Sunday, 10 November 2013

Rekayasa Pendidikan




Pendidikan adalah instrument rekayasa masa depan. Bagaimana kita merakayasa pendidikan hari ini menentukan nasib pendidikan bangsa kita di masa depan. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah rekayasa pendidkan  seperti apa yang mampu membangkitkan pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945?
Proses pendidikan adalah proses interaksi pada manusia. Di dalam pendidikan banyak sekali terjadi interaksi dan komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Sadar atau tidak, interaksi sangat mempengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri. Jadi, membuat pendidikan berkualitas harus diiringi dengan kualitas interaksi itu sendiri. Bagaimana interaksi yang berkualitas? Tentu harus diiringi dengan kualitas personal yang kemudian akan berdampak pada kualitas kolektif. Seorang pendidik harus menyadari bahwa tugasnya bukan hanya mengajarkan anak didik dari tidak bisa menjadi bisa, bukan hanya mengajarkan angka-angka ataupun huruf-huruf, menyuruh menyelesaikan pekerjaan rumah, kemudian menghukum atau memarahi anak ketika mereka tidak bisa. Lebih dari itu, seorang pendidik juga harus menjadi sumber inspirasi untuk anak didiknya, ia harus mampu menebarkan aura positif kepada anak didiknya, mengajarkan nilai-nilai melalui tutur, laku, dan karya sehingga anak didik termotivasi untuk melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh gurunya, ia harus mampu mentransfer nilai-nilai kebaikan yang ia punya sehingga ia mampu menjadi teladan bagi anak didiknya. Jadi, salah satu transformasi dalam dunia pendidikan ke depannya adalah bagaimana mencetak guru-guru yang berkualitas, yang mampu menjadi sumber inspirasi dan idola bagi ini didiknya di tengah degradasi keteladan yang dihadapi oleh remaja-remaja dan pemuda Indonesisa yang notabenenya adalah anak didik.
Di tengah begitu banyaknya permasalahan yang dialami bangsa kita, terlebih dalam dunia pendidikan, kita harus meyakini bahwa kita bisa menjadi lebih baik ke depannya, kita juga harus meyakini bahwa kita adalah bangsa yang besar, kita adalah bangsa yang hebat. Kita harus melihat bangsa kita dari kacamata yang positif, lihatlah potensi yang dimiliki bangsa ini; sumber  daya alam yang melimpah, kekayaan bahasa dan budaya, heterogenitas yang mampu jadi perekat, keramahtamahan penduduknya, dan masih banyak lagi. Selama ini kita terlalu banyak direcoki oleh permasalahan-permasalahan yang akhirnya melahirkan pesimisme-pesimisme terhadap negeri sendiri, sehingga kita cenderung tidak menghargai negeri kita sendiri. Jadi, yang harus kita lakukan adalah mengubah mindset berfikir kita bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan hebat. Yang harus kita lakukan adalah membangun optimisme bangsa di tengah krisis pesimisme kolektif yang terjadi. Mahatma Ghandi mengatakan bahwa hati-hati dengan pikiranmu karena pikiranmu akan menjadi perkataanmu, hati-hati dengan perkataanmu karena perkataanmu akan menjadi perbuatanmu, hati-hati dengan perbuatanmu karena perbuatanmu akan menjadi kebiasaanmu, hati-hati dengan kebiasaanmu karena ia akan menjadi nasibmu. Jadi, kalau kita berfikir positif tentang bangsa kita, maka ke depannya kita pasti bisa menjadi bangsa yang maju, bangsa yang besar, dan bangsa yang hebat. There is nothing impossible because impossible is nothing.

Monday, 15 July 2013

Hati pun Harus Perawan...



 
“Bagaimana cara memangkas tunas yang mulai tumbuh?”  Pertanyaan ku pada seorang teman suatu ketika. “Ya simple saja, ambil gunting, potong deh”.
“Benarkah bisa sesederhana itu?”
Of course, you don’t believe me?”
“Bukan masalah percaya atau tidak. Tapi siapa yang bisa menjamin kalau tunas itu tidak tumbuh lagi?“
“Ya pangkas lagi”
“Mmm, lalu bagaimana kalau ini soal rasa?”
“Rasa apa? Berbeqiu, grilled chicken, toasted corn atau apa?”
Hello, I am serious guys…
“????????”
“Aku mencintai seseorang, tapi entahlah ini bisa dikatakan cinta atau tidak. Beberapa hari yang lalu rasa ini tiba-tiba muncul…mungkin bukan cinta, tapi tepatnya suka”
“Apa yang membuatmu suka?”
“Dia itu menurutku cool
cool? Itu saja. Itu bukan alasan yang cukup kurasa untuk menyukai seseorang”
“Bagimu mungkin iya, tapi bagiku tidak. Kita tak akan pernah tahu kapan cinta itu datang, kepada siapa, dan bagaimana. Sebab ia tak mengenal tempat, waktu, bahkan cara. Aku menyukainya, itu saja”


Aku tak ingin mencintai lelaki manapun untuk saat ini.  Terlalu lelah kadang hati harus menahan rasa, sebab ia hanya segumpal daging, terlalu berat harus menanggung beban. Tidak…Tak akan kubiarkan satupun makhluk itu datang. Dan mengganggu setiap detik yang tersisa. Banyak hal yang harus diselesaikan. Banyak hal yang harus dikerjakan. Aku hanya ingin mencintai di saat yang tepat. Saat kuncup memang harus mekar dari tangkainya. Biar semerbak tak serupa bau busuk. Biar madu tak dikira racun..Dan Sebelum cinta itu datang. Maka harus kutuntaskan cita.

Aku jadi teringat perkataan seorang senior…”karena hati pun harus perawan” Awalnya aku tak faham, dan sulit menerima itu, sebab cinta tak pernah memilih kepada siapa dan kapan ia datang. Tapi lama-lama sedikit aku mulai terbuka, bahwa kehadiran cinta memang sebuah kewajaran, tapi kemudian kita harus pandai memenej hati. Sebab hati adalah sebentuk jiwa yang begitu peka merasa. Maka jangan biarkan cinta menguasai hatimu, tapi hatimulah yang harus menguasai cinta. Karena hati itu harus diberikan kepada orang yang tepat, dan di waktu yang tepat, biar ia tidak terbagi kelak. Sebab ketika kita memutuskan untuk mencintai, segenap jiwa raga harus dipasrahkan..
            Benarkah hati harus perawan? ………


l
 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design