Tuesday, 28 May 2013

Stop Money Politik

Genderang pemilukada sedang keras-kerasnya ditabuh. Semua menginginkan tabuhannya lah yang paling di dengar orang, tabuhannya lah yang lebih di sukai orang. Maka semua berlomba-lomba menampilkan performa yang luar biasa.  Semua ingin tampil sempurna di mata para penontonnya, sehingga semua daya dan upaya dikerahkan, agar rakyat memilihnya nanti.
Masa kampanye tinggal sebentar lagi, yaitu berakhir pada hari Kamis, tanggal 9 Mei 2013. Maka di detik-detik terakhir ini,  semua saling saing menyaingi merebut hati masyarakat, mulai dari kampanye langsung, penyebaran pamflet-pamflet ataupun selebaran, iklan di media masa, sampai turun langsung ke masyarakat. Semua memiliki cara-cara tersendiri dalam menarik simpati masyarakat.
Satu hal yang kita sama-sama harapkan di pemilukada ini, yaitu jangan sampai terjadi politik uang atau yang lebih popular dengan money politik.  Kita tentu menginginkan pemilu kali ini bersih dari yang hal-hal seperti itu atau sejenisnya. KPK (Komisi Pemberantasan korupsi) Republik Indonesia beberapa waktu lalu berkunjung ke NTB untuk mengawasi pemilukada NTB sekaligus sosialisasi mengenai  Pemilukada Bersih di mana KPK mengusung jargon “Bersih calon pemimpinnya, bersih pemilihnya, dan bersih proses pemilihannya”.  Bersih calon pemimpinnya, tentu di sini kita mengharapkan calon pemimpin yang bersih, pemimpin yang tidak melakukan money politik dalam setiap kampanye-kampanye yang dilakukannya. Bersih pemilihnya, maka di sini seorang pemilih haruslah cerdas dan faham apa itu money politik, yang dengan kefahamannya itu ia tidak terjerat dalam money politik itu money politik, baik dari awal proses pemilu samapai akhir masa pemilu.
sendiri, dan ke depannya sebagai seorang yang faham, ia bisa menularkan kefahamannnya kepada masyarakat yang tahu, sehingga semua masyarakat bisa cerdas memilih siapa pemimpin yang tepat untuk masa depan NTB. Bersih proses pemilihannya, yaitu proses pemilu bebas dari unsur-unsur
MenurutYusril Ihza Mahendra, pakar hukum Tata Negara Universitas Indonesia, money politikadalah mempengaruhi massa pemilu dengan imbalan politik. Ada juga yang mengartikan money politik sebagai upaya untuk memengaruhi perilaku orang dengan imbalan tertentu. Jadi, dari pengertian tersebut bisa kita simpulkan bahwa money politik itu tidak hanya berbentuk uang, tapi juga bermacam-macam, bisa berupa barang, benda, bahkan juga jasa.
Ada beberapa efek negatif  dari  money politik yaitu pertama masyarakat  di didik menjadi kaum materialis.  Suatu hari saya bertanya pada seorang ibu, “Bu, pemilihan gubernur besok pilih siapa?” lalu dengan polosnya si ibu menjawab “yang banyak uangnya dik.” Sepintas memang biasa, tapi jika kita mengkaji lebih dalam, maka kita bisa menarik kesimpulan di sini bahwa memang frame berfikir masyarakat kita telah berorientasi pada uang. Karena memang tanpa kita sadari money politik telah mendarah daging di masyarakat kita, terutama masyarakat menengah ke bawah. Yang kedua yaitu masyarakat cenderung memilih tidak dengan hati nurani. Sementara, di lain sisi kita selalu menggembar-gemborkan memilih dengan hati nurani. Berarti di sini, adanya ketimpangan antara tujuan dengan proses, sementara tujuan yang sesungguhnya tidak akan tercapai tanpa proses yang benar. Yang terakhir yaitu tidak tercapainya tujuan dari prinsip-prinsip pemilu luber (langsung, umum, bersih) dan jurdil (jujur dan adil).  Maka dapat kita simpulkan bahwa money politik adalah sarana pembodohan rakyat, di mana rakyat hanya dijadikan sebuah alat untuk mencapai tujuan politik, di jadikan wahana menuju keinginan pribadi, dan alat untuk memuaskan nafsu kekuasaan masing-masing.
Peran KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Bawaslu (Badan pengawas Pemilu) di sini tentu sangat penting. Sebagai seorang lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu,maka ia berkewajiban menjalankan dan mengawasi proses pemilu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai membiarkan money politics bebas berkeliaran di tengah-tengah masyarakat kita. Tidak hanya KPU dan Bawaslu, tapi juga seluruh masyarakat yang faham apa itu money politik haruslah menularkan ilmunya  kepada seluruh elemen masyarakat. Maka peran pencegahan pemberantasan money politik itu pun tidak hanya dijalankan oleh satu pihak, tapi semua pihak harus ikut andil dan turut serta.
Starts from ourselves, starts from a small thing, and starts from now. Itulah pepatah yang kiranya cocok untuk menggambarkan bagaimana seharusnya proses pencegahan money politik itu dilaksanakan, karena memang kebiasaan buruk yang telah mendarah daging itu sulit sekali diubah, dan mengubahnya pun membutuhkan proses yang lama dan berkesinambungan. Oleh karena itu, diperlukan usaha yang intens dan kontinyu. Maka kita harus mulai dari diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang kecil, misalnya dengan penyebaran pamflet, selebaran, atau juga melalui jejaring social. Dan kita harus memulainya  sekarang, jangan menunggu siapapun. Setidaknya, kita sudah berfikir bagaimana mengubah keadaan bangsa kita menjadi lebih baik.
Kemajuan suatu bangsa bukan ditentukan oleh umur suatu bangsa. Buktinya lihatlah Mesir dan India, yang sudah berumur lebih dari 2000 tahun tapi tetap menjadi Negara berkembang. Juga tidak ditentukan oleh luas wilayah, lihatlah jepang dan singapura. Tidak juga ditentukan oleh sumber daya alamnya, buktinya brazil. Tapi kemajuan suatu bangsa ditentukan olehattitude/sikap rakyatnya. Lihatlah bangsa-bangsa yang lebih mengedepankan attitude . bangsa yang memiliki disiplin tinggi, bangsa yang memiliki karakter kuat, bangsa yang cinta kebersihan, dan bangsa yang saling menghargai. Maka dari sekarang, yang harus kita lakukan adalah membentuk karakter diri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berfikir besar. Maka dari sekarang, kita harus berfikir besar, memikirkan tentang masa depan bangsa kita tercinta, khususnya NTB. Semoga melalui momen pilkada ini, kita mampu mewujudkan pilkada yang bersih dan bebas dari money politik sesuai dengan harapan kita bersama.

0 comments:

Post a Comment

 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design