnya. Dan yang kemudian aku lakukan adalah membaca, membaca dan membaca, mulia dari komik, cerita anak, ensiklopedi, sampai dengan Koran (meskipun hanya headlinenya saja).
Tokoh favoritku adalah superman dan power rangers.  Karena mereka selalu ada di saat masyarakat membutuhkan. Mereka tahu di mana letak kejahatan, kemudian dengan segera memberantasnya. Mereka tidak pandang bulu dalam menolong siapaun, mau dia kaya ataupun miskin, besar ataupun kecil, muda ataupun tua. Semua di tolongnya. Lalu aku pun berfikir, seandainya saja ada superman ataupun power rangers di kotaku, mungkin saja semua akan aman dan sentausa. Tak ada lagi pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan tindakan kejahatan lainnya. Tapi sayang semua hanya khayalan, dan faktanya memang banyak sekali kejahatan dan ketidakadilan di kotaku.
.Teman-teman mengatakan aku aneh, karena aku adalah sosok  pendiam, suka menyendiri, suka power rangers dan superman (emang nggak boleh ya perempuan suka superman dan power rangers). Memang aku tidak tumbuh seperti anak-anak seusiaku,  yang suka bermain, suka jalan-jalan , dan juga suka boneka, aku cenderung bersikap dewasa, bahkan orang tuaku sempat memeriksakanku ke psikiater, mereka takut ada gangguan atau kelainan jiwa yang kualami. Tapi dokter jiwa tersebut mengatakan tidak ada masalah, hanya masalah genetis dan itu tidak berkaitan dengan jiwaku.
Binatang yang paling kusayangi adalah kucing, maka ibu membelikanku kucing satu tahun lalu sebagai hadiah ulang tahunku. Aku sangat menyayanginya, ku beri ia nama superman, sesuai dengan tokoh favoritku, supaya ia bias sekuat superman dan sesosialis supermen. Ia selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Ia mampu menghiburku saat aku sediah, ia mengeong-ngeong di dekatku, kemudian menjilat-jilat kulitku, seolah ingin mengatakan jangan bersedih, ada aku di sini. Sediki sedikit, aku agak terhibur. Kitty, I love you
Ketika siang tiba, maka aku akan pergi berkeliling ke rumah-rumah tetangga sampai sore hari. Ibu mungkin mengira aku pergi bermain dengan teman-teman, tapi tidak.
Aku tinggal di kompleks perumahan DPRD Provinsi di kotaku.  Terletak di tengah-tengah kota. Di depannya ada kawasan business, di samping kiri ada jalan raya, di samping kanan ada sekolah dan di belakang ada perkampungan warga. Dan tempat yang selalu ku kunjungi adalah perumahan warga. Semua berawal ketika dulu kucing kesayanganku hilang, dari pagi ia tidak ada di rumah, aku pun mencari ke mana-mana, tapi tidak ada. Diruang makan, di dapur, di kamar tidur, di bawah meja, sampai di loteng rumah, tapi superman tidak ada. Aku hampir saja menangis, kucari di luar rumah dan sekitaran kompleks, tapi superman tetap tidak ada, maka kuputuskan untuk mencari di luar kompleks, dan tempat yang kemungkinan dikunjungi adalah perumahan warga.
 Awalnya aku sedikit takut, karena memang jarang sekali aku bepergian tanpa ditemani ibu, bibi, ataupun ayah. Aku memasuki gang sekitar lima puluh meter agak ke dalam. Aku sedikit kaget, keadaan perumahan warga di belakang rumahku berbeda sekali dengan di sini, di bagian depan sampah-sampah berserakan tak terurus hingga memenuhi got-got yang menimbulkan bau busuk. Walaupun begitu,  aku melihat di sekitaran sana banyak sekali gubuk-gubuk kecil yang terbuat dari sisa-sisa seng yang sebenarnya sudah tidak layak pakai. Antara rumah yang satu dengan yang lain berdempet-dempetan, tidak ada halaman, hanya tersisa sedikit untuk tempat menaruh kaleng-kaleng bekas ataupun plastik yang menggunung. Rumah apakah ini? Tanyaku dalam hati. Rumah manusiakah ini? Tapi tidak mungkin sebegini rupanya. Belum hilang kekagetanku, tiba-tiba ku dengar suara tangisan anak kecil, lamat-lamat suara nya semakin besar. Kenapa anak kecil itu menangis?
“Sabarlah anakku, hari ini ibu belum dapat uang. Sabar nak ya”  Tangisan anak itu pun semakin kencang. Hatiku sedikit teriris.
“Hiks hiks hiks. Tapi aku lapar Bu”
“Iya nak, ibu juga. Tapi apa daya” suara ibu itu sedikit melemah.
Kulihat  ibu itu keluar diiringi anaknya. Ia kaget melihatku, begitu juga aku, kaget melihatnya. Memang penampilanku sangat berbeda dibandingkan mereka.  Warna mencolok gaun yang kupakai jauh berbeda dengan baju kaos lusuh yang mereka kenakan, di tambah dengan tambalan di sana sininya. Kulitku yang bening bersih jauh berbeda dengan kulit kecoklatan mereka yang jelas sekali terlihat tak terawat. Kami diam tanpa kata. Sejenak berpandangan . entah mengapa tiba-tiba mulutku tercekat. Padahal banyak hal yang ingin kutanyakan, tentang kucingku, tentang rumah-rumah itu, juga tentang mereka. Lalu kemudian mereka pergi meninggalkanku dengan tatapan tak peduli.
            “Ibu berhenti!”ucapku tiba-tiba. Aku juga tak tahu di mana aku punya keberanian itu. Mereka menoleh, masih dengan pandangan sinis. Mungkin mereka tidak suka melihatku di sini. “Ada apa?” ucap si ibu.
“Aku punya makanan di rumah.” Kataku polos
“Terus?”
“Kalau ibu mau, aku bisa mengambilkannya untuk kalian.”
Maka sejak saat itu, sepulang sekolah aku akan pergi ke sana. Membawa sebanyak mungkin makanan yang ada di rumah, mulai dari nasi, lauk-pauk, jajan hingga buah-buahan. Entah mengapa ada kebahagiaan tersendiri saat bias memberi, saat melihat kebahagiaan mereka. Tidak hanya keluarga si ibu  itu, tapi juga keluarga yang lain mendapatkan jatah masing-masing. Di kawasan itu, mungkin ada sekitar dua puluhan rumah yang kondisinya hampir sama.  Dan rata-rata profesi mereka adalah sebagai pemulung. Memprihatinkan memang. Dan kelak aku bercita-cita, mampu memberi mereka pekerjaan.
***
Suatu ketika aku pergi berjalan-jalan ke salah satu taman wisata di kotaku. Ku melihat ada seorang kakek sedang berjualan. Ia memikul beban yang lumayan berat, di tengah usianya yang hampir sekarat. Kacang-kacang, ubi rebus, belinjo, krupuk. Teriaknya dengan suara yang khas. Terlihat peluh mengucur dari dahinya yang keriput, kemudian di usapnya dengan tangan. Ia terlihat kelelahan, tapi ia tetap semangat. ia kemudian duduk di bawah pohon rimbun, mengatur nafas untuk mencari irama teduh di bawah sejuknya angin. Aku kemudian menghampirinya.” Berapa kacangnya satu Kek?”
“Dua ribu dek, ” jawabnya. Aku kemudian duduk di dekatnya. Mengambil satu bungkus kacang, kemudian memakannya.
“Sudah berapa lama jualan di sini Kek?”
“Sekitar setahun dik”
“Berapa keuntungan Kakek tiap bulannya ?”
“Gak tentu dik. Kadang banyak, kadang sedikit. Tergantung jumlah pengunjung yang datang. Dan itupun harus dipotong untuk pajak perbulannya sebesar seratus lima puluh ribu rupiah.” Jawabnya datar.
“Bapak bayar pajak perbulan?”
“Ya begitulah dik. Sudah bisa makan sama nak istri pun cukup”
Lagi-lagi nuraniku terkoyak. Melihat betapa susahnya kehidupan seorang kakek tua, yang seharusnya bisa menikmati masa tuanya dengan santai.
***
Suatu hari, ku dengar ibu dan ayah bercakap-cakap setelah makan.
“Untuk reses kali ini, kemungkinan tempatnya di salah satu hotel berbintang Ma,”
“Terus untuk undangannya dari mana aja Pa?”
“Dari kalangan pejabat, akademisi, pengusaha sama mahasiswa Ma”
“Berapa dana yang dianggarkan pa?”
“Sekitar dua puluh juta Ma”
“Pa, Ma, reses itu apa sih?” tanyaku penasaran.
“Reses itu adalah saat di mana para anggota dewan turun ke masyarakat ananda,” jawab Papa.
“Trus kenapa resesnya nggak sama warga masyarakat samping rumah kita aja pak, juga kakek-kakek yang berjualan di taman wisata waktu itu. Kan dananya banyak  Pa? Biar mereka juga merasakan punya uang banyak.” Ucapku polos.
Mereka saling berpandangan. Terdiam.
***
Aku menutup lembaran terakhir kisah yang baru saja ku buat. Dan itu adalah kisahku sendiri. Dan memang sekarang aku menjadi salah seorang anggota dewan di tingkat provinsi, tapi ternyata, semua yang kupikirkan dulu tak semudah apa yang kuhadapi. Mengubah sebuah budaya tak baik memang sangat sulit. Kita tak bias sendiri, kita butuh orang lain. Kita butuh system yang jelas. Aku jadi ingat ucapan salah satu calon gubernur ketika debat politik di salah satu stasiun tv swasta yang mengatakan  bahwa “DPR itu bukan berbicara benar atau salah, tapi berbicara masalah banyak atau tidak. Jadi yang banyaklah yang menang” Seandainya saja orang-orang baik lebih banyak, mungkin semua bisa berubah.
Aku teringat ucapan salah satu pendongeng di TV dulu, ketika ia ditanya tentang pentingnya dongeng. Ia pun menjawab bahwa dongeng itu menentukan karakter suatu bangsa. Ia mencontohkan kenapa Amerika dan Jepang bisa menjadi negara maju, karena kita bisa lihat, bahwa Dongeng mereka selalu mencerminkan kebaikan dan hal-hal yang positif. Contohnya saja, supermen, betmen, dan power rangers. Sementara kita di sini, dari kecil sudah diajarkan bagaimana kisah si kancil yang suka mencuri, dan juga licik. Meskipun tujuannnya agar kita tidak mencuri. Tapi memang menurut ilmu psikologi, mengajar anak dengan kata larangan itu tidak bagus, karena anak justru cenderung ingin tahu mengenai hal itu.
Karakter suatu bangsa memang ditentukan oleh mindset dan cara berfikir masyaraktnya. Maka dari sekarang kita harus berfikir positif. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berfikir besar.



0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design