Thursday, 15 December 2016

Kekerasan Simbolik

Menurut Bordieu, hirarki sosial saat ini dan ketidaksetraan sosial, juga suffering yang dialami masyarakat, diciptakan dan dipertahankan melalui bentuk dominasi simbolik daripada tekanan fisik. Dominasi-dminasi itulah yang kemudian disebut Kekerasan Simbolik. Gagasan tentang kekerasan simbolik tidak bisa lepas dari bahasa. Bordieu melihat bahwa bahasa adalah sebuah instrument kekuasaan dan perbuatan seperti fungsinya sebagai alat komunikasi. Bahasa itu sendiri adalah bentuk dominasi. Analisis Bordieu tentang masyarakat berfokus pada proses klasifikasi dan dominasi. Dia berpendapat bahwa kategorisasi membuat dan mengatur kehidupan, bahkan mengatur orang dengannya. Hirarki dan dan sistem dominasi kemudian direproduksi terhadap sejauh mana para dominan dan yang didominasi meyakini sistem tersebut untuk disahkan dan kemudian berfikir dan bertindak sesuai dengan jalur masing-masing selama masih dalam konteks sistem itu sendiri.

Thursday, 10 November 2016

Walkman, Makanan dan kajian budaya

Jika Anda hidup diera 80an, mungkin Anda sangat mengenal Walkman, dan betapa Walkman menjadi salah satu benda yang sangat terkenal dan diinginkan oleh hampir semua kalangan pada waktu itu. Melalui tulisan ini, penulis mencoba membedah fenomena Walkman sebagai sebuah kebudayaan. Selain itu, tulisan ini juga mencoba menjelaskan bagaimana makanan menjadi penanda sosial. Sesuatu menjadi kebudayaan sebab kita mengkonstruksikan makna didalamnya. Pemaknaan menjadi penting sebab ia membantu kita menginterpretasikan dunia, membuat ‘benda’ atau’objek’ menjadi bermakna, sebab tanpa pemaknaan ia hanyalah sebuah benda atau objek tanpa arti. Pemaknaan menjadi jembatan antara materi dengan dunia, antara benda mati dan makhluk hidup. Sebuah objek dikatakan memiliki nilai budaya jika ia dibentuk melalui serangkaian makna dan praktiknya. Hal ini sejalan dengan pengertian budaya menurut William yaitu sebuah deskripsi dari cara-cara hidup tertentu yang mengekspresikan makna dan nilai-nilai tertentu tidak hanya dalam seni dan pembelajaran, tetapi juga dalam institusi dan perilaku. Dan hal inilah yang coba dibentuk oleh sony melalui Walkmannya. Untuk merealisasikan makna budaya yang ingin ditawarkan Sony melalui Walkman, ada lima prosesnya yaitu: Representasi, Identitas, Produksi, Konsumsi, dan Regulasi atau yang biasa disebut dengan Sirkuit kebudayaan. Makna sebuah objek tidak langsung ada, tetapi direpresentasikan di dalam bahasa dan tanda, baik oral maupun visual. Konsep inilah yang dikembangkan Sony, bagaimana pemaknaan atau makna yang ingin dibangun dari Walkman menjadi representasi dari sebuah benda yang bernama Walkman. Sebab sebuah mesin tidak dapat memberi pemaknaan terhadap dirinya, oleh karena itu Sony berusaha membangun makna dari sebuah benda bernama Walkman dan kemudian membentuk identitas dari representasi yang telah ia ciptakan melalui asosiasi terhadap berbagai kalangan masyarakat. Salah satu cara Sony merepresentasikan pemaknaan yang ia ciptakan adalah melalui wacana iklan. Ada beberapa contoh iklan - di dalam buku Doing of Cultural Studies: the Story of Sony Walkman - dengan cakupan yang berbeda-beda: 1) Iklan seorang remaja perempuan menggunakan Walkman dan ia terlihat sangat bahagia sambil menari-nari serta seorang kakek tua juga sedang mendengarkan Walkman, 2) Seorang perempuan yang sedang bersepeda sambil memakai Walkman, 3) Sseseorang sedang bermain ice skating sambil mendengarkan Walkman disertai teks dibawahnya “tuning into rappers: with phones on your ears and a cassette turned down low, you can have music wherever you go.” 4) Seorang pasangan sedang berdua sambil mendengarkan Walkman, 5) Gambar sony Walkman dalam beberapa bahasa, 6) Gambar Walkman disertai teks “Phone your friends and tell them how big your Walkman is” dan 7) Remaja laki-laki menggunakan Walkman. Dari contoh-contoh tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa ada beberapa pemaknaan yang ingin dibangun didalam Walkman yaitu; 1) Walkman adalah milik semua kalangan; tua-muda, laki-laki-perempuan melalui pelibatan perempuan dan laki-laki dalam semua segmen usia sebgai pembentukan identitas pengguna Walkman 2) Walkman didesain dalam bentuk yang lebih kecil sehingga memudahkan pengguna untuk bisa membawanya ke mana-mana (portable) 3) Walkman adalah milik global (dunia) bukan hanya milik Jepang. Dari pemaparan tersebut kita bisa melihat bahwa satu Produk yang sama memiliki yang makna berbeda tergantung dari representasi yang dibuat. Representasi pemaknaan-pemaknaan tersebut kemudian menjadi sebuah identitas ketika hal tersebut juga diasosiasikan, sehingga orang berlomba-lomba untuk bisa diasosiakan dengan Walkman. Seseorang akan bangga ketika bisa memiliki Walkman, sama seperti seseorang bangga ketika memiliki Mackintosh ataupun I-Phone. Jadi, kenapa Walkman menjadi ‘budaya’ sebab kita membentuknya menjadi benda yang bermakna. Kita membayangkannya, memikirkannya bahkan membicaraknnya. Itulah juga yang membuatnya menjadi ‘budaya’ sebab ia terkoneksi dengan seperangkat praktik sosial ( seperti mendengarkan music sambil traveling atau berada dalam kereta) sehingga ia menjadi sebuah gaya hidup. Selain itu, juga karena ia bisa diasosiasikan dengan bermacam-macam jenis orang (anak muda, mislanya bagi pecinta musik); tempat (di kota, di tempat terbuka, di museum). Produksi Walkman menjadi sesuatu hal yang menginspirasi disebabkan oleh representasi makna yang telah dibentuk sebelumnya sehingga Produksi dan Konsumsi beriringan dan bersifat kontinyu. Proses dan praktik konsumsi tidak hanya konsumsi benda tapi juga konsumsi budaya melalui proses meaning –making yang dibentuk melalui sinergi dengan media (baca: iklan). Walkman kemudian mempengaruhi kehidupan budaya sehingga secara tidak langsung ia ikut meregulasi kehidupan budaya masyarakat melalui wacana yang telah terbentuk, seseorang akan dianggap keren jika ia memakai Walkman misalnya Dalam Sahlin, pendekatan kebudayaan menggunakan pendekatan Historical materialism yaitu pendekatan/teori yang lebih menekankan pada aspek perilaku dan benda. Di sini kita bisa melihat bagaimana makanan menjadi penanda social. Manusia memberikan pemaknaan terhadap sebuah Objek. Yang membuat sesuatu itu memiliki makna adalah berdasarkan identitas dan representasi yang dibentuk oleh manusia itu sendiri. Menurut Marx “ animal produce only themselves while men reproduce the whole of nature.” Jadi, pemaknaan itu dibangun oleh konsepsi manusia itu sendiri. Jika kita menarik sebuah logika dari sudut pandang materi dan sosial, maka produksi adalah reproduksi kebudayaan dalam sistem kebendaan. Barang menjadi kode/tanda bagi suatu kepentingan dan nilai dari seseorang, suatu peristiwa, fungsi dan situasi. Berkembangnya ekonomi Borjuis , bahwa barang itu dinilai dari nilai ekonominya. Semakin tinggi nilai ekonominya, maka semakin tinggi nilai social dan budaya barang tersebut. Untuk memberikan nilai budaya, kita perlu melihat makna sosialnya. Misalnya kenapa orang Amerika tidak makan Anjing dan Kuda dan di India tidak makan daging sapi? Anjing, Kuda, dan daging Sapi tidak masuk di dalam logika walaupun layak dikonsumsi. Hal ini berkaitan dengan praktik masing-masing budaya. Di Amerika, kuda dan anjing adalah barang yang sangat disayangi, mereka tidak menganggap hal tersebut layak dikonsumsi. Begitupun juga dengan di India, mereka meyakini bahwa Sapi adalah hewan yang suci yang sangat tidak pantas menjadi barang konsumsi. Memasuki krisis, Amerika tahun 1973, memaksa masyaraktnya untuk mencari pengganti daging yang lebih murah dan ada usulan untuk menjadikan kuda sebagai penggantinya sehingga ada protes terkait hal tersebut. Sistem pemaknaan budaya ada di level praksis , tapi kita juga harus mempertanyakan siapa yang menciptakan pemaknaan itu. Di dalam Sahlin, “makanan sebagai simbol”, pemaknaan tentang makna makanan diciptakan oleh kaum borjuis, bagaimana daging yang sama bisa berharga berbeda. Itulah yang kemudian menjadi kritik Marxisme bahwa orang yang punya modal bisa mengatur kehidupan . Di dalam Sahlin, kebudayaan sebagai kebiasaan itu diciptakan oleh kelompok tertentu yang dalam hal ini kelompok borjuis, orang-orang yang memiliki modal, dan mereka berupaya untuk mempertahankan kebiasaan itu melalui pemaknaan yag dibangun dalam makanan. Sementara sony meyakini bahwa kebudayaan itu bisa diciptakan melalui sirkuit kebudayaan; representasi, identitas, produksi, konsumsi, dan regulasi. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa sebuah benda menjadi kebudayaan ketika ia memproduksi dan mensirkulasi makna yang terkandung di dalamnya sehingga hal tersebut menjadi cara hidup (way of life) suatu masyarakat. Mengacu kepada hal tersebut maka kita bisa menyimpulkan bahwa baik makanan maupun Walkman adalah sebuah kebudayaan yang dibangun melalui proses pemaknaan yang dikonsepkan oleh manusia. Jika di dalam Food as Symbolic code ada tiga proses yang dibentuk yaitu representasi, identitas, dan regulasi sementara dalam Sony Walkman melalui lima proses yaitu representasi, identitas, produksi, konsumsi dan regulasi. Baik dalam Sony maupun Sahlin keduanya menyoal kebudayaan dalam sebagai sebuah pemaknaan dalam level praksis dimana pemaknaan ada di level material. Tetapi di dalam Sahlin, ia juga menyebut struktur sehingga terkadang orang merasa bahwa hal tesebut adalah sesuatu yan given (baca: sudah dari sononya). Secara sederhananya kita bisa menggambarkan di dalam Food as symbolic Code yaitu kebudayaan sebagai kebiasaan diciptakan oleh kelompok tertentu (baca: kelompok borjuis) yang kebiasaan tersebut ingin dipertahankan melalui makanan. Sementara dalam Sony Walkman, kebudayaan sebagai sebuah kebiasaan dikonstruksi melalui serangkaian makna dan praktik, dimana ekspresi kebudayaan bersifat diskursif (memiliki peluang untuk ditawar dan dinegosiasikan ) Referensi Sahlins, Marshal. 1994. Food as Symbolic Code. Culture and Society, Contemporary Debates. Alexander, J.C. dan Seidman, Steven (Ed.). New York: Cambridge University. Paul du Gay., et.all (Ed). Doing Cutural Studies: The Story of Sony Walkman.London: Sage Publication.

kolonialisme dan peradaban Indonesia

Konsep Civilization dibawa oleh orang Eropa (khususnya) ke Indonesia melalui kolonialisme. Untuk menjelaskan pernyataan tersebut sebelumnya kita perlu memahami apa itu civilization- selanjutnya peradaban-. Menurut Masinambow, terlepas dari etimologinya, peradaban adalah terjemahan dari istilah dalam bahasa Inggris civilization; Jerman, zivilisation; Perancis, civilization; Belanda beschaving. Ada dua dimensinya dalam pemaknaan peradaban jika kita melihat istilah-istilah tersebut ke dalam unsur-unsurnya sebagai pencerminan dari perspektif masyarakat Eropa Barat pada zaman ekspansinya ke Benua Afrika dan Asia yaitu; a. Adanya kehidupan kota yang berada pada tingkat perkembangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perkembangan di daerah pedesaan (pengalaman pedesaan Eropa Barat) b. Adanya pengendalian oleh masyarakat dari dorongan-dorongan elementer manusia dibandingkan dengan keadaan tidak terkendalinya atau pelampiasan dari dorongan-dorongan itu. Selain itu, Masinambow juga mengatakan bahwa istilah civilization merupakan perkembangan dari ata latin civis ‘warga’; istilah ini membentuk suatu perangkat dengan kata-kata civitas “negara-kota (city state)”, civilitas ‘kewarganegaraan’; civilitabilis “mempunyai hak menjadi warga kota, memenuhi syarat untuk ikut serta dalam kehidupan kota”. Selain menganggap corak kehidupan kota lebih maju dan lebih tinggi dibandingkan dengan corak kehidupan di desa, dalam pengertian peradaban terkandung pula suatu unsur keaktifan yang menghendaki agar ‘kemajuan’ itu wajib disebarkan ke masyarakat dengan tingkat perkembangan yang lebih rendah, yang berada di daerah-daerah pedesaaan yang terbelakang (Kroeber dan Kluchkohn 1963:15 dalam Christomy T dan Untung Yuwono) Berdasarkan penjelasan dan penjabaran di atas kita bisa menyimpulkan bahwa masyarakat Barat menganggap dan meyakini bahwa peradaban dan kebudayaan mereka lebih tinggi daripada masyarakat Timur (khususnya wilayah yang dijajahnya), sehingga mereka berupaya untuk menerapkan peradaban mereka di negara jajahan mereka - Indonesia- Hal tersebut juga dikuatkan dengan pandangan Masinambow pada pembahasan selanjutnya bahwa motivasi dari ekspansi negara-negara Barat ke luar batas Eropa Barat terutama awalnya adalah perdagangan, yang kemudian dihadapkan dengan perbedaan corak kehidupan antara Barat dan Timur. Keunggulan dalam teknologi perkapalan, senjata-senjata perang dan aspek teknologi lainnya dihadapkan pada corak kehidupan masyarakat yang radikal –suatu corak kehidupan yang menurut persepsi mereka itu bersifat liar dan biadab—sehingga muncul dorongan untuk menyebarkan dan menanamkan peradaban mereka itu di dalam masyarakat itu. Kita kemudian bisa menyimpulkan adanya kontras antara kehidupan kota yang ‘beradab’ dan kehidupan desa yang “kurang beradab” yang distreotipekan menjadi corak kehidupan Barat versus corak kehidupan bukan-Barat. Pengertian peradaban dalam istilah Belanda itu sendiri adalah beschaving yang secara harfiah dijabarkan dari kata schaven ‘mengetam, mengasah.’ Dalam hal ini pengertian peradaban meliputi tata cara yang memungkinkan berlangsungnya pergaulan sosial yang lancar dan sesuai dengan norma-norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat Barat. Istilah tersebut juga mencakup makna bahwa corak kehidupan kota atau kehidupan yang beradab pada hakikatnya berarti tata pergaulan social yang sopan dan halus, yang seakan-akan mengikis dan melicinkan segi yang kasar. Makna lain dari Peradaban adalah kemajuan system kenegaraan yang jelas dapat dikaitkan dengan pengertian civitas. Hal ini berimplikasi pada penyebaran sistem politik barat sebagai sarana yang memungkinkan penyebaran unsur-unsur peradaban lainnya. Kalau kita membandingkan pengertian ‘peradaban’ atau civilization dengan pengertian ‘kebudayaan’ atau culture yang diadakan zaman itu, jangkauan pengertian pertama lebih luas dan menyeluruh, sedangkan pengertian kedua bersifat lebih sempit, yaitu terikat menurut batas-batas nasional . Oleh karena unsur-unsur yang terkandung di dalam suatu peradaban dianggap cenderung menyebar ke bangsa-bangsa lain, lazim dikatakan bahwa misalnya kebudayaan Jerman merupakan hasil penyebaran peradaban Eropa, atau kebudayaan Jepang merupakan hasil penyebaran peradaban Cina. Hal yang harus dipahami untuk memahami peradaban adalah kebudayaan, sebab orang seringkali sulit membedakan antara keduanya. Menurut Masinambow, Kebudayaan adalah suatu kompleks gejala termasuk nilai-nilai dan adat kebiasaan yang memperlihatkan kesatuan, sementara Teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaan untuk melangsungkan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supernatural. Selain pengertian tersebut ada beragam teori kebudayaan yang muncul disebabkan oleh 1) perspektif perkembangan sejarah dan 2) perspektif konseptual. Keragaman menurut perspektif sejarah adalah akibat langsung dari pergeseran paradigma pada peralihan abad ke-19 ke abad ke-20, sedangkan keragaman, menurut pemahaman konseptual yang berbeda, bersumber pada perbedaan pandangan terhadap hubungan antara yang bersifat individual dan yang bersifat kolektif (Masinambow dalam Christomy dan Untung Y. 2010) Kebudayaan sebagai salah satu bagian dari peradaban memiliki peranan yang sangat penting dalam mewarnai (perubahan) peradaban suatu tempat. Ole karena itu, banyak penelitian-penelitian dilakukan untuk mengetahui adat, kebiasaan dan nilai yang ada di Indonesia pada saat itu. Segala sesuatu pasti memiliki efek positif maupun negatif, begitupun juga dengan kolonialisme. Kita akan mencoba melihat perspektif lain dari kolonialisme dari sudut peradaban yang dihasilkan (tinggalkan) selama menjajah Indonesia kurang lebih 300 tahun yang bermanfaat bagi keberlangsungan rakyat Indonesia sampai hari ini yaitu: 1. Transportasi. Salah satu manfaat yang paling besar dirasakan adalah pembangunan saranan transportasi meliputi stasiun dan rel kereta api (yang dibiayai dengan amat mahal yang bermunculan di desa-desa kecil di sepanjang rute jalurnya. Dari Bandung ada stasiun-stasiun dan Emplasemen, seperti Kiaracondong, Tanjungsari, Rancaekek, Cicalengka, Citiis, Lebakjero, Cimanuk, Cibatu, lalu Nagreg di titik tertinggi 848 meter di atas permukaan laut), dan jalan Anyar – Panarukan yang walaupun pada pada prosesnya begitu menyiksa rakyat pada saat itu selain juga untuk kepentingan bangsa penjajah sendiri agar bisa mendistribusikan rempah-rempah, kopi dan hasil bumi lainnya dengan lebih mudah. 2. Ilmu Pengetahun dan Teknologi Kolonialisme juga memberi dampak positif tersendiri dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Indonesia mulai mengenal persenjataan, alat tempur, alat transportasi dan juga komunikasi. Masyarakat (tertentu) juga diajarkan cara menggunakannya secara langsung. Hal ini, misalnya dalam persenjataan ( dulunya berupa bambu runcing) bahkan mampu meningkatkan semangat rakyat untuk meraih kemerdekaan dengan memanfaatkan teknologi yang lebih canggih . selain itu juga, pembentukan universitas-universitas sebagi politik etis (menurut mereka) untuk mecerdaskan rakyat, sehingga lahirlah lebih banyak orang terdidik yang kemudian menjadi pemimpin dalam gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajah. 3. hukum Seperti yang kita ketahui bersama bahwa sampai hari ini, hukum yang ada di Indonesia mengadopsi hukum Belanda. Hampir keseluruhan hukum yang ada di Indonesia berasal dari Belanda. Tetapi, Setelah keerdekaan, ada beberapa hukum yang direvisi dan diperbaharui untuk menyesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. Berdasarkan penjelasan di atas, secara keseluruhan kita bisa menyimpulkan bahwa konsep civilization dibawa oleh kolonialisme ke Indonesia yang awalnya melalui penyebaran dan penerapan peradaban Barat (yang menurut perspektif mereka lebih tinggi dan lebih beradab) yang disebarkan baik secara secara halus maupun kasar yag dibuktikan dengan beberapa peninggalan pada masa kolonial dalam bidang iptek, transportasi, dan hukum. Hinggga saat ini masyarakat masih terus berupaya untuk mengembangkan diri di dalam segala bidang: iptek, infrastruktur, sosial humaniora, hukum, dan lain-lain untuk terus mencapai sebuah budaya dan kebudayaan yang adiluhung yang mampu memberikan perubahan kea rah yang lebih baik untuk manusia umumnya, dan masyarakat Indonesia khususnya. Hal itu menunjukkan bahwa konsep peradaban itu sendiri terus berkembang di masyarakat. Referensi Masinambow, E. K. M. Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. dalam Christomy T dan Untung Yuwono (Eds). 2010. Semiotik Budaya. FIBUI: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya. Cetakan II. www.kompas.com diakses 10 Nopember 2016

Tuesday, 18 October 2016

Perempuan atau Wanita?


Banyak orang bertanya-tanya sebenarnya yang benar itu perempuan atau wanita? Beberapa kalangan berpendapat bahwa perempuan berasal dari kata’empu’ yang berarti milik, sehingga ditafsirkan bahwa perempuan memilik hak milik atas tubuhnya, atas dirinya sendiri sehingga mereka bebas berkehendak melakukan apapun tanpa harus ada pembatasan dan pendiskriminasian terhadap mereka. Dan wanita berasal dari bahasa Jawa yaitu wani to yang merupakan singkatan dari wani di toto (berani di tata) atau bisa juga berani dan mau diatur yang kemudian dianalogikan bahwa perempuan berhak diatur-atur dan diperintah-perintah. Sehingga orang (khususnya perempuan terutama para feminis) meyakini bahwa yang benar seharusnya perempuan karena mereka bukan barang yang harus diatur-atur, tetapi memiliki hak atas apa yang menjadi miliknya. Berdasarkan hasil diskusi di kelas Semantik bersama Pak Dr Afdhol, secara etimologis (ilmu tentang asal usul kata ) wanita dan perempuan berasal dari bahasa sanskerta yang juga merupakan salah satu asal bahasa Melayu yaitu wan dan ita untuk wanita dan perem dan puan untuk perempuan. Wan berarti orang dan ita mengacu pada bentuk akhiran (suffix) yang mengacu pada bentuk feminim (perempuan). Sementara perempuan yaitu berasal dari kata perem yang berarti memeram dan puan berarti air susu. Jadi penamaan perempuan berdasarkan sifat dan cirri yang dimiliki perempuan yang tidak dimiliki laki-laki. Dan di dalam bahasa Melayu tidak ada imbuhan pe-an. Mengenai hal ini juga, salah satu dosen UI, Prof Benny (Alm) menghimbau bagi yang sudah tahu untuk menyebarkan tentang hal ini. Jika kita mengacu kepada makna secara etimologis dan penjelasan di atas sebenarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan antara perempuan atau wanita karena pada hakikatnya keduanya benar.

Monday, 17 October 2016

STUNNING BATU PATUNG


“Waw keren”,hampir begitulah tanggapan wisatawan yang bertandang ke Batu Payung. Disambut dengan tegarnya sebuah batu yang berbentuk payung di tengah pantai ini menjadikannya sebagai sebuah daya tarik tersendiri yang menambah kekaguman para turis, baik lokal maupun mancanegara. Batu payung merupakan salah satu bagian dari Tanjun Aan yang terhampar sepanjang pantai selatan Lombok Tengah . Hanya dengan menyewa perahu selama 15 menit atau berjalan kaki sejauh 500 meter, kita sudah bisa menikmati indahnya Batu Payung. Awalnya tak ada yang tahu Batu Payung, tetapi sejak jadi tempat lokasi syuting iklan rokok Dunhil membuat nama Batu Payung melejit. Tidak hanya wisatawan luar daerah maupun luar negeri yang ingin menginjakkan kaki di tempat ini, tapi juga masyarakat Lombok sendiri sangat penasaran dengan Batu Payung sendiri. So, bagi Anda yang sedang berlibur ke Lombok, jangan sampai tidak ke sini ya..

Saturday, 15 October 2016

Gelisah


Aku gelisah Kamu gelisah Kita gelisah Negeri ini gelisah Tapi kita tak tahu kenapa Seperti bahasa yang bersifat arbitrer Kita tidak tahu kenapa benda itu harus bernama pintu Kenapa bukan tupin, tunpi atau tipun misalnya Kita juga tak tak tahu kenapa binatang itu namanya kucing Kenapa bukan cikung, cuking, kicung atau mungkin ngicuk Aku gelisah Kamu gelisah Kita gelisah Negeri ini gelisah Tapi kita tak tahu kenapa Kita bebas tapi kita terpenjara Kita bicara tapi kita bungkam Kita bergerak tapi kita diam Lagi, kita bahkan tak tahu kenapa Aku gelisah.

Trilogi Hunger Games dalam Perspektif Marxisme

photo from google Trilogi Hunger Games adalah cerita tentang Katniss, seorang gadis berusia 16 tahun yang tinggal di sebuah daerah pasca-apokalips di Amerika Utara, sebuah wilayah yang sekarang bernama Panem yang terbagi menjadi 13 distrik dengan ibu kota yaitu Capitol. Distrik-distrik tersebut sangat miskin, kecuali distrik 1 dan 2 yang lebih kaya daripada yang lainnya. Katniss dan keluarganya tinggal di distrik 12 di mana distrik tersebut adalah distrik yang menyedihkan, rakyatnya mencari penghasilan dengan berburu dan memancing di sekitaran hutan. Sebaliknya, Capitol menampilkan sebuah kekayaan yang berlebihan dimana kebobrokan budaya digabung dengan kekuatan ekonomi dan teknologi yang nyata. Capitol adalah sebuah parasit di distrik-distrik tersebut, menggunakan kekuatan teknologi untuk mengekstrasi sebuah persembahan. Sehingga, setiap tahun sebuah persembahan budaya diundang-undangkan – sebuah ritual pengorbanan dimana setiap distrik mengirimkan dua orang anak mudanya untuk bertarung menghadapi kematian dalam sebuah gelanggang pertunjukan yang bertempat di jantung kota. Katniss menjadi sukarelawan mengantikan saudara perempuannya yang sebelumnya terpilih untuk bertarung di ‘Hunger Games’ yang ke 74. Hunger Games ibaratnya seperti sebuah pertunjukan ‘sepotong roti dan sirkus.’ Sesungguhnya Panem berasal dari frasa Romawi ‘panem et circenses’, dan film tersebut seperti permainan Gladiator Romawi. Tetapi rasa keromawian dan kekunoannya dipadukan dengan teknologi yang sangat canggih dan besar yang membayangi kehidupan di luar Capitol seperti sebuah mimpi buruk. Tidak hanya dalam dunia nyata, rakyat di setiap distrik dianiaya dengan kobaran api dari pesawat yang tak berpenghuni yang sangat besar tapi ‘Hunger Games’ sendiri dimainkan di dalam sebuah computer, secara ahli dimanipulasi oleh pembuat permainan sehingga mereka bisa mengontrol permainan dan membuat efek mengerikan bagi para peserta Hunger Games. Aspek modernitas dalam film ini dikemas dengan jelas tidak hanya dalam aspek formal permainan tersebut - teknologi dasar - tetapi juga cara kontestan menghadapi tantangan-tantangan yang mempertaruhkan hidup dan mati. Untuk bisa bertahan mereka harus mengikuti serangkaian tes untuk mendapatkan sponsor yang nantinya mempermudah mereka mendapatkan bantuan seperti makanan, air, dan obat-obatan. Dalam film kedua, pasangan Katniss dan Peeta tampil dalam setiap pertunjukan, dan mereka mengunjungi setiap distrik menampilkan kemesraan di depan kamera seperti yang diperintahkan oleh presiden Capitol, mempertunjukkan keromantisan kisah cinta mereka dengan tujuan menutupi latar belakang kematian yang terjadi pada kontestan lain. Hal ini tetap mereka lakukan walaupun terpaksa sebab adanya ancaman dan kematian-kematian yang lain jika merela tidak mau melakukannya. Dalam kondisi tertentu, penderitaan yang Katniss dan Peeta alami tidak hanya soal perjuangan untuk bertahan tetapi lebih pada perjuangan untuk sebuah autentisitas – untuk mengklaim kembali substansi spiritual dari bentuk luarnya. Itulah kenapa walaupun dalam film/novel pertamanya hubungan Katniss dan Peeta hanyalah sandiwara untuk memperoleh keuntungan selama permainan berlangsung tapi kemudian dalam kenyataan mereka kemudian saling mencintai. Isu autentisitas bukan hanya tentang permainan, tetapi juga menyangkut masalah yang lebih luas dari sebuah karya fiksi yang Suzanne Collin angkat. Realita Panem menjembatani adanya benturan antara autentisitas dan non-autentisitas. Capitol adalah dunia yang dipenuhi dengan kegemerlapan, para penghuninya hidup dengan bersenang-senang, dan sering menghadiri pesta-pesta mewah. Sementara sebaliknya, orang-orang di distrik hidup melarat dan serba kekurangan. Keadaan Panem dan distrik-distrik sangat berkebalikan seperti 1% melawan 99% seperti di ekspresikan oleh ‘gerakan Pendudukan’. Pertentangan yang ditampilkan Collin antara realitas distrik yang nyata secara mendalam dengan aspek non-autentisitas ‘virtual’ Capitol merepresentasikan pertentangan dalam dunia nyata melalui kebangkrutan ekonomi global, kenaikan modal finansial dalam biaya modal industri-industri dan perkembangan industri produktif. Dalam aspek ini, trilogy The Hunger Games adalah sebuah karya fiksi yang menakjubkan. Tapi masalahnya adalah, ketika sebuah karya menjadi popular ada beberapa elit yang tidak melihat secara keseluruhan usaha yang telah dilakukan penulis. David Denby – salah satu pekerja The New Yorker – selain tidak mengindahkan nuansa politis dalam karya tersebut juga mencoba menghilangkan nilai-nilai perjuangan seorang remaja demi rakyat yang kemudian menyatakan bahwa itu hanyalah pemuasan individu dan karya-karya romantic. Selain itu, beberapa juga menyatakan bahwa The Hunger Games menjiplak sebuah novel Jepang tahun 1999 (yang juga difilmkan) Battle Royale, yang memicu banyak perdebatan baik di media mainstream maupun media online. Alvin Lin, penulis di Hypen, mengatakan bahwa kedua film tersebut menggambarkan pemerintahan otoriter yang korup yang mengharuskan para remaja di pulau terpencil untuk bertarung secara sadis dengan saling membunuh menggunakan beberapa senjata sampai hanya tersisa satu pemenang. Pada saat yang sama Collin mengatakan “ saya tidak pernah mendengar tentang buku tersebut atau pengarangnya sampai buku saya terbit.” Kesamaan antara Battle royale (yang selanjutnya saya singkat BR) dan The Hunger Games (selanjutnya saya singkat THG), yaitu keduanya sama-sama lahir sebagai respon kepada pemerintah terhadap krisis nasional. Tetapi krisis dalam THG menggambarkan secara jelas pembangkangan sebagai bagian dari kemiskinan dan eksploitasi rakyat di setiap distrik. Sementara BR tidak menampilkan hal tersebut. BR lebih menekankan pada karakter psikologis masing-masing tokoh serta aksi-aksi saling bunuh yang terjadi. Trilogi THG lebih menekankan kepada konten-konten politis: misalnya kita diperlihatkan kehidupan distrik-distrik yang sangat sengsara dan menyedihkan akibat eksploitasi dari elit-elit kota. Kompetisi dalam THG kemudian adalah miniatur penggambaran tentang kondisi sosial dan eksploitasi yang terjadi. Sementara BR lebih focus pada ‘aksi’ dan meskipun diperlihatkan dasar sosiologis kompetisi tersebut seperti kebangkrutan ekonomi, remaja yang nakal, dan seterusnya, hal tersebut hanya diperlihatkan secara sekilas tanpa eskplorasi dan elaborasi lebih dalam. Proses kenapa konflik terjadi dan bagaimana hal tersebut memengaruhi masyarakat tidak dihadirkan di film ini. BR juga tidak menampilkan konten dan nuansa/realitas politik. BR justru menggambarkan dengan jelas kebrutalan-kebrutalan dan kekerasan dalam kompetisi yang sebenarnya sembarangan dan nihilistis (menolak segala bentuk kekuasaan). Perbandingan keduanya akan menimbulkan spekulasi kenapa yang satu (THG) lebih kompleks dan totalitas menampilkan realitas social dan politik sementara yang satu hanya sekedar tontonan. Jawabannya adalah karena film tersebut adalah hasil perenungan panjang dari pengalaman penulis ketika menonton TV dari beberapa acara reality show. Seorang filsuf dari Slovakia. Slavoj Zizek menyatakan betapa perubahan yang sama pada dunia politik menyebabkan ‘gerakan Pendudukan.’ Poin Zizak jelas yaitu: di masa dulu perlawanan politik radikal menghasilkan beribu-ribu perjuangan tertentu, sebagai akibat dari perang yang berkepanjangan di seluruh dunia dan kebangkrutan ekonomi global. Aspek universalitas yang melandasi kapitalisme dan krisisnya diperlihatkan secara jelas. Itulah kenapa Zizek berpendapat bahwa era ‘gerakan Pendudukan terjadi karena isu-isu politik. Seorang pengarang komunis Bertolt Brecht menyatakan bahwa ‘ seni bukanlah sebuah cermin realitas tetapi sebuah palu yang membentuknya. Mungkin trilogy THG bukan hanya sebuah cemin tapi juga sebuah palu. Tidak hanya ingin menunjukkan realitas social dan perjuangan rakyat tetapi juga ingin membentuk dan mengonstruksikan bahwa perjuangan itu adalah sebuah keharusan. Opini Menurut saya The Hunger Games adalah sebuah karya seni yang luar biasa yang patut diapresiasi dan diacungi jempol. Bahkan, novelnya laris terjual mencapai daftar buku terlaris the new York times pada November 2008 dan tetap berada dalam daftar selama lebih dari 100 mingggu berturut-turut. Suzanne Collin adalah penulis buku remaja pertama yg berhasil menjual lebih dari satu juta buku elektronik di Amazon Kindle. Selain itu karyanya juga banyak menerima penghargaan . Terkait dengan adanya adanya kontroversi karna kemiripan dengan Battle Royale menurut saya itu sah-sah saja. Setiap karya terkadang bersumber dari ide yang sama, tapi tidak akan selalu sama, terbukti dengan kontrastive dari Tony Mckenna bahwa ada banyak perbedaan-perbedaan substantive dari kedua film tersebut. Eric Eisenberg juga berpendapat kalau The Hunger Games tidak menjiplak Battle Royale tetapi “menggunakan ide yang serupa dalam cara yang berbeda” baik dari segi perbedaan tema maupun cerita. Robert Nishimura: kebetulan mengembangkan ide yang telah digunakan berkali kali sebelumnya yang berasal dari mitologi yunani.^1 Bahkan beberapa film kalau kita amati juga cenderung memiliki kesamaan dengan The Hunger Games seperti The Condemned, The Most Dangerous Game, The Lottery. etc Upaya mengontraskan antara The Hunger Game dan Battle Royale menurut saya sebagai sesuatu yang objektif, daripada sekedar membandingkan kedua film tersebut, sebab segala sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sekaligus sebagai upaya menjawab kenapa kemudian THG tidak sama dengan BR dan tidak menjiplak BR. Sebab THG lebih menekankan pada signifikansi realitas social dan politik sementara BR menekankan pada aksi dan tidak mengelaborasi keduanya. Seperti yang sering kita dengar bahwa kapitalisme selalu melahirkan ketertindasan dan yang selalu dikorbankan adalah kelas bawah. Dalam trilogi ini Capitol diibaratkan seperti kapitalisme yang menyengsarakan dan mengambil keuntungan di mana kaum proletar (rakyat di tiap distrik ) selalu menjadi korban sementara kaum borjuis dan aristocrat (orang-orang yang hidup di Capitol) adalah penindas. Maka perjuangan itu selalu lahir dari ketertindasan yang akhirnya melahirkan perlawanan dari kaum-kaum yang selama ini mrasa dirugikan atas keserakahan kaum borjuis dan Katniss Everdeen adalah symbol perlawanan. Seorang Mockingjay. Film ini menurut saya berhasil membawa pesan tersebut sekaligus mampu membawa penontonnya ke dalam perasaan yang sama seperti yang dialami Katnis dan kaum yang tertindas. 1. https://id.wikipedia.org/wiki/Trilogi_The_Hunger_Games Note : tulisan ini sebagai laporan tugas baca Teori Kebudayaan

Wednesday, 12 October 2016

GILI PASIR YANG MEMESONA

Pernah mendengar Gili Pasir? Jika belum, Anda wajib membaca ini! Gili Pasir adalah salah satu dari banyak gili-gili yang indah di Pulau Lombok. Terletak di Lombok Timur. Oh ya, sebelumnya, gili itu adalah sebutan untuk pulau-pulau kecil yang ada di Lombok Dijamin gak bakal nyesel deh ke sini, sebab bisa mnyaksikan pemandangan pantai yang sangat indah, apalagi bagi Anda penyuka sunset, di sinilah tempatnya . Di sini, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan pasir bergelombang yang indah banget sambil berfoto ria di bawah bendera merah putih yang tegak berdiri di tengah-tengah pulau. Selain itu, jika Anda adalah penyuka bintang laut, maka disinilah Syurganya. Bintang laut bisa ditemui dengan mudah dan jumlahnya banyak banget. Anda bisa mengambilnya untuk kemudian selfie atau groufie bareng. Anda juga bisa berkreasi dengan membentuk tulisan-tulisan atau tanda I lOVE U misalnya. Tapi, jangan lupa ya, dikembalikan lagi ke habitatnya, dan jangan di bawa pulang he he. Oh ya, terakhir, Anda harus ke sini di sore hari, sebab Gili Pasir hanya muncul di saat air laut surut. Untuk ke sini anda bisa naik perahu dari Pantai Pink atau Tanjung luar. Welcome to Lombok!

Monday, 10 October 2016

Kolonialisme kemarin dan hari ini?

Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Mungkin salah satu indicator sederhana untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah ‘daging dan buah.’ Apa hubungannya? Well, pertanyaan yang muncul kemudian adalah berapa kali rakyat bisa makan daging dalam seminggu atau misalnya sebulan? Dan berapa kali rakyat bisa beli buah dalam seminggu? Sebuah penelitian mengatakan bahwa konsumsi daging orang Indonesia adalah 1/10 dari orang Malaysia. Jadi, kalau orang Malaysia mengkonsumsi daging satu kg seminggu maka orang Indonesia hanya mengkonsumsi kurang lebih satu ons seminggu. Itu kita berbicara rata-rata dengan menjumlahkan antara konsumsi orang kaya dengan orang miskin, yang bisa saja bahkan orang miskin tidak pernah/jarang sekali mengkonsumsi daging dalam seminggu, sebulan bahkan setahun. Di kampung saya daging adalah satu barang mewah sebab tidak semua dan tidak setiap hari orang bisa mengkonsumsi daging. Daging hanya dikonsumsi pada saat-saat tertentu seperti Hari raya, hajatan, syukuran, dan acara-acara besar lainnya. Di luar itu, orang sangat-sangat jarang bisa mengkonsumsi daging, yang bisa membelinya hanya kalangan menengah ke atas. Dan mungkin fenomena ini tidak hanya terjadi di kampung saya, tapi juga hampir di seluruh tempat di Indonesia. Tentu ini sangat memprihatinkan, sebab Indonesia sebagai negara yang sangat kaya belum mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Begitupun dengan buah, harganya sungguh mencekik bagi kalangan bawah (kalau kalangan atas sih jangan ditanya). Jangankan untuk beli buah, untuk makan pun susah. Mungkin untuk buah-buah seperti pisang, papaya, jambu, sawo, dll bisa di jangkau sebab harganya lumayan murah, tapi itupun tidak setiap hari mereka bisa membeli. Tapi untuk buah-buahan elit seperti pear, anggur merah, apel merah, anggur hijau, dll yang harganya sudah 50an ribu bahkan ratusan ke atas, ini menjadi sangat sulit bisa diperoleh sama rakyat kelas bawah. Tentu ini menjadi paradoks tersendiri bagi bangsa ini di tengah semboyan yang sering kita elu-elukan “ Gemah ripah loh jinawi.” Saya tidak ingin mengatakan kemudian bahwa kita harus pesimis dengan kondisi ini, tidak. Sebab saya juga adalah orang yang percaya bahwa kejayaan Indonesia itu pasti akan datang. It is just the matter of time. Tapi saya ingin mengajak kita semua untuk berfikir kritis dan realistis bahwa dari dulu sampai sekarang kita masih tetap mengalami hal yang sama; kebutuhan perut belum tercukupi dengan baik. Mari kita sama-sama membuka mata. Jika dulu kita menghadapi kolonialisme dengan penjajah yang jelas, maka hari ini kita juga menghadapi koloniaisme tapi tidak jelas siapa penjajahnya. Jika dulu orang-orang kelaparan banyak, maka hari ini pun masih sama. Jika dulu orang kaya menindas orang miskin, maka hari ini pun masih sama. Mungkin hanya namanya yang berbeda. Atau bisa kita katakan Borjuis dan proletar dalam bentuk yang berbeda. Orang kaya tetap kaya , yang miskin tetap miskin. Orang yang bisa bertahan dan diuntungkan hanya orang yang memiliki ‘capital’ atau modal, sementara orang-orang yang tidak punya modal harus siap tergilas dan tertindas. Dr herdi (doktor di Cornell University) dalam disertasinya ketika ditanya “ apa permasalahan di negerimu?” beliau menjawab bahwa salah satu permasalahan bangsa ini adalah uang atau modal hanya di miliki oleh segelintir orang (bisa dihitung dengan jari), sementara rakyat yang selainnya hanya bia jadi peonton. Jika kita menganalogikan kondisi ini dengan piramida kapitalismenya Marx, maka mereka yang pemilik modal tadi adalah kaum aristokrat, sementara presiden, gubernur, bupati, menteri-menteri, dan pejabat-pejabat lainnya dari tingkat nasional sampai daerah adalah kaum borjuis dengan segala tingkatannya (mulai dari borjuis kelas atas smapai kelas bawah), dan yang terakhir adalah para buruh (tani, nelayan, industry, dan lain-lain) adalah kaum proletar yang menopang kehidupan kaum borjuis, yang mereka selalu menjadi korban. Kaum aristocrat mengatur kaum borjuis, dan kaum borjuis mengatur kaum proletar. Mungkin ini bisa jadi jawaban kenapa kemudian permasalahan korupsi, penegakan hukum, kasus mafia, dan lain-lain tida selesai-selesai. Sebab istilahnya ada ‘invinsible eye’ yang turut campur dalam permasalahan bangsa ini. Ketika pemilihan presiden, saya sempat bertanya kepada salah satu masyarakat di kampung saya siapa yang akan dipilihnya. Dia kemudian menjawab bahwa siapapun presidennya maka hidup saya akan tetap seperti ini, mau presidennya si A, B, atau C. hal ini mengindikasikan bahwa negara belum hadir pada ruang-ruang yang sangat kritis yaitu rakyat itu sendiri. Kita adalah bangsa yang semangat dasarnya adalah gotong royong, kita memiliki semangat social yang tinggi. Tapi keadaan semakin lama menjauhkan kita dari semangat dasar kita menjadi sikap individualis yang cenderung apatis. Dan semoga kita tidak terjebak dalam liberalisme kapital yang pada akhirnya bisa menjerumuskan. Dan sepertinya demokrasi kita sedang menuju ke arah sana; demokrasi liberal. Padahal sejarah sudah membuktikan bahwa demokrasi liberal tidak akan mampu bertahan lama. Jadi, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Secara de jure dan de facto memang iya, tapi secara nilai dan hakikat kemerdekaan, mungkin jawabannya tidak. Tulisan ini terinspirasi dari hasil kunjungan dan diskusi Bidang HLN (Hubungan Luar Negeri PP (Pengurus Pusat) KAMMI) dengan Dr Herdi Sahrasad (Dosen sospol Universitas Paramadina)

Thursday, 6 October 2016

Kebudayaan sebagai teks

Sebelum ke sana kita perlu menjelaskan beda antara budaya dan kebudayaan. Ada banyak sekali definisi tentang budaya dan kebudayaan. Tapi, secara umum bisa kita artikan Budaya adalah konsep atau gagasan, sementara kebudayaan adalah hasil. Definisi yang paling ppuler tentang kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Jadi apa itu kebudayaaan sebagai teks? Kebudayaan sebagai teks bisa kita katakana kemudian adalah sesuatu yang berwujud yang tidak berada dalam batin, tetapi antara masyarakat sebagai sesuatu sesuatu yang harus di baca dan ditafsirkan. Untuk mengkaji kebudayaan sebagai teks bisa dengan pendekatan hermeneutika yaitu pertemuan cakrawala teks dengan cakrawala penafsir. Ada empat pendekatan dalam strukturalisme yang bisa digunakan yaitu 1. Pendekatan pengirim Dalam menganalisis menggunakan pendekatan ini kita harus memperhatikan posisi pengirim dan maksud pengirimnya apa. Posisi pengirim misalnya latar belakangnya baik social, budaya, politik maupun pendidikan. Apakah ada trauma yang akhirnya mempengaruhi karyana atau tidak. Pengirim di sini bisa berupa penulis, sutradara, seniman, politisi. Intinya seseorang yang memproduksi sebuah karya, baik karya sastra, sinematografi, dan lain-lain. dan pendekatan ini adalah pendekatan yang paling klasik yang biasa dipakai kebanyakan orang 2. Pendekatan penerima Pendekatan ini lebih menekankan kepada makna yang terkandung di dalamnya yang kemunginan besar akan ditangkap seperti apa oleh audience (penikmat sastra, film, pidato, dan lain lain) 3. Pendekatan konteks Pendekatan konteks adalah refleksi dari ruang dan waktu tertentu. Jadi, penting sekali mengetahui kapan dan di mana terjadinya sehingga kita bisa menangkap latar belakang social, budaya dan lainnya yang berakitan dengan keberadaan ruang dan waktu tersebut. Setiap karya memiliki epistemennya masing-masing. Misalnya teks-teks karya sastra masa pertengahan, colonial, orde baru, orde lama, dan masa reformasi. Teks-teks di masa tersebut akan memiiki atributnya (ciri) masing-masing. Atau misalnya tema-tema yang universal seperti tema cinta, kematian, dll ketika disuguhkan dalam karya, isinya akan memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri bergantung pada ruang dan waktunya. 4. Pendekatan tekstual (teks lain) Pendekatan ini bisa kitakatakan adalah pendekatan formalism, strukturalisme dan semiotik. Misalnya contohnya adalah mencari makna instrinsik dalam sebuah karya. Lalu pertanyaan yang muncul adalah apa sih pentingnya menentukan sudut pandang ketika akan mengkaji teks? Ada contoh menarik terkait hal itu. Seorang supir truk memarkir truknya di pinggir jalan karena kelelahan dan akhirnya tertidur. Tidak berapa lama, diketuklah pintu truknya dan ada yang bertanya arah jalan menuju Cikampek ke mana. Beberapa kali ada yang bertanya seperti itu hingga ia merasa tergangggu dan tidak bisa tertidur. Dan akhirnya dia berinisiatif menulis kertas dan ditempel di pintu truk “ TIDAK TAHU JALAN ARAH CIKAMPEK.” Dan tidak berapa lama kemudian diketuk lagi pintunya dan ada orang berkata; “Pak saya kasih tahu arah Cikampek!” Contoh tersebut mengindikasikan bahwa sesuatu karya pemaknaannya bisa berbeda dan bermacam-macam tergantung dari sudut pandang yang dipakai. Dan oleh karena itu sangat penting menggunakan sudut pandang atau pendekatan yang jelas dalam hal ini, bisa pendekatan pengirim, penerima, tekstual ataupun konteks. Ada beberapa macam pendekatan Tekstual, yaitu: 1. Formalisme 2. Strukturalisme 3. Neocritism 4. Semiotic 5. Dekonstruksualisme Teks dalam Strukturalisme Teks dalam Strukturalisme adalah teks itu sendiri. Ada beberapa kritik strukturalisme: 1. Ahistoris : Maksudnya di sini adalah teks tidak mempertimbangkan konteks social, seolah-olah teks itu lahir dari ruang hampa. 2. Mengabaikan subjek dan konteks di mana kadang teks tersebut tidak memperdulikan pengarang seperti latar belakangnya, yang padahal itu sangat berpengaruh dalam ‘rasa’ suatu teks. 3. Terkadang dianggap kering karena makna hanya bergantung pada teks. Semiotik adalah perluasan dari Strukturalisme Semiotic menurut Barthe adalah strktur sebagai tanda. Mitos yang berkembang tidak lagi tentang dewa-dewa, dewi-dewi, atau cerita-cerita kuno lainnya, tapi mitos sudah mengalami perluasan makna sebagai sebuah tanda. Misalnya ketika kita mendengar kata ‘hijau’ maka konotasi dan asosiasi kita tidak hanya tentang warna tapi juga bisa berupa’ natural,’ ‘partai islam’, lingkungan’, dan lain-lain. Mitos bisa menjadi sebuah ideologi ketika memengaruhi cara berfikir dan tindakan orang lain/orang banyak. Misalnya ketika ‘hijau’ tadi dikonsepsikan sebagai ‘natural’ yang dalam hal ini berkaitan dengan lingkungan, maka orang bisa saja merubaha pola piker dan pola hidupnya dengan beralih ke sesuatu yang ramah lingkungan. Misalnya dengan menggunakan beras organic, atau hidup tanpa teknologi, atau tidak memakai AC, dan lain-lain. Dekonstruksi Dalam dekonstruksi ada istilah oposisi biner yaitu suatu makna diketahui karena perbedaannya. Misalnya kita tahu ada gelap karena ada terang, ada siang karena ada malam, begitu seterusnya. Derida mengatakan ada hierarki dalam oposisi biner; ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah. Misalnya : Laki-laki – perempuan, -susah – senang, terang-gelap, dst. Tapi kemudain dalam konteks laki-laki dan perempuan adanya wacana kesetaraan gender memberika ruang yang sama antara laki-laki dan perempuan, bahwa tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, yang mana gender kemudia menempatkan perempuan di pusat, bukan hanya di pinggir. Note: tulisan ini adalah catatan-catatan dari kuliah Teori Kebudayaan. Jika ada yang kurang sila dilengkapi, kalau ada yang salah sila dikoreksi.
 

Azkia Rostiani Rahman Template by Ipietoon Cute Blog Design