Thursday, 30 May 2013

TANPA JUDUL

`                                   

`Aku ingin menjadi anggota dewan. Bukan karena siapa, bukan karena apa, tapi karena ingin. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang.  Ketika orang-orang bertanya mengapa, selalu ku jawab dengan jawaban yang sama. Mungkin orang-orang heran mengapa?  Di usiaku yang terbilang kecil  ini, jarang-jarang, bahkan tidak pernah ada orang bercita-cita menjadi seorang anggota dewan. Ketika teman-temanku di tanya apa cita-citamu,  sebagian besar menjawab ingin menjadi dokter, tentara, guru, pilot, pramugari, polisi, bidan, ataupun perawat. Sangat jarang anak-anak seusiaku bercita-cita sama denganku, terlebih bagi anak perempuan sepertiku.
Perkenalkan, namaku Siti.  Lengkapnya Siti Anggun Pandan Wangi. Kata ibuku, agar kelak aku bisa tumbuh menjadi perempuan anggun yang namanya bisa harum, dan juga bias membanggakan keluarga, bangsa dan negara. Teman-teman kadang memanggilku Siti, Anggun, Wangi, kadang juga ada yang memanggilku Pandan Tapi, entah mengapa aku lebih suka di panggil Siti daripada yang lainnya. Nama Siti terkesan eksotik di telingaku, meski kata orang itu kampungan. Usiaku saat ini menginjak dua belas tahun, aku lahir pada bulan April, tapi entah mengapa ibuku tidak memberi embel-embel nama Aprilia ataupun Kartini. Saat ini, aku baru kelas enam sekolah dasar di salah satu sekolah favorit di kotaku.
Di sekolah aku tak punya banyak teman, karena kata mereka aku itu introvert. Aku memang tak suka keramaian, aku lebih suka menyendiri, sehingga jarang sekali aku menyapa  teman-teman ataupun bermain dengan mereka. Begitupun sebaliknya.  Maka tempat favoritku adalah perpustakaan, tempat yang memang paling jarang dikunjungi dibanndingkan dengan kantin, taman sekolah, maupun tempat lainnya. Dan yang kemudian aku lakukan adalah membaca, membaca dan membaca, mulia dari komik, cerita anak, ensiklopedi, sampai dengan Koran (meskipun hanya headlinenya saja).
Tokoh favoritku adalah superman dan power rangers.  Karena mereka selalu ada di saat masyarakat membutuhkan. Mereka tahu di mana letak kejahatan, kemudian dengan segera memberantasnya. Mereka tidak pandang bulu dalam menolong siapaun, mau dia kaya ataupun miskin, besar ataupun kecil, muda ataupun tua. Semua di tolongnya. Lalu aku pun berfikir, seandainya saja ada superman ataupun power rangers di kotaku, mungkin saja semua akan aman dan sentausa. Tak ada lagi pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan tindakan kejahatan lainnya. Tapi sayang semua hanya khayalan, dan faktanya memang banyak sekali kejahatan dan ketidakadilan di kotaku.
.Teman-teman mengatakan aku aneh, karena aku adalah sosok  pendiam, suka menyendiri, suka power rangers dan superman (emang nggak boleh ya perempuan suka superman dan power rangers). Memang aku tidak tumbuh seperti anak-anak seusiaku,  yang suka bermain, suka jalan-jalan , dan juga suka boneka, aku cenderung bersikap dewasa, bahkan orang tuaku sempat memeriksakanku ke psikiater, mereka takut ada gangguan atau kelainan jiwa yang kualami. Tapi dokter jiwa tersebut mengatakan tidak ada masalah, hanya masalah genetis dan itu tidak berkaitan dengan jiwaku.
Binatang yang paling kusayangi adalah kucing, maka ibu membelikanku kucing satu tahun lalu sebagai hadiah ulang tahunku. Aku sangat menyayanginya, ku beri ia nama superman, sesuai dengan tokoh favoritku, supaya ia bias sekuat superman dan sesosialis supermen. Ia selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Ia mampu menghiburku saat aku sediah, ia mengeong-ngeong di dekatku, kemudian menjilat-jilat kulitku, seolah ingin mengatakan jangan bersedih, ada aku di sini. Sediki sedikit, aku agak terhibur. Kitty, I love you
Ketika siang tiba, maka aku akan pergi berkeliling ke rumah-rumah tetangga sampai sore hari. Ibu mungkin mengira aku pergi bermain dengan teman-teman, tapi tidak.
Aku tinggal di kompleks perumahan DPRD Provinsi di kotaku.  Terletak di tengah-tengah kota. Di depannya ada kawasan business, di samping kiri ada jalan raya, di samping kanan ada sekolah dan di belakang ada perkampungan warga. Dan tempat yang selalu ku kunjungi adalah perumahan warga. Semua berawal ketika dulu kucing kesayanganku hilang, dari pagi ia tidak ada di rumah, aku pun mencari ke mana-mana, tapi tidak ada. Diruang makan, di dapur, di kamar tidur, di bawah meja, sampai di loteng rumah, tapi superman tidak ada. Aku hampir saja menangis, kucari di luar rumah dan sekitaran kompleks, tapi superman tetap tidak ada, maka kuputuskan untuk mencari di luar kompleks, dan tempat yang kemungkinan dikunjungi adalah perumahan warga.
 Awalnya aku sedikit takut, karena memang jarang sekali aku bepergian tanpa ditemani ibu, bibi, ataupun ayah. Aku memasuki gang sekitar lima puluh meter agak ke dalam. Aku sedikit kaget, keadaan perumahan warga di belakang rumahku berbeda sekali dengan di sini, di bagian depan sampah-sampah berserakan tak terurus hingga memenuhi got-got yang menimbulkan bau busuk. Walaupun begitu,  aku melihat di sekitaran sana banyak sekali gubuk-gubuk kecil yang terbuat dari sisa-sisa seng yang sebenarnya sudah tidak layak pakai. Antara rumah yang satu dengan yang lain berdempet-dempetan, tidak ada halaman, hanya tersisa sedikit untuk tempat menaruh kaleng-kaleng bekas ataupun plastik yang menggunung. Rumah apakah ini? Tanyaku dalam hati. Rumah manusiakah ini? Tapi tidak mungkin sebegini rupanya. Belum hilang kekagetanku, tiba-tiba ku dengar suara tangisan anak kecil, lamat-lamat suara nya semakin besar. Kenapa anak kecil itu menangis?
“Sabarlah anakku, hari ini ibu belum dapat uang. Sabar nak ya”  Tangisan anak itu pun semakin kencang. Hatiku sedikit teriris.
“Hiks hiks hiks. Tapi aku lapar Bu”
“Iya nak, ibu juga. Tapi apa daya” suara ibu itu sedikit melemah.
Kulihat  ibu itu keluar diiringi anaknya. Ia kaget melihatku, begitu juga aku, kaget melihatnya. Memang penampilanku sangat berbeda dibandingkan mereka.  Warna mencolok gaun yang kupakai jauh berbeda dengan baju kaos lusuh yang mereka kenakan, di tambah dengan tambalan di sana sininya. Kulitku yang bening bersih jauh berbeda dengan kulit kecoklatan mereka yang jelas sekali terlihat tak terawat. Kami diam tanpa kata. Sejenak berpandangan . entah mengapa tiba-tiba mulutku tercekat. Padahal banyak hal yang ingin kutanyakan, tentang kucingku, tentang rumah-rumah itu, juga tentang mereka. Lalu kemudian mereka pergi meninggalkanku dengan tatapan tak peduli.
            “Ibu berhenti!”ucapku tiba-tiba. Aku juga tak tahu di mana aku punya keberanian itu. Mereka menoleh, masih dengan pandangan sinis. Mungkin mereka tidak suka melihatku di sini. “Ada apa?” ucap si ibu.
“Aku punya makanan di rumah.” Kataku polos
“Terus?”
“Kalau ibu mau, aku bisa mengambilkannya untuk kalian.”
Maka sejak saat itu, sepulang sekolah aku akan pergi ke sana. Membawa sebanyak mungkin makanan yang ada di rumah, mulai dari nasi, lauk-pauk, jajan hingga buah-buahan. Entah mengapa ada kebahagiaan tersendiri saat bias memberi, saat melihat kebahagiaan mereka. Tidak hanya keluarga si ibu  itu, tapi juga keluarga yang lain mendapatkan jatah masing-masing. Di kawasan itu, mungkin ada sekitar dua puluhan rumah yang kondisinya hampir sama.  Dan rata-rata profesi mereka adalah sebagai pemulung. Memprihatinkan memang. Dan kelak aku bercita-cita, mampu memberi mereka pekerjaan.
***
Suatu ketika aku pergi berjalan-jalan ke salah satu taman wisata di kotaku. Ku melihat ada seorang kakek sedang berjualan. Ia memikul beban yang lumayan berat, di tengah usianya yang hampir sekarat. Kacang-kacang, ubi rebus, belinjo, krupuk. Teriaknya dengan suara yang khas. Terlihat peluh mengucur dari dahinya yang keriput, kemudian di usapnya dengan tangan. Ia terlihat kelelahan, tapi ia tetap semangat. ia kemudian duduk di bawah pohon rimbun, mengatur nafas untuk mencari irama teduh di bawah sejuknya angin. Aku kemudian menghampirinya.” Berapa kacangnya satu Kek?”
“Dua ribu dek, ” jawabnya. Aku kemudian duduk di dekatnya. Mengambil satu bungkus kacang, kemudian memakannya.
“Sudah berapa lama jualan di sini Kek?”
“Sekitar setahun dik”
“Berapa keuntungan Kakek tiap bulannya ?”
“Gak tentu dik. Kadang banyak, kadang sedikit. Tergantung jumlah pengunjung yang datang. Dan itupun harus dipotong untuk pajak perbulannya sebesar seratus lima puluh ribu rupiah.” Jawabnya datar.
“Bapak bayar pajak perbulan?”
“Ya begitulah dik. Sudah bisa makan sama nak istri pun cukup”
Lagi-lagi nuraniku terkoyak. Melihat betapa susahnya kehidupan seorang kakek tua, yang seharusnya bisa menikmati masa tuanya dengan santai.
***
Suatu hari, ku dengar ibu dan ayah bercakap-cakap setelah makan.
“Untuk reses kali ini, kemungkinan tempatnya di salah satu hotel berbintang Ma,”
“Terus untuk undangannya dari mana aja Pa?”
“Dari kalangan pejabat, akademisi, pengusaha sama mahasiswa Ma”
“Berapa dana yang dianggarkan pa?”
“Sekitar dua puluh juta Ma”
“Pa, Ma, reses itu apa sih?” tanyaku penasaran.
“Reses itu adalah saat di mana para anggota dewan turun ke masyarakat ananda,” jawab Papa.
“Trus kenapa resesnya nggak sama warga masyarakat samping rumah kita aja pak, juga kakek-kakek yang berjualan di taman wisata waktu itu. Kan dananya banyak  Pa? Biar mereka juga merasakan punya uang banyak.” Ucapku polos.
Mereka saling berpandangan. Terdiam.
***
Aku menutup lembaran terakhir kisah yang baru saja ku buat. Dan itu adalah kisahku sendiri. Dan memang sekarang aku menjadi salah seorang anggota dewan di tingkat provinsi, tapi ternyata, semua yang kupikirkan dulu tak semudah apa yang kuhadapi. Mengubah sebuah budaya tak baik memang sangat sulit. Kita tak bias sendiri, kita butuh orang lain. Kita butuh system yang jelas. Aku jadi ingat ucapan salah satu calon gubernur ketika debat politik di salah satu stasiun tv swasta yang mengatakan  bahwa “DPR itu bukan berbicara benar atau salah, tapi berbicara masalah banyak atau tidak. Jadi yang banyaklah yang menang” Seandainya saja orang-orang baik lebih banyak, mungkin semua bisa berubah.
Aku teringat ucapan salah satu pendongeng di TV dulu, ketika ia ditanya tentang pentingnya dongeng. Ia pun menjawab bahwa dongeng itu menentukan karakter suatu bangsa. Ia mencontohkan kenapa Amerika dan Jepang bisa menjadi negara maju, karena kita bisa lihat, bahwa Dongeng mereka selalu mencerminkan kebaikan dan hal-hal yang positif. Contohnya saja, supermen, betmen, dan power rangers. Sementara kita di sini, dari kecil sudah diajarkan bagaimana kisah si kancil yang suka mencuri, dan juga licik. Meskipun tujuannnya agar kita tidak mencuri. Tapi memang menurut ilmu psikologi, mengajar anak dengan kata larangan itu tidak bagus, karena anak justru cenderung ingin tahu mengenai hal itu.
Karakter suatu bangsa memang ditentukan oleh mindset dan cara berfikir masyaraktnya. Maka dari sekarang kita harus berfikir positif. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berfikir besar.



Wednesday, 29 May 2013

my birthday

Hari ini aku belajaar arti kesabaran, tentang bagaimana manajemen emosi,,,
Hari ini aku belajar arti kecerdasan, tentang bagaimana harus banyak belajar,,,membaca,,diskusi,,,dan menulis..
Hari ini aku belajar kekuatan, tentang bagaimana menghadapi problematika yang ada
hari ini aku belajar kepemimpinan, tentang bagaimana memahami karakter masing-masing anggota...
dan hari ini, aku belajar memaknai cinta..

Kepada rekan-rekan DPM Unram 2013, juga kawan-kawan BEM 2013
terima aksih atas kontribusinya hari ini, terima kasih atas partisipasinya, untuk kealotan diskusi, argument-argument yang sama-sama kuat, terima kasih untuk saran, bentakan, sindiran, dan caciannya,,,,juga terima kasih untuk kue ulang tahunnya....
thanks for making me impressed..

terima kasih juga untuk orang-orang yang selalu mendukung dan memotivasi saya
untuk terus berkarya dan berkarya
membuktikan diri dan memantaskan diri
apapun posisi kita, yang terpenting adalah kontribusi,,,

special thanks for kak kaktusss...for inspiring me to be better..


my sister,,how are you there?....
do you feel what i feel?????

Tuesday, 28 May 2013

Stop Money Politik

Genderang pemilukada sedang keras-kerasnya ditabuh. Semua menginginkan tabuhannya lah yang paling di dengar orang, tabuhannya lah yang lebih di sukai orang. Maka semua berlomba-lomba menampilkan performa yang luar biasa.  Semua ingin tampil sempurna di mata para penontonnya, sehingga semua daya dan upaya dikerahkan, agar rakyat memilihnya nanti.
Masa kampanye tinggal sebentar lagi, yaitu berakhir pada hari Kamis, tanggal 9 Mei 2013. Maka di detik-detik terakhir ini,  semua saling saing menyaingi merebut hati masyarakat, mulai dari kampanye langsung, penyebaran pamflet-pamflet ataupun selebaran, iklan di media masa, sampai turun langsung ke masyarakat. Semua memiliki cara-cara tersendiri dalam menarik simpati masyarakat.
Satu hal yang kita sama-sama harapkan di pemilukada ini, yaitu jangan sampai terjadi politik uang atau yang lebih popular dengan money politik.  Kita tentu menginginkan pemilu kali ini bersih dari yang hal-hal seperti itu atau sejenisnya. KPK (Komisi Pemberantasan korupsi) Republik Indonesia beberapa waktu lalu berkunjung ke NTB untuk mengawasi pemilukada NTB sekaligus sosialisasi mengenai  Pemilukada Bersih di mana KPK mengusung jargon “Bersih calon pemimpinnya, bersih pemilihnya, dan bersih proses pemilihannya”.  Bersih calon pemimpinnya, tentu di sini kita mengharapkan calon pemimpin yang bersih, pemimpin yang tidak melakukan money politik dalam setiap kampanye-kampanye yang dilakukannya. Bersih pemilihnya, maka di sini seorang pemilih haruslah cerdas dan faham apa itu money politik, yang dengan kefahamannya itu ia tidak terjerat dalam money politik itu money politik, baik dari awal proses pemilu samapai akhir masa pemilu.
sendiri, dan ke depannya sebagai seorang yang faham, ia bisa menularkan kefahamannnya kepada masyarakat yang tahu, sehingga semua masyarakat bisa cerdas memilih siapa pemimpin yang tepat untuk masa depan NTB. Bersih proses pemilihannya, yaitu proses pemilu bebas dari unsur-unsur
MenurutYusril Ihza Mahendra, pakar hukum Tata Negara Universitas Indonesia, money politikadalah mempengaruhi massa pemilu dengan imbalan politik. Ada juga yang mengartikan money politik sebagai upaya untuk memengaruhi perilaku orang dengan imbalan tertentu. Jadi, dari pengertian tersebut bisa kita simpulkan bahwa money politik itu tidak hanya berbentuk uang, tapi juga bermacam-macam, bisa berupa barang, benda, bahkan juga jasa.
Ada beberapa efek negatif  dari  money politik yaitu pertama masyarakat  di didik menjadi kaum materialis.  Suatu hari saya bertanya pada seorang ibu, “Bu, pemilihan gubernur besok pilih siapa?” lalu dengan polosnya si ibu menjawab “yang banyak uangnya dik.” Sepintas memang biasa, tapi jika kita mengkaji lebih dalam, maka kita bisa menarik kesimpulan di sini bahwa memang frame berfikir masyarakat kita telah berorientasi pada uang. Karena memang tanpa kita sadari money politik telah mendarah daging di masyarakat kita, terutama masyarakat menengah ke bawah. Yang kedua yaitu masyarakat cenderung memilih tidak dengan hati nurani. Sementara, di lain sisi kita selalu menggembar-gemborkan memilih dengan hati nurani. Berarti di sini, adanya ketimpangan antara tujuan dengan proses, sementara tujuan yang sesungguhnya tidak akan tercapai tanpa proses yang benar. Yang terakhir yaitu tidak tercapainya tujuan dari prinsip-prinsip pemilu luber (langsung, umum, bersih) dan jurdil (jujur dan adil).  Maka dapat kita simpulkan bahwa money politik adalah sarana pembodohan rakyat, di mana rakyat hanya dijadikan sebuah alat untuk mencapai tujuan politik, di jadikan wahana menuju keinginan pribadi, dan alat untuk memuaskan nafsu kekuasaan masing-masing.
Peran KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Bawaslu (Badan pengawas Pemilu) di sini tentu sangat penting. Sebagai seorang lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu,maka ia berkewajiban menjalankan dan mengawasi proses pemilu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai membiarkan money politics bebas berkeliaran di tengah-tengah masyarakat kita. Tidak hanya KPU dan Bawaslu, tapi juga seluruh masyarakat yang faham apa itu money politik haruslah menularkan ilmunya  kepada seluruh elemen masyarakat. Maka peran pencegahan pemberantasan money politik itu pun tidak hanya dijalankan oleh satu pihak, tapi semua pihak harus ikut andil dan turut serta.
Starts from ourselves, starts from a small thing, and starts from now. Itulah pepatah yang kiranya cocok untuk menggambarkan bagaimana seharusnya proses pencegahan money politik itu dilaksanakan, karena memang kebiasaan buruk yang telah mendarah daging itu sulit sekali diubah, dan mengubahnya pun membutuhkan proses yang lama dan berkesinambungan. Oleh karena itu, diperlukan usaha yang intens dan kontinyu. Maka kita harus mulai dari diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang kecil, misalnya dengan penyebaran pamflet, selebaran, atau juga melalui jejaring social. Dan kita harus memulainya  sekarang, jangan menunggu siapapun. Setidaknya, kita sudah berfikir bagaimana mengubah keadaan bangsa kita menjadi lebih baik.
Kemajuan suatu bangsa bukan ditentukan oleh umur suatu bangsa. Buktinya lihatlah Mesir dan India, yang sudah berumur lebih dari 2000 tahun tapi tetap menjadi Negara berkembang. Juga tidak ditentukan oleh luas wilayah, lihatlah jepang dan singapura. Tidak juga ditentukan oleh sumber daya alamnya, buktinya brazil. Tapi kemajuan suatu bangsa ditentukan olehattitude/sikap rakyatnya. Lihatlah bangsa-bangsa yang lebih mengedepankan attitude . bangsa yang memiliki disiplin tinggi, bangsa yang memiliki karakter kuat, bangsa yang cinta kebersihan, dan bangsa yang saling menghargai. Maka dari sekarang, yang harus kita lakukan adalah membentuk karakter diri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berfikir besar. Maka dari sekarang, kita harus berfikir besar, memikirkan tentang masa depan bangsa kita tercinta, khususnya NTB. Semoga melalui momen pilkada ini, kita mampu mewujudkan pilkada yang bersih dan bebas dari money politik sesuai dengan harapan kita bersama.

Sunday, 26 May 2013

Polemik Universitas Mataram


Universitas Mataram adalah satu-satunya universitas negeri di Nusa Tenggara Barat yang menjadi corong dan kiblat bagi Perguruan Tinggi dan Universitas-Universitas lain sehinggga tidak langsung Unram menjadi teladan dari segala sisi bagi universitas-universitas dan Perguruan-Perguruan Tinggi di NTB. Namun pada realitanya, Unram tak ubahnya tahi kuda yang hanya mulus di luar tapi di dalamnya ambruk. Unram yang dari luarnya megah dan mewah seakan-akan memberikan anggapan bahwa di dalamnya baik dan tentram. Namun pada kenyataannya semua hanya formalitas belaka.
Unram hari ini sarat akan masalah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya fasilitas-fasilitas  kampus yang sampai saat ini masih banyak terpenuhi. Juga masalah dana-dana dan informasi yamg tidak transparan. Rumah Sakit Pendidkan (RSP) Unram yang sampai saat ini belum rampung, padahal Unram mendapatkan dana 45 Milyar dari APBN murni sejak Januari lalu, dan sekarang sudah menginjak bulan ke 6, tapi kelanjutan pembangunannya masih belum ada tanda-tanda. Rusunawa (Rumah susun mahasiswa), yang dibangun berdasarkan SK dari Kementrian Perumahan Rakyat, seyogyanya bisa ditempati sejak diresmikan oleh Kemenpora (Andi Malarangeng) 2009 lalu, , tapi hanya karna alasan perizinan penempatan yang belum keluar, maka pihak Rektorat tidak berani mengambil keputusan. Padahal, rektor sekelas Unram seharusnya mampu mengintervensi kebijakan yang ada. Pembangunan gedung Fakultas MIPA dan gedung E FKIP yang masih belum rampung dengan alasan yang tak jelas.
Banyak masalah-masalah di Unram yang butuh transparansi. Pemungutan dana SPI bagi mahasiswa regular sejak diterapkannya SPP Tunggal tidak jelas peruntukannya ke mana. Dana asuransi untuk mahasiswa senilai 25 ribu per semester ( beda dengan uang JPKMK)  juga masih  menjadi tanda tanya besar arahnya ke mana. Mengharapkan transparansi pembagian dana bagi BEM, DPM, UKM, baik di tingkat universitas maupun Fakultas dari dana DPP SPP pun sampai saat ini hanya seperti pungguk merindukan bulan. Dana-dana yang dihasilkan dari fasilitas-fasilitas kampus seperti penyewaan Audit, Arbud, dan ruang sidang Senat pun tidak jelas ke mana anggarannya. Mahasiswa juga butuh transparansi informasi kampus, agar mahasiswa tahu keberpihakan program2 dan kebijakan2 pejabat-pejabat kampus terhadap mahasiswa itu sendiri. Kemudian transparansi beasiswa-beasiswa yang ada dikampus yang tidak terdistribusikan secara tepat sasaran, dan adanya beasiswa-beasiswa yang tidak diketahui peruntukannya ke mana, seperti beasiswa Djarum, Honda, Newmont, dll. Maka dari permasalahan-permasalahan tersebut, kami menuntut:
1.       Transparansi dana SPI dan Asuransi sebesr Rp 25.000,-/semester
2.       Transparansi dana DPM, BEM, dan UKM, baik di tingkat Universitas maupun Fakultas
3.       Transparansi dana-dana yang dihasilkan dari fasilitas-fasilitas kampus
4.       Transparansi beasiswa (Jumlah beasiswa di Unram dan peruntukannya)
5.       Realisasi kelanjutan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan (RSP)
6.       Penempatan Rusunawa oleh mahasiswa
7.       Kelanjutan pembangunan gedung E FKIP dan MIPA
Atas nama mahasiswa Unram
Korlap 1                                                                                                                Korlap 2
Azkia Rostiani R. (Ketua DPM Unram)                                               Mentari (anggota DPM FH   Unram)

Saturday, 25 May 2013

Politik itu busuk..Benarkah
Ada juga yang berpendapat politik itu ibarat pisau
Ada lagi istilah lainnya "man behind the gun"
Terserahlah..aku tak peduli dengan definisi-definisi
karena yang dibutuhkan adalah bukti, bukan janji

Seperti apakah wajah negeri hari ini
kelaparan, kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme,
perpecahan dan segudang masalah lainnya

67 tahun lebih umur kemerdekaan bangsa ini
tapi kemelarata demi kemelaratan terus terjadi pada anak negeri
sementara konglomerat-konglomerat dan penguasa-pengusa ongkang-ongkang kaki di atas sofa berbusa
Adilkah?

Orde lama, orde baru, ataupun era reformasi
hanyalah sebuah legitimasi
Untuk dijadikan pleidoi
Aksioma tanpa makna

Kepada jiwa-jiwa yang masih punya harapan tentang  perubahan besar yang akan terjadi
mari kita satukan tujuan
mari kita satukan langkah

Kepada jiwa-jiwa yang mengaku mencintai negeri ini
maka mari kita buktikan dengan aks-aksi nyata
karena cinta adalah kata kerja kata seorang penulis
ia aktif, bukan pasif
karna mencintai berarti berbuat, memberi, bahkan berkorban
maka mari kita pantaskan diri untuk mencintai

Monday, 20 May 2013

Kadang amanah itu terasa begitu berat..hingga sempat terfikir kenapa harus aku..tapi aku tidak ingin larut dalam semua fikiran itu...maka kukuatkan tekad untuk membuktikan..untuk meyakinkan semua orang...bahwa aku mampu dan bisa..maka yang harus kulakukan kemudian adalah ...memantaskan diri..semangat,,so my life's tagline today is be a precious girl,,, and you have to make it Azkia...ganbatte!!!!!!!!!!!!!
 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design